Komisi X DPR RI akan memanggil Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyusul tragedi seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang bunuh diri diduga karena tidak mampu membeli alat tulis untuk sekolah.
"Ya tentu. Mendikdasmen selaku penanggung jawab tertinggi yang diberikan oleh Presiden harus segera mengambil langkah nyata, langkah cepat untuk mengatasi persoalan ini," ujar Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (4/2).
Lalu menambahkan bahwa pemanggilan Mendikdasmen akan dilakukan secepatnya, paling lambat pekan depan.
"Minggu depan insyaallah," katanya.
Advertisement
Tamparan Keras
Menurut Lalu, setiap anak memiliki hak atas pendidikan, yang dijamin oleh Undang-Undang. Oleh sebab itu, tragedi yang menimpa siswa di NTT ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah.
"Kejadian yang menimpa siswa kita di NTT ini tamparan keras. Ini salahnya di mana? Apakah sekolah tidak menyalurkan, apakah sekolah tersebut belum menerima dana BOS, atau kondisinya seperti apa, inilah yang harus kita evaluasi bersama," ungkapnya.
Insiden tragis ini terjadi di Kabupaten Ngada, NTT, melibatkan seorang siswa SD yang mengakhiri hidupnya. Korban meninggalkan sebuah surat menyentuh untuk ibundanya, MGT (usia 47 tahun).
Dalam surat yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, korban menuliskan, “Surat buat Mama **** Mama saya pergi dulu Mama relakan saya pergi Jangan menangis ya Mama Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya Selamat tinggal Mama”. Pesan ini menunjukkan keputusasaan yang mendalam.
Korban diketahui tinggal bersama neneknya, sementara ibundanya adalah orang tua tunggal. Sang ibu bekerja sebagai petani dan serabutan untuk menghidupi lima orang anak, termasuk korban.
Kondisi keluarga korban yang berada dalam kategori miskin ekstrem (desil-1) menambah kompleksitas kasus ini. Situasi ekonomi yang sulit seringkali menjadi pemicu tekanan tambahan bagi anggota keluarga.