Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, telah menyiapkan lahan seluas 20 hektare untuk pembangunan pusat Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Proyek strategis ini bertujuan untuk mengelola sampah di wilayah tersebut menjadi sumber energi alternatif. Lokasi lahan yang disiapkan berada di kawasan Kotabaru, Kecamatan Jati Agung, Minggu (12/4).
Pusat PSEL ini direncanakan memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga 1.000 ton per hari. Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menegaskan bahwa kabupatennya terlibat intensif dalam proyek regional ini. Inisiatif ini diharapkan dapat mengatasi persoalan sampah sekaligus mendukung ketersediaan energi.
Pembangunan PSEL ini menjadi langkah maju dalam pengelolaan sampah modern dan berkelanjutan di Lampung Selatan. Dengan dukungan pemerintah pusat dan provinsi, proyek ini diharapkan berjalan optimal. Ini juga akan menjadi solusi jangka panjang bagi masalah sampah di daerah.
Advertisement
Advertisement
Lokasi Strategis dan Kapasitas Besar PSEL Lampung Selatan
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan telah menunjuk kawasan Kotabaru, Kecamatan Jati Agung, sebagai lokasi pembangunan pusat PSEL. Lahan seluas 20 hektare telah disiapkan untuk menopang fasilitas pengolahan sampah modern ini. Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan aspek strategis untuk PSEL regional.
Pusat PSEL yang akan dibangun ini dirancang untuk memiliki kapasitas pengolahan sampah yang sangat besar. Dengan kemampuan mengolah 1.000 ton sampah per hari, fasilitas ini diharapkan mampu menampung volume sampah dari berbagai wilayah. Ini menunjukkan komitmen serius Lampung Selatan dalam mengatasi masalah sampah.
Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menyatakan bahwa kabupatennya menjadi salah satu daerah yang dilibatkan secara intensif dalam proyek ini. Kesiapan lahan yang luas menjadi faktor penentu keterlibatan Lampung Selatan. Proyek ini diharapkan menjadi model pengelolaan sampah terintegrasi.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Pengelolaan Sampah dan Peran Masyarakat
Meskipun memiliki potensi besar, pembangunan pusat PSEL di Lampung Selatan menghadapi sejumlah tantangan signifikan. Tantangan utama meliputi penerapan teknologi canggih dan kesiapan masyarakat dalam mendukung sistem pengelolaan sampah modern. Saat ini, Lampung Selatan memiliki dua Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Natar dan Kalianda.
Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program pengelolaan sampah ini. Pemerintah daerah menyadari pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Oleh karena itu, regulasi diperkuat sebagai fondasi pengelolaan sampah yang lebih terstruktur.
Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan telah menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 4 Tahun 2026. Perbup ini mengatur tentang Pengelolaan Kebersihan yang mendorong sistem pengelolaan sampah berbasis lingkungan dan partisipasi masyarakat. Program berbasis desa juga didorong agar masyarakat terbiasa hidup bersih.
Advertisement
Tantangan lain yang disoroti adalah menjamin suplai sampah sebagai bahan baku utama PSEL. Dengan cakupan wilayah yang luas, terdiri atas 256 desa dan 4 kelurahan, distribusi dan pengumpulan sampah menjadi pekerjaan besar. Sistem yang terintegrasi sangat dibutuhkan untuk memastikan kelancaran operasional PSEL Lampung Selatan.
Advertisement
Optimisme dan Dukungan untuk PSEL Berkelanjutan
Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan, Bupati Radityo Egi Pratama tetap optimistis proyek PSEL dapat berjalan optimal. Dukungan penuh dari pemerintah pusat dan provinsi dianggap krusial untuk kesuksesan program ini. Pengembangan PSEL dipandang sebagai solusi jangka panjang yang komprehensif.
Solusi ini tidak hanya bertujuan mengatasi persoalan sampah yang menumpuk, tetapi juga menghasilkan energi alternatif bagi daerah. PSEL menawarkan pendekatan ganda yang menguntungkan lingkungan dan ekonomi lokal. Ini sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan.
Bupati menegaskan dukungannya terhadap program ini, melihatnya sebagai langkah maju dalam pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan. Selain itu, kebutuhan operasional seperti listrik dan air yang cukup besar juga menjadi pertimbangan penting. Perencanaan matang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Advertisement
Sumber: AntaraNews