Pemerintah Aceh telah menetapkan target ambisius bagi ribuan korban bencana alam banjir bandang yang tersebar di berbagai kabupaten/kota. Mereka diharapkan dapat menempati hunian sementara (huntara) sebelum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah tiba. Langkah ini menjadi prioritas utama untuk mempercepat pemulihan kondisi masyarakat.
Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, menegaskan bahwa seluruh pengungsi juga akan menerima dana tunggu hunian (DTH). "Target kita sebelum Idul Fitri, seluruh masyarakat sudah masuk ke hunian sementara (Huntara) dan menerima dana tunggu hunian (DTH)," kata M. Nasir didampingi Bupati Aceh Barat, Tarmizi, di Meulaboh, Senin (9/3). Pernyataan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah.
Upaya percepatan pemindahan pengungsi dari tenda darurat menjadi fokus utama dalam bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Pemerintah terus berkoordinasi intensif dengan satgas yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri. Hal ini bertujuan untuk memastikan kelancaran proses relokasi.
Advertisement
Advertisement
Progres Pembangunan dan Komitmen Pemerintah
Progres pembangunan hunian sementara (huntara) di Provinsi Aceh dilaporkan telah mencapai angka 60 persen. Angka ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam upaya penyediaan tempat tinggal layak bagi para pengungsi. Pemerintah berkomitmen penuh untuk menyelesaikan pembangunan ini.
M. Nasir menyebutkan, pemerintah bertekad menuntaskan proses ini sebelum masa transisi menuju pemulihan berakhir pada 29 April mendatang. Setelah fase huntara rampung, langkah selanjutnya adalah rehabilitasi dan rekonstruksi. Tujuannya adalah membangun hunian tetap bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Koordinasi yang erat dengan satgas di bawah Kementerian Dalam Negeri terus dilakukan untuk mempercepat pemindahan. Hal ini memastikan bahwa tidak ada kendala berarti dalam proses penempatan pengungsi. Komitmen ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi ribuan keluarga yang terdampak.
Advertisement
Advertisement
Data Korban dan Sebaran Pengungsian di Aceh
Data dari Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh hingga Januari 2026 lalu menunjukkan skala dampak bencana yang masif. Sebanyak 91.962 jiwa dari 24.426 kepala keluarga (KK) masih bertahan di lokasi pengungsian. Mereka telah berada di tenda darurat sejak akhir November 2025.
Secara keseluruhan, bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh berdampak pada 2.584.067 jiwa atau 670.826 KK. Tragedi ini juga menyebabkan kehilangan nyawa, dengan 561 orang meninggal dunia dan 30 orang dilaporkan hilang. Angka-angka ini menggambarkan betapa parahnya situasi yang terjadi.
Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 33.261 jiwa atau 9.242 KK yang tersebar di 210 titik. Disusul oleh Kabupaten Gayo Lues dengan 18.944 jiwa atau 5.571 KK di 7 titik. Pidie Jaya juga mencatat 14.794 jiwa (4.037 KK) yang tersebar di 38 titik pengungsian.
Advertisement
Wilayah lain yang masih memiliki pengungsi signifikan meliputi Aceh Tamiang (6.052 jiwa), Aceh Tengah (5.306 jiwa), dan Bireuen (4.897 jiwa). Beberapa daerah seperti Aceh Timur, Nagan Raya, dan Bener Meriah juga masih menampung ribuan pengungsi. Bahkan Pidie dan Kota Lhokseumawe masih memiliki sejumlah pengungsi yang memerlukan bantuan.
Advertisement
Wilayah Terdampak dan Pemulihan
Meskipun banyak daerah masih berjuang dengan pengungsi, ada kabar baik dari beberapa wilayah. Dari 18 kabupaten/kota yang sebelumnya terdampak bencana, tujuh daerah dilaporkan tidak lagi memiliki titik pengungsian. Ini menandakan adanya kemajuan dalam upaya pemulihan di sana.
Daerah-daerah tersebut adalah Aceh Selatan, Subulussalam, Langsa, Aceh Barat, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, dan Aceh Besar. Keberhasilan ini menunjukkan efektivitas penanganan bencana di beberapa lokasi. Hal ini memberikan harapan bagi daerah lain yang masih dalam proses pemulihan.
Pemerintah Aceh terus berupaya memastikan seluruh korban bencana mendapatkan penanganan yang layak. Fokus utama adalah menyediakan tempat tinggal sementara yang aman dan nyaman. Langkah ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang untuk membangun kembali kehidupan masyarakat Aceh.
Advertisement
Sumber: AntaraNews