Kisah Haru Mudik Jalan Kaki Asep: Tempuh Ratusan Kilometer dari Bandung ke Ciamis Demi Keluarga

Asep Kumala Seta memilih mudik jalan kaki dari Bandung ke Ciamis, menempuh perjalanan ratusan kilometer karena keterbatasan biaya. Kisah perjuangan Mudik Jalan Kaki Asep ini menjadi potret keteguhan hati di tengah hiruk pikuk Lebaran.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kisah Haru Mudik Jalan Kaki Asep: Tempuh Ratusan Kilometer dari Bandung ke Ciamis Demi Keluarga
Kisah inspiratif Asep Kumala Seta, pedagang cilok yang nekat menempuh perjalanan mudik jalan kaki dari Bandung ke Ciamis demi bertemu keluarga, meski hanya berbekal cilok dan sirup sebagai THR. (AntaraNews)

Asep Kumala Seta (31) memulai perjalanan mudik yang luar biasa pada Selasa (17/3) malam, melangkah kaki dari Cibaduyut, Kota Bandung, menuju kampung halamannya di Sindangkasih, Kabupaten Ciamis. Di tengah arus kendaraan pemudik yang padat di Nagreg, Kabupaten Bandung, Asep teguh pada pilihannya untuk menempuh rute ini dengan berjalan kaki. Perjalanan panjang ini merupakan bentuk perjuangan demi bisa berkumpul kembali dengan keluarga di momen Lebaran.

Berangkat sejak pukul 12.00 WIB siang, Asep hanya berbekal tas sederhana berisi pakaian secukupnya, sisa dagangan cilok, dan perlengkapan seadanya. Ia memilih cara mudik ini karena keterbatasan biaya, sebuah realita yang mendorongnya untuk menantang terik matahari dan dinginnya angin malam. Setiap langkahnya menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan materi bukanlah penghalang untuk bertemu keluarga tercinta.

Selama dua tahun merantau di Bandung sebagai penjual cilok, Asep menghadapi tekanan ekonomi yang berat, dengan penghasilan yang kerap tidak menentu. Kondisi ini membuatnya kesulitan menyisihkan uang untuk transportasi umum, sehingga mudik jalan kaki menjadi satu-satunya pilihan yang memungkinkan. Kisahnya menyoroti sisi lain dari tradisi mudik yang penuh perjuangan dan harapan.

Perjalanan Penuh Tantangan dan Harapan

Asep tidak sepenuhnya berjalan kaki sepanjang perjalanan. Ia sesekali mengandalkan tumpangan truk atau kendaraan barang yang melintas untuk meringankan langkahnya. Dari Terminal Leuwipanjang, ia sempat menaiki bus Damri hingga Bundaran Cibiru, lalu menumpang truk hingga Rancaekek sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Namun, perjalanan tidak selalu mulus. Sebuah insiden terjadi saat Asep mencoba menumpang truk di Nagreg, yang justru membawanya ke arah Kadungora, Kabupaten Garut, bukan ke Ciamis. Ia segera meminta turun dan kembali berjalan kaki menuju Limbangan, menunjukkan keteguhan tekadnya meski menghadapi rintangan.

Untuk beristirahat, Asep memanfaatkan masjid atau emperan toko di sepanjang jalan. Ia berhenti sejenak untuk merebahkan badan saat lelah, kemudian melanjutkan langkahnya kembali. Meskipun pernah merasa tidak nyaman karena pertanyaan orang atau disangka yang bukan-bukan saat beristirahat di tempat umum, semangatnya untuk pulang tidak pernah padam.

Keterbatasan Ekonomi Pendorong Mudik Jalan Kaki

Asep mengungkapkan bahwa penghasilannya sebagai penjual cilok di Cibaduyut seringkali tidak menentu. Ia memiliki kewajiban menyetor Rp70.000 setiap hari kepada bosnya, sementara keuntungan yang ia bawa pulang seringkali tidak lebih dari Rp50.000. Penjualan yang anjlok belakangan ini semakin memperparah kondisi keuangannya.

Kondisi ekonomi ini membuatnya tidak mampu menyisihkan uang untuk tiket bus, menjadikannya terpaksa memilih mudik jalan kaki. Bahkan, Asep mengaku tidak menerima Tunjangan Hari Raya (THR) dalam bentuk uang, melainkan hanya 50 butir cilok dan sebotol sirup. Ini menggambarkan betapa sulitnya situasi finansial yang ia hadapi.

Bagi Asep, berjalan kaki untuk mudik bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Ia menyatakan bahwa jika ongkosnya pas pun, ia jarang naik bus dan lebih memilih berjalan kaki sambil berharap tumpangan truk. Pilihan ini menunjukkan adaptasinya terhadap keterbatasan dan kemampuannya untuk bertahan.

Pengalaman Hidup dan Harapan Akan Masa Depan

Asep, yang lahir pada tahun 1995, telah menjalani berbagai pekerjaan keras sepanjang hidupnya. Sebelum berjualan cilok, ia pernah menjadi buruh proyek bangunan dan pekerjaan serabutan lainnya. Ia bahkan sempat menjadi nelayan di Indramayu sekitar dua tahun lalu, menunjukkan pengalamannya dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Pengalaman ini membuatnya terbiasa dengan situasi sulit, termasuk berjalan jauh. Asep mengaku sering mendaki gunung seperti Puncak Mega Bandung di waktu senggang, yang memberinya keyakinan untuk menempuh perjalanan panjang ke Ciamis. Ia memperkirakan bisa tiba pada pagi hari jika terus berjalan tanpa henti, meskipun tetap berharap ada tumpangan truk.

Di Sindangkasih, keluarga Asep telah menanti kepulangannya setelah dua tahun merantau. Namun, perjalanan pulang ini bukan akhir dari perjuangannya. Setelah Lebaran, Asep berencana kembali merantau dan mempertimbangkan untuk kembali bekerja sebagai nelayan, menunjukkan semangatnya untuk terus berjuang demi masa depan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi