Menteri Agama Nasaruddin Umar baru-baru ini menyoroti urgensi penguatan pendidikan Hindu dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia. Penekanan ini disampaikan pada malam puncak Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya di Universitas Negeri Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Bali. Ia meyakini bahwa lembaga pendidikan seperti widyalaya memiliki peran krusial untuk melahirkan individu yang unggul dan berkarakter.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi komitmen pemerintah dalam mendukung pengembangan pendidikan keagamaan. Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa widyalaya memiliki karakteristik serupa dengan pesantren, menawarkan lebih dari sekadar pembelajaran akademis biasa. Model pendidikan ini berfokus pada pembentukan akhlak dan penyucian batin di dalamnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, mengungkapkan upaya mendorong pendirian widyalaya negeri baru. Langkah ini sejalan dengan regulasi terbaru untuk memperluas jangkauan pendidikan Hindu berkualitas. Inisiatif ini diharapkan dapat mencetak lebih banyak generasi yang jujur, cerdas, dan berkarakter.
Advertisement
Advertisement
Widyalaya: Lebih dari Sekadar Sekolah Biasa
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa widyalaya bukan hanya tempat untuk mendapatkan pelajaran formal dari guru. Lembaga ini memiliki metodologi pengajaran yang berbeda, lebih mendalam, karena mengajarkan ilmu yang bersumber dari Tuhan. "Kalau sekolah tempat mendapat pelajaran dari guru. Kalau pesantren/widyalaya metodologinya beda (sekolah keagamaan) karena mengajar ilmu dari Tuhan. Ada akhlak, ada penyucian batin di dalamnya," kata dia.
Ia menjelaskan bahwa istilah pendidik Hindu di widyalaya dikenal sebagai "guru", sebuah kata yang memiliki makna filosofis mendalam. "Gu" berarti kegelapan atau ketidaktahuan, sementara "ru" melambangkan obor yang menerangi kegelapan tersebut. Oleh karena itu, seorang guru sejati adalah sosok yang mampu mencerahkan batin dan pikiran para peserta didik.
Nasaruddin Umar menilai pentingnya menghidupkan dan membangkitkan kembali peran widyalaya dalam sistem pendidikan nasional. Penguatan pendidikan Hindu melalui widyalaya terbukti tidak hanya mencetak individu yang pintar secara intelektual. Lebih dari itu, lembaga ini mampu melahirkan karakter murid yang jujur, cerdas, dan memiliki integritas tinggi.
Advertisement
Advertisement
Dorongan Pendirian Widyalaya Negeri dan Regulasi Pendukung
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, menyampaikan bahwa pemerintah daerah sedang aktif mendorong pendirian widyalaya negeri baru. Upaya ini merupakan respons terhadap kebutuhan akan lembaga pendidikan Hindu yang berkualitas dan terjangkau. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat fondasi pendidikan keagamaan di Bali.
Langkah pendirian widyalaya negeri ini didasarkan pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 2 Tahun 2024, yang kemudian diperbarui dengan PMA Nomor 51 Tahun 2025. Regulasi tersebut mengatur tentang Penyelenggaraan Pendidikan Widyalaya dan memberikan kepastian hukum bagi widyalaya swasta untuk beralih status menjadi widyalaya negeri.
Saat ini, pihak Kanwil Kementerian Agama Bali telah mengawal proses pendirian widyalaya negeri di Kabupaten Jembrana dan Gianyar. Dalam waktu dekat, akan ada penyerahan aset dari pemerintah daerah kepada Kementerian Agama. "Saat ini proposal tengah berproses dan selanjutnya kita targetkan di semua kabupaten di Bali ada widyalaya negeri yang didirikan oleh pemerintah langsung melalui Kementerian Agama," demikian Sunartha.
Advertisement
Sumber: AntaraNews