Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XIV Kalimantan Timur dan Utara mengambil langkah strategis untuk melestarikan kekayaan budaya Indonesia. Lembaga ini secara resmi mengusulkan tradisi berbuka puasa atau iftar berbasis kearifan lokal agar dapat didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. Inisiatif ini diharapkan dapat mengangkat nilai-nilai budaya lokal ke kancah internasional.
Kepala BPKW XIV Kaltimtara, Titit Lestari, menjelaskan bahwa upaya ini bertujuan memperluas pendaftaran tradisi buka puasa Indonesia di dunia. Langkah ini juga mengikuti usulan serupa yang sebelumnya telah diajukan oleh negara Iran. Dialog budaya bertajuk 'Iftar dalam Perspektif Budaya Masyarakat Adat Kalimantan Timur' di Samarinda menjadi wadah pembahasan penting ini.
Dialog tersebut melibatkan tiga puluh tiga entitas dan tokoh kebudayaan setempat, menunjukkan dukungan luas terhadap pelestarian ini. Fokus utama adalah menyoroti keunikan dan keberagaman tradisi iftar yang ada di berbagai daerah Indonesia. Mulai dari kebiasaan membangunkan sahur hingga gema azan di Kalimantan, semuanya memiliki nilai budaya tinggi.
Advertisement
Advertisement
Keberagaman dan Kekayaan Kuliner Iftar Lokal
Indonesia memiliki ragam tradisi iftar yang kaya, mencerminkan kearifan lokal di setiap daerah. BPKW XIV Kaltimtara menginventarisasi berbagai kekayaan budaya ini untuk didaftarkan ke UNESCO. Keberagaman ini juga termasuk kebiasaan unik seperti membangunkan sahur menggunakan sirine di Sumatera Barat.
Selain tradisi, upaya pelestarian juga mencakup inventarisasi kuliner khas penunjang iftar yang sarat makna sejarah. Makanan-makanan ini tidak hanya lezat, tetapi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual berbuka puasa. Setiap hidangan memiliki cerita dan nilai budaya tersendiri yang perlu dijaga.
Beberapa kuliner khas yang diinventarisasi meliputi bubur peca, kue talam, penganan jenderal mabok, dan sajian manis amparan tatak. Hidangan-hidangan ini merupakan contoh nyata dari kekayaan gastronomi lokal. Antusiasme masyarakat Kalimantan Timur dalam merawat budaya kolektif ini sangat tinggi.
Advertisement
Hal ini terbukti dari sulitnya mencari tempat reservasi berbuka puasa bersama saat bulan suci tiba. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan masyarakat dengan tradisi iftar. Pelestarian kuliner ini menjadi bagian penting dari pengusulan Tradisi Iftar Lokal ke UNESCO.
Advertisement
Iftar sebagai Perekat Toleransi dan Kebersamaan
Kegiatan iftar di Kalimantan Timur bukan hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan juga ruang interaksi sosial yang kuat. Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Regional Kaltim, Syaharie Jaang, menekankan hal ini. Iftar mencerminkan tingginya nilai toleransi antarumat beragama di wilayah tersebut.
Jaang mencontohkan bahwa nilai persaudaraan lintas iman sangat kental terasa di lingkungannya. Kepanitiaan acara berbuka puasa bersama sering kali dikoordinasi secara sukarela oleh warga beragama non-Muslim. Ini menunjukkan semangat kebersamaan yang luar biasa.
Semangat kekeluargaan ini tercermin dari padatnya undangan berbuka puasa bersama, bahkan hingga empat kali sehari. Kondisi ini membuktikan bahwa iftar adalah perekat keberagaman warga di Kalimantan Timur. Tradisi ini memperkuat tali silaturahmi antarwarga.
Advertisement
Melalui dialog yang merefleksikan kearifan lokal ini, diharapkan dapat dihasilkan masukan komprehensif. Tujuannya adalah agar esensi kebersamaan di bulan puasa dapat terus diwariskan secara utuh kepada generasi muda. Inisiatif ini menjadi bukti nyata komitmen pelestarian budaya.
Sumber: AntaraNews