Ketum PBNU: Tidak Ada Alasan untuk Memakzulkan Jokowi

Gus Yahya pun meminta semua pihak untuk tidak berlarut-larut dalam isu pemakzulan Jokowi tersebut.

Erwin Yohanes
Oleh Erwin Yohanes - Reporter
Ketum PBNU: Tidak Ada Alasan untuk Memakzulkan Jokowi
Ketum PBNU: Tidak Ada Alasan untuk Memakzulkan Jokowi (Merdeka.com)

Menurut Gus Yahya, isu tersebut hanya dilontarkan sekenanya oleh kelompok tertentu.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf menyebut tidak ada alasan atau keadaan yang memungkinkan untuk melakukan pemakzulan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).
 
"Lha itu apa lagi? Wong enggak ada urusannya. Wong ndak ada alasan, tidak ada keadaan yang memungkinkan dan seterusnya," kata Gus Yahya di Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Senin (15/1).
 
Gus Yahya pun meminta semua pihak untuk tidak berlarut-larut dalam isu pemakzulan Jokowi tersebut. Menurutnya, isu tersebut hanya dilontarkan sekenanya oleh kelompok tertentu.
 

Dia pun mengajak semua pihak untuk lebih memilih memikirkan masa depan bangsa Indonesia.

Dia pun mengajak semua pihak untuk lebih memilih memikirkan masa depan bangsa Indonesia.<br>
Dok. Istimewa

"Sudahlah. Sebetulnya ini cuma orang bikin isu yang sedapatnya saja. Mari kita berkonsentrasi pada masa depan bangsa dan negara," ujarnya.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan Presiden Jokowi fokus menjalankan tugas-tugas selama sembilan bulan sisa masa jabatannya. Menurut Moeldoko, Jokowi enggan menanggapi isu pemakzulan dirinya.

“Presiden masih sangat concern untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang tinggal beberapa bulan lagi. Ini kita gas habis-habisan, kita gas pol istilahnya, untuk menuntaskan berbagai program pemerintah,” 

ujar Moeldoko ketika ditemui di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Senin (15/1).

merdeka.com

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Moeldoko meminta masyarakat untuk fokus pada penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) pada Februari mendatang. Bukan menciptakan agenda nonproduktif, seperti wacana pemakzulan presiden.

Terlebih, menurut dia, pemerintah juga sangat concern mengikuti jalannya pemilu yang baik di Indonesia.

Terlebih, menurut dia, pemerintah juga sangat&nbsp;concern&nbsp;mengikuti jalannya pemilu yang baik di Indonesia.<br>
© 2024 merdeka.com

“Jadi jangan membuat suasana (negatif), karena kita sedang fokus pada penyelenggaraan pemilu. Jangan ada agenda-agenda lain yang menurut saya tidak produktif bagi masyarakat dan bagi pemerintah,” ujar Moeldoko.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com

Moeldoko mengklaim pemerintah dan Presiden Jokowi justru mendapat apresiasi yang sangat tinggi dari masyarakat Indonesia atas kepemimpinannya.

Awal Mula Muncul Isu Pemakzulan
 
Isu pemakzulan muncul ketika sejumlah tokoh yang tergabung dalam Petisi 100 mendatangi kantor Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD pada 9 Januari lalu. Mereka mengusulkan pemakzulan Presiden Jokowi.
 
Mahfud menanggapi usulan tersebut dengan menjelaskan bahwa pemakzulan presiden membutuhkan proses yang panjang dan memakan waktu lama.

Sebab pemakzulan harus melibatkan DPR dan Mahkamah Konstitusi (MK).
 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Wacana pemakzulan Presiden Jokowi ini kemudian menuai pro dan kontra dari berbagai pihak, hingga menarik perhatian mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie.

Melalui akun X, Jimly menyebut isu pemakzulan presiden adalah pengalih perhatian karena ada pendukung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang panik dan takut kalah dalam pemilu.
 
Dalam waktu satu bulan menjelang pemungutan suara 14 Februari mendatang, dia menilai tidak mungkin dicapai keputusan pemakzulan dari DPR maupun MPR.
 
“Mari fokus saja sukseskan pemilu,” tutur Jimly.

Rekomendasi