Maestro Nasirun Berpulang: Seniman Besar yang Tetap Membumi

Maestro Nasirun, perupa kenamaan Indonesia, telah berpulang. Dikenal sebagai sosok rendah hati yang karyanya mendunia, kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Maestro Nasirun Berpulang: Seniman Besar yang Tetap Membumi
Maestro Nasirun, perupa kenamaan Indonesia, telah berpulang. Dikenal sebagai sosok rendah hati yang karyanya mendunia, kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni. (AntaraNews)

Dunia seni rupa Indonesia berduka atas berpulangnya Maestro Nasirun, salah satu perupa terkemuka Tanah Air. Seniman yang dikenal dengan karya-karyanya yang mendunia ini menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (1/8) pagi. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, sahabat, dan seluruh komunitas seni.

Ratusan pelayat memadati kompleks Perum Bayeman Permai, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tempat jenazah Nasirun disemayamkan. Karangan bunga berjejer panjang, mengiringi lantunan ayat suci Al-Qur'an yang menggema dari rumah duka.

Sosok yang selama puluhan tahun dikenal sebagai seniman besar yang rendah hati ini mendapat penghormatan terakhir dari berbagai kalangan. Teman, keluarga, kolega, pejabat, seniman, hingga warga sekitar larut dalam suasana duka, mengantar kepergian Nasirun kembali ke pangkuan Ilahi.

Sosok Rendah Hati yang Membumi

Di balik reputasinya yang mendunia, Maestro Nasirun dikenal sebagai pribadi yang sederhana, ramah, dan tidak pernah merepotkan orang lain. Ketenarannya tidak pernah mengubah cara ia memandang sesama, menjadikannya tetap membumi meski karyanya melanglang buana.

Jumaldi Alfi Chaniago, rekan sesama seniman sekaligus adik tingkat Nasirun saat menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengenal dekat sosok ini. Bagi Alfi, Nasirun adalah pribadi yang sangat rendah hati, tidak pernah besar kepala saat dipuji, dan tidak sakit hati ketika dicela.

Alfi menggambarkan Nasirun sebagai “orang yang sudah lost stang” atau “orang yang sudah selesai dengan dirinya” dalam dunia tasawuf. Ia tidak terikat pada hal-hal duniawi, bahkan membalas celaan dengan tawa.

Selain kerendahan hatinya, Nasirun juga dikenal gemar berbagi dan memiliki perhatian besar kepada seniman muda. Ia selalu berusaha membantu siapa pun yang kesulitan, bahkan rela memberikan rotinya kepada orang lapar di sebelahnya.

Kabar Duka yang Mengejutkan Rekan Seniman

Kepergian Maestro Nasirun menjadi kejutan bagi banyak pihak, termasuk Jumaldi Alfi Chaniago yang tinggal berdekatan dengannya. Alfi mengaku terakhir bertemu Nasirun pada Jumat sore dan sempat berbincang seperti biasa.

"Terakhir ketemu itu Jumat sore. Saya sendiri pas dikasih tahu tadi pagi langsung kaget sekali karena tidak menyangka," kata Alfi. Dua hari sebelumnya, mereka bahkan masih menghadiri pameran seni dan bercanda bersama.

Alfi memang sempat melihat kondisi fisik Nasirun kurang sehat beberapa hari terakhir, namun ia mengira itu hanya pengaruh cuaca dingin Yogyakarta. Kabar duka datang pada Sabtu sekitar pukul 05.50 WIB, setelah Nasirun dilarikan ke rumah sakit karena sesak napas berat.

Berdasarkan informasi keluarga, Nasirun telah mengalami sesak napas selama tiga hari, namun tidak pernah mengeluhkan kondisinya. Alfi baru mengetahui bahwa sahabatnya itu mengidap pneumonia dan penyakit asam lambung.

Inspirasi Tanpa Gawai di Era Digital

Kerendahan hati Maestro Nasirun juga dikagumi oleh musisi Marzuki Mohamad, personel Jogja Hip Hop Foundation. Penampilannya yang nyentrik, sederhana, ramah, dan ringan tangan menjadi inspirasi tersendiri baginya.

Marzuki sangat mengagumi keputusan Nasirun untuk tidak bergantung pada gawai di tengah derasnya arus digitalisasi. Pilihan ini menjadi ciri khas yang membedakannya dari banyak seniman lain yang kerap mempertimbangkan algoritma media sosial.

"Nah Pak Nasirun ini tidak. Dia tidak mau terpenjara oleh tuntutan algoritma media sosial itu dan karyanya pun tetap kontekstual," ujar Marzuki. Ini menunjukkan fokus Nasirun pada esensi karya dibandingkan popularitas digital.

Sastrawan dan budayawan R. Gabriel Possenti Sindhunata, atau Romo Sindhu, juga menyampaikan pandangan serupa. Bagi Romo Sindhu, Nasirun adalah pribadi yang penuh tawa, bebas, dan tidak ingin terikat oleh apa pun, termasuk gawai.

"Itu menandakan bahwa ia tidak tergantung apa pun, termasuk kemajuan maupun fasilitas," kata Romo Sindhu. Tanpa telepon genggam pun, hubungan sosial Nasirun tetap terjalin erat karena ia selalu hadir dan membantu banyak orang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi