Aceh Tamiang Fogging Mendesak: Dinkes Butuh Bantuan Atasi Nyamuk Pascabanjir

Dinas Kesehatan Aceh Tamiang mendesak bantuan obat dan alat fogging untuk menekan populasi nyamuk pascabanjir. Ancaman demam berdarah meningkat, membuat Aceh Tamiang Fogging menjadi prioritas.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Aceh Tamiang Fogging Mendesak: Dinkes Butuh Bantuan Atasi Nyamuk Pascabanjir
Dinas Kesehatan Aceh Tamiang mendesak bantuan obat dan alat fogging untuk menekan populasi nyamuk pascabanjir. Ancaman demam berdarah meningkat, membuat Aceh Tamiang Fogging menjadi prioritas. (AntaraNews)

Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang (Dinkes Aceh Tamiang) menghadapi tantangan serius pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Peningkatan drastis populasi nyamuk di daerah ini membutuhkan penanganan segera. Untuk itu, Dinkes Aceh Tamiang mendesak bantuan obat dan alat fogging dari pemerintah pusat.

Kepala Dinkes Aceh Tamiang, Mustakim, mengungkapkan bahwa persediaan obat fogging akan habis dalam kurun waktu dua minggu ke depan. Situasi ini diperparah dengan rusaknya seluruh alat fogging milik dinas akibat terjangan banjir. Permintaan bantuan telah diajukan melalui surat resmi kepada Kementerian Kesehatan.

Kebutuhan mendesak ini bertujuan untuk mengendalikan penyebaran nyamuk di 216 desa, terutama di 35 titik pengungsian yang terdaftar di BPBD. Langkah cepat diperlukan guna mencegah potensi lonjakan kasus demam berdarah di tengah masyarakat Aceh Tamiang.

Keterbatasan Alat dan Obat Fogging di Aceh Tamiang

Mustakim menegaskan bahwa stok obat fogging yang dimiliki Dinkes Aceh Tamiang akan segera habis dalam dua minggu mendatang. Kondisi ini telah mendorong pihaknya untuk mengirimkan surat permohonan bantuan kepada Kementerian Kesehatan agar segera mendapatkan respons positif.

Selain masalah obat, seluruh alat fogging milik Dinkes Aceh Tamiang juga mengalami kerusakan parah akibat bencana banjir. Meskipun Kementerian Kesehatan telah memberikan bantuan dua unit alat fogging pada Desember pascabanjir bandang, jumlah tersebut dinilai sangat tidak memadai.

Dua unit alat fogging tersebut tidak cukup untuk menjangkau 216 desa yang tersebar di Kabupaten Aceh Tamiang. Untuk mengatasi keterbatasan ini, Dinkes Aceh Tamiang berkolaborasi dengan dinas kesehatan di sekitar kabupaten tersebut untuk melaksanakan fogging.

Upaya kolaboratif ini menunjukkan komitmen Dinas Kesehatan dalam menekan angka populasi nyamuk pada masa tanggap darurat banjir. Namun, bantuan tambahan tetap sangat dibutuhkan untuk penanganan yang lebih optimal.

Ancaman Demam Berdarah dan Permintaan Tambahan Alat

Untuk memaksimalkan upaya pengendalian nyamuk, Dinkes Aceh Tamiang mengajukan permintaan tambahan 14 unit alat fogging. Satu unit akan digunakan oleh Dinas Kesehatan, sementara 13 unit lainnya akan didistribusikan ke puskesmas-puskesmas di Aceh Tamiang.

Saat ini, dua puskesmas telah menggunakan dua alat fogging yang diterima dari Kementerian Kesehatan pada Desember lalu. Permintaan tambahan ini sangat krusial mengingat ancaman demam berdarah yang nyata.

Sejak Desember 2025 hingga Februari 2026, tercatat sudah ada 11 suspect atau terduga pasien demam berdarah di Aceh Tamiang. Peningkatan populasi nyamuk di 35 titik pengungsian juga sangat drastis, menjadi perhatian serius Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn) Armia Pahmi.

Selaras dengan perintah Bupati, Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang telah melakukan koordinasi lanjutan lintas sektoral untuk penanganan masalah ini.

Peran Masyarakat dan Pengelolaan Lingkungan Efektif

Selain upaya fogging, Mustakim juga mengimbau masyarakat Aceh Tamiang, khususnya yang berada di titik pengungsian, untuk aktif melakukan pengelolaan sampah dengan baik. Ia menekankan pentingnya membuang sampah ke dalam plastik dan menempatkannya dengan benar agar tidak terurai.

Edukasi mengenai pengelolaan sampah yang baik dinilai sangat perlu, sebab tanpa adanya manajemen sampah yang efektif, populasi nyamuk akan terus meningkat. Hal ini terjadi meskipun telah dilakukan pengasapan atau penyebaran abate.

Mustakim menjelaskan bahwa upaya pengasapan atau fogging beserta pemberian abate akan lebih optimal jika dibarengi dengan pengelolaan sampah secara rutin. Sinergi antara tindakan preventif dinas kesehatan dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menekan populasi nyamuk pascabanjir.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi