Pramono Anung Tekankan Kebaya Identitas Budaya Jakarta

Pemprov DKI mendorong kebaya sebagai identitas budaya Jakarta. Pramono Anung menyiapkan ruang publik untuk ekspresi seni dan tradisi. Simak penjelasannya.

Delvira Hutabarat
Oleh Delvira Hutabarat - Reporter
Pramono Anung Tekankan  Kebaya Identitas Budaya Jakarta
<p>Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Rusun Tambora, Jakarta Barat, pada Rabu (26/3/2025). (Dok Pemprov DKI) </p>

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan penguatan identitas budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan kota. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendorong kebaya menjadi salah satu penanda budaya Jakarta, sekaligus memperluas ruang ekspresi kebudayaan di ibu kota.

Ia mengingatkan pembangunan tidak boleh semata berorientasi pada infrastruktur fisik dan pertumbuhan ekonomi. Sebagai kota yang multikultural, multietnis, dan terbuka, Pemprov DKI berkomitmen memberikan ruang seluas-luasnya bagi ekspresi seni dan tradisi.

Langkah itu antara lain dengan menyiapkan ruang-ruang publik strategis untuk kegiatan kebudayaan, dari Balai Kota, Kota Tua, Lapangan Banteng, hingga kawasan Maramis. Upaya ini disampaikan Pramono bersamaan dengan dorongan pelestarian kebaya lintas etnis di Jakarta.

"Inilah yang namanya budaya kita, kita rawat bersama-sama. Apalagi kebaya ini merupakan warisan budaya takbenda yang sudah diakui UNESCO. Kalau bukan kita yang merawat, pasti tidak ada," ujar Pramono Anung, Sabtu (1/8/2026).

Ruang Publik untuk Ekspresi Kebaya dan Seni Tradisi

Pemprov DKI menyiapkan Balai Kota, kawasan Kota Tua, Lapangan Banteng, hingga kawasan Maramis sebagai panggung terbuka untuk pertunjukan seni dan budaya tradisional. Ruang-ruang ini diproyeksikan aktif menggelar berbagai agenda kebudayaan.

Pramono juga menekankan pentingnya pelestarian kebaya lintas etnis, mulai dari kebaya Betawi, Enci, Jawa, Madura, hingga ragam kebaya dari berbagai daerah di Nusantara. Kebijakan ini dimaksudkan agar tradisi tetap hidup di tengah dinamika kota modern.

Menurutnya, penguatan identitas budaya merupakan bagian dari karakter utama kota dan perlu berjalan beriringan dengan agenda transformasi Jakarta. Pemprov DKI membuka kolaborasi dengan komunitas dan masyarakat untuk memperkuat keberlanjutan ekosistem budaya.

"Kharisma Batavia Menuju Jakarta" di Balai Kota

Pemprov DKI Jakarta bersama Perhimpunan Kebayaku menyelenggarakan perhelatan budaya bertajuk "Kharisma Batavia Menuju Jakarta" di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian menyambut 500 Tahun Kota Jakarta pada 2027.

Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Pramono Anung, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, serta para duta besar negara sahabat. Kehadiran berbagai pihak menegaskan ruang kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat.

Mengusung tema "Kharisma Batavia Menuju Jakarta", perhelatan ini dirancang sebagai wadah strategis untuk memperkuat pelestarian budaya lokal di tengah transformasi Jakarta menjadi kota global yang modern, namun tetap berakar pada identitas dan tradisi. Pada kesempatan yang sama, Pramono menyampaikan apresiasi kepada Perhimpunan Kebayaku atas konsistensi dan dedikasinya melestarikan kebaya melalui kegiatan kreatif lintas generasi.

Refleksi Makna Kebaya Menurut Perhimpunan Kebayaku

Ketua Perhimpunan Kebayaku Nunun Daradjatun menyebut tema acara merupakan refleksi perjalanan panjang yang mengajak masyarakat kembali menghayati akar budaya bangsa. Menurutnya, kota besar berdiri di atas fondasi sejarah dan nilai-nilai luhur yang diwariskan lintas generasi.

"Batavia mungkin sudah berganti nama menjadi Jakarta sekarang. Tetapi sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung dan jalan-jalan, melainkan dibangun oleh sejarah, nilai-nilai yang diwariskan, serta budaya yang hidup di tengah masyarakat Jakarta dan Betawi," ujar Ketua Perhimpunan Kebayaku Nunun Daradjatun.

Nunun menekankan, kebaya adalah warisan budaya yang dinamis; ia tumbuh dan beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan akar identitasnya. Pelestarian kebaya tidak hanya menyangkut busana, tetapi juga pengetahuan dan praktik budaya yang menyertainya.

Lebih dari sekadar estetika, kebaya menyimpan kisah tentang ketulusan dan ketangguhan perempuan Indonesia dalam merawat nilai-nilai kehidupan sekaligus meneguhkan jati diri bangsa. Rangkaian acara turut dimeriahkan berbagai pertunjukan seni dan budaya.

Rekomendasi