Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, secara resmi memperkenalkan Kekuhan sebagai sistem peringatan dini bencana yang unik. Inisiatif ini memanfaatkan kearifan lokal dalam menghadapi potensi ancaman bencana alam di wilayah tersebut. Peresmian ini menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keselamatan warganya.
Penggunaan Kekuhan, yang merupakan kentongan bambu tradisional, dipilih bukan tanpa alasan historis yang kuat. Alat komunikasi kuno ini dulunya berfungsi sebagai media penyampai berita penting antar masyarakat. Kini, perannya dioptimalkan untuk tujuan mitigasi bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Lampung Barat, Padang Priyo Utomo, menjelaskan bahwa penetapan Kekuhan ini adalah wujud nyata Kabupaten Lampung Barat sebagai daerah tangguh bencana. Harapannya, sistem ini dapat meminimalisir korban jiwa saat terjadi situasi darurat.
Advertisement
Advertisement
Bupati Parosil Mabsus menekankan bahwa Kekuhan memiliki nilai historis yang mendalam bagi masyarakat Lampung Barat. Alat ini telah lama menjadi simbol komunikasi efektif sebelum era modernisasi. Penggunaannya kembali menandakan penghargaan terhadap warisan budaya.
Pada masa lalu, Kekuhan berfungsi sebagai alarm penting untuk menyebarkan informasi vital di kalangan penduduk. Meskipun teknologi komunikasi telah maju pesat, potensi Kekuhan sebagai alat penyampai pesan tetap diakui. Ini menunjukkan adaptasi kearifan lokal dalam konteks kekinian.
Parosil Mabsus menegaskan pentingnya mempertahankan kearifan lokal di tengah kemajuan zaman. Ia berharap Kekuhan dapat terus menjadi alat komunikasi yang efektif. Terutama dalam menyampaikan informasi penting antar masyarakat, termasuk peringatan dini bencana.
Advertisement
Advertisement
Lampung Barat dikenal sebagai daerah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana alam. Sebagian besar wilayahnya merupakan perbukitan yang rawan longsor. Selain itu, daerah ini juga dilewati langsung oleh Sesar Semangko, meningkatkan risiko gempa bumi.
Mengingat kondisi geografis tersebut, komitmen pemerintah daerah untuk melestarikan Kekuhan sangatlah relevan. Bupati Mabsus menyatakan bahwa kentongan ini adalah alat tradisional yang dapat diandalkan dalam berbagai situasi. Terutama saat terjadi bencana, di mana komunikasi modern mungkin terganggu.
Pemanfaatan Kekuhan sebagai alarm bencana diharapkan dapat memberikan informasi cepat kepada masyarakat. Tujuannya adalah untuk meminimalisir potensi korban jiwa dan kerugian material. Ini adalah langkah proaktif dalam membangun ketahanan bencana di tingkat komunitas.
Advertisement
Advertisement
Kepala Pelaksana BPBD Lampung Barat, Padang Priyo Utomo, merinci tujuh pola ketukan pada Kekuhan yang menjadi kode komunikasi. Setiap pola memiliki makna spesifik yang harus dipahami oleh seluruh masyarakat. Sistem ini dirancang agar pesan dapat tersampaikan dengan jelas dan cepat.
Pola-pola ini mencakup berbagai jenis kejadian, mulai dari peristiwa sosial hingga bencana alam. Misalnya, tiga ketukan pendek selama tiga kali menandakan adanya yang meninggal dunia. Dua ketukan pendek selama tiga kali mengindikasikan adanya kemalingan di lingkungan sekitar.
Untuk bencana alam seperti banjir atau longsor, pola yang digunakan adalah empat ketukan pendek selama tiga kali. Sementara itu, satu ketukan pendek diikuti sepuluh ketukan panjang dan ditutup satu ketukan pendek digunakan untuk memanggil gotong royong. Ketukan panjang berulang-ulang menandakan bahaya atau darurat yang sedang terjadi.
Advertisement
- Tiga ketukan pendek selama tiga kali: Menandakan ada yang meninggal.
- Dua ketukan pendek selama tiga kali: Menandakan adanya kemalingan.
- Tiga ketukan pendek selama tiga kali: Menandakan kebakaran rumah.
- Empat ketukan pendek selama tiga kali: Menandakan adanya bencana alam (banjir, longsor, dan lainnya).
- Lima ketukan pendek selama tiga kali: Menandakan kemalingan ternak.
- Satu ketukan pendek dilanjutkan sepuluh ketukan panjang ditutup satu ketukan pendek: Untuk memanggil gotong royong.
- Ketukan panjang yang dilakukan berkali-kali: Menandakan sudah terjadi bahaya atau darurat.
Sumber: AntaraNews