Abdul Muhaimin Iskandar, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, secara aktif mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menggalakkan budaya “Ayo Cerita” sebagai upaya fundamental. Inisiatif ini bertujuan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan remaja, memungkinkan mereka berbagi perasaan, pengalaman, serta persoalan tanpa rasa takut atau khawatir.
Dukungan terhadap gerakan ini disampaikan Muhaimin Iskandar dalam sebuah acara bertajuk “Meningkatkan Ketahanan Psikososial sebagai Fondasi Pemberdayaan Masyarakat” yang berlangsung di Jakarta, pada Jumat, 27 Februari 2026. Ia menekankan bahwa gerakan ini diharapkan dapat melibatkan semua pihak demi mewujudkan Indonesia yang sehat dan sejahtera.
Menurut Muhaimin Iskandar, setiap individu memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan psikososial anak, mulai dari mendengarkan dengan empati, melihat tanpa prasangka, hingga bertindak dengan kasih. Ia juga mendorong penguatan solidaritas komunal dan semangat voluntarisme sebagai fondasi gerakan bersama yang berkelanjutan.
Advertisement
Advertisement
Membangun Ruang Aman Melalui Gerakan Ayo Cerita
Gerakan “Ayo Cerita” diinisiasi untuk menyediakan platform yang aman dan suportif bagi anak-anak dan remaja di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah agar mereka dapat mengungkapkan isi hati dan pikiran mereka tanpa beban, sehingga dapat mencegah masalah psikososial yang lebih serius. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat sangat vital untuk keberhasilan gerakan ini, memastikan setiap anak merasa didengar dan dihargai.
Muhaimin Iskandar menegaskan bahwa partisipasi aktif dari keluarga, sekolah, dan komunitas adalah kunci dalam membentuk lingkungan yang peduli. Dengan adanya ruang aman ini, diharapkan anak-anak dapat mengembangkan ketahanan diri yang kuat menghadapi berbagai tekanan hidup. Pendekatan yang mengedepankan empati dan tanpa penghakiman akan membantu membangun kepercayaan diri pada generasi muda.
Inisiatif ini juga berupaya menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya kesehatan mental sejak dini. Dengan demikian, stigma negatif terhadap isu-isu psikologis dapat terkikis, dan anak-anak tidak ragu mencari bantuan atau dukungan saat mereka membutuhkannya. Solidaritas sosial menjadi pilar utama dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan suportif.
Advertisement
Advertisement
Mengatasi Tantangan Multidimensi Kesehatan Mental Anak
Menteri Koordinator Muhaimin Iskandar menyoroti berbagai masalah kompleks yang menjadi pemicu kasus anak mengakhiri hidup dalam beberapa waktu terakhir. Faktor-faktor seperti tekanan ekonomi keluarga, tuntutan pendidikan yang tinggi, kasus perundungan, hingga keterbatasan dukungan psikologis menjadi perhatian utama.
Persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan reaktif atau parsial, melainkan membutuhkan strategi kolaboratif dan berkelanjutan dari semua pihak. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 28 juta orang di Indonesia memiliki masalah kesehatan mental, sebuah angka yang mengkhawatirkan dan mengindikasikan fenomena gunung es yang lebih besar.
Kerentanan mental pada anak dan remaja bersifat multidimensi, sehingga penanganannya harus melibatkan seluruh ekosistem. Ini mencakup peran penting keluarga sebagai lingkungan pertama, sekolah sebagai tempat pendidikan, komunitas sebagai wadah interaksi sosial, tenaga profesional sebagai ahli, hingga pemerintah yang bertindak sebagai pembuat kebijakan dan penyedia fasilitas.
Advertisement
Advertisement
Strategi Kolaboratif untuk Ketahanan Psikososial yang Berkelanjutan
Untuk mengatasi kerentanan mental anak dan remaja, diperlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai sektor. Muhaimin Iskandar menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan masyarakat umum. Kolaborasi ini akan memastikan bahwa setiap aspek permasalahan dapat ditangani secara efektif dan berkelanjutan.
Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menyatakan kesiapannya untuk mendukung, melindungi, dan memajukan seluruh kinerja serta upaya yang telah dirintis dalam meningkatkan ketahanan psikososial. Komitmen ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan kesehatan mental anak sebagai prioritas nasional.
Melalui Dialog Solidaritas dan Partisipasi Publik, diharapkan akan lahir berbagai inisiatif konkret yang dapat diimplementasikan di tingkat lokal maupun nasional. Penguatan kapasitas komunitas dan penyediaan akses terhadap layanan dukungan psikologis yang terjangkau menjadi bagian integral dari strategi ini, demi masa depan generasi muda Indonesia yang lebih baik.
Advertisement
Sumber: AntaraNews