Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waaa mengimbau seluruh elemen masyarakat di daerah itu untuk menghargai potensi perbedaan penetapan awal puasa Ramadhan 1447 Hijriah. Imbauan ini disampaikan untuk menjaga kerukunan umat beragama di tengah perbedaan pandangan yang mungkin timbul.
Pernyataan tersebut disampaikan Rico Tri Putra Waaa saat menghadiri pemantauan rukyatulhilal yang dilakukan di Rootoop Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU) pada Selasa (17/2). Hadir pula sejumlah tokoh agama dan pemangku kepentingan terkait, seperti Ketua MUI Medan, Kepala Kemenag Medan, dan Rektor UMSU.
Wali Kota menegaskan bahwa perbedaan awal Ramadhan sudah sering terjadi dan tidak perlu dijadikan perdebatan di kalangan masyarakat. Ia menekankan pentingnya untuk fokus menjaga kualitas ibadah puasa di atas segala perbedaan yang ada.
Advertisement
Advertisement
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waaa secara langsung menyampaikan bahwa ada potensi perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah. Hal ini diungkapkannya saat menghadiri kegiatan pemantauan hilal yang melibatkan berbagai pihak, termasuk tokoh agama dan akademisi.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala OIF UMSU Arwin Juli Rakhmadi menjelaskan hasil rukyatulhilal yang dilakukan di langit Kota Medan. Menurutnya, hilal penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah tidak terlihat karena posisi hilal sudah minus setelah terbenam matahari pukul 18.39 WIB.
Dengan tidak terlihatnya hilal secara visual, Arwin Juli Rakhmadi menyatakan bahwa secara hisab, penentuan awal Ramadhan belum dapat ditetapkan untuk malam itu. Ini mengindikasikan bahwa metode hisab yang digunakan oleh beberapa pihak belum memenuhi kriteria untuk memulai puasa.
Advertisement
Advertisement
Perbedaan penetapan awal Ramadhan seringkali disebabkan oleh penggunaan metode yang beragam, yaitu metode rukyatulhilal (melihat hilal) dan metode hisab (perhitungan astronomi). Di Medan, hasil rukyatulhilal menunjukkan hilal tidak terlihat, sehingga secara hisab belum bisa ditetapkan sebagai 1 Ramadhan.
Namun, Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam besar di Indonesia, telah menetapkan awal Ramadhan berdasarkan metode parameter global. Metode ini mempertimbangkan ketinggian hilal yang sudah terpenuhi di wilayah lain seperti Alaska atau Amerika, dengan kriteria minimal 5 derajat.
Arwin Juli Rakhmadi menjelaskan bahwa panduan Muhammadiyah ini menjadi dasar penetapan awal Ramadhan bagi anggotanya, meskipun hilal tidak terlihat di Medan. Perbedaan metodologi inilah yang kemudian memunculkan potensi perbedaan awal puasa di tengah masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Menyikapi potensi perbedaan awal puasa Ramadhan, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waaa mengimbau masyarakat untuk tidak menjadikan hal tersebut sebagai perdebatan. Ia menekankan bahwa fokus utama seharusnya adalah menjaga kualitas ibadah puasa masing-masing individu.
Perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan bukanlah hal baru dan telah sering terjadi di masa lampau. Oleh karena itu, penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk saling menghargai dan menjaga toleransi antar sesama.
Dengan mengedepankan kualitas ibadah dan persatuan, diharapkan umat Muslim di Medan dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriah dengan khusyuk dan damai, terlepas dari perbedaan tanggal mulainya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews