Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali, memberikan kesaksian sebagai ahli ekonomi dan bisnis dalam persidangan lanjutan kasus korupsi terkait tata kelola minyak dan produk kilang minyak PT Pertamina (Persero).
Dalam kesempatan tersebut, Rhenald menyampaikan keprihatinannya mengenai generasi muda yang mungkin merasa enggan untuk terjun ke dunia bisnis dan memimpin, terutama jika mereka terancam terjerat masalah hukum akibat keputusan yang mereka ambil.
"Saya khawatir anak muda tidak berani bekerja sama dengan perusahaan negara, tidak berani menjadi pemimpin di BUMN, tidak berani berbisnis dengan perusahaan negara. Karena kalau dari pertanyaannya sebetulnya adalah soal business judgment rule. Dalam bisnis itulah yang diajarkan ya," ungkap Rhenald di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Selasa (3/3).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa jika tindakan yang diambil dianggap sebagai kesalahan, maka Indonesia perlu mempertimbangkan kembali teori ekonomi dan bisnis yang ada.
"Jadi jangan dianggap itu sebagai suatu kejahatan," imbuhnya.
Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman yang tepat mengenai keputusan bisnis di kalangan para pemimpin masa depan, terutama dalam konteks perusahaan milik negara.
Rhenald berharap agar para pemuda tidak kehilangan minat untuk berkontribusi dalam sektor bisnis, meskipun ada risiko yang harus dihadapi.
Advertisement
Keputusan Bahlil Beli Minyak dari Aljazair patut Dipuji
Rhenald memberikan contoh konkret mengenai langkah yang diambil oleh Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang berhasil mendatangkan kapal besar yang membawa minyak sebanyak 1 juta barel ke Cilacap.
"Kapalnya dari Aljazair, minyaknya dari Aljazair. Kalau kita bisa mendatangkan minyak sebesar itu, dan inilah bisnis yang di terminal ini yang dipersoalkan, itu akan sangat efisien," ungkap Rhenald.
Ia mencatat bahwa selama ini, salah satu penyebab ketidakuntungan industri minyak dalam negeri adalah karena melakukan impor minyak dari Singapura dengan harga yang lebih tinggi, yaitu 2 hingga 3 dolar dibandingkan dengan membeli langsung seperti yang dilakukan oleh Bahlil.
"Pak Bahlil itu beli dari Aljazair, itu akan menguntungkan, pasti lebih murah. Nah, demikian pula minyak yang jadi ini ya. Dengan seperti itu, itu menguntungkan, efisien," jelas Rhenald.
Rhenald juga menambahkan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak laut dalam serta terminal-terminal kecil. Namun, ia berpendapat bahwa akan lebih baik jika negara ini memiliki terminal yang lebih besar untuk menghemat biaya pengiriman.
"Jadi kita mendapatkan keuntungan dari efisiensi. Itu yang mungkin ingin dijelaskan, mungkin mau ke situ arahnya," tutup Rhenald. Dengan langkah-langkah seperti ini, diharapkan industri minyak dalam negeri dapat lebih kompetitif dan menguntungkan, sehingga dapat mendukung perekonomian nasional secara keseluruhan.
Advertisement
Respons Kuasa Hukum Anak Riza Chalid
Patra Zen, selaku pengacara terdakwa Kerry Andrianto Riza yang merupakan pemilik manfaat PT Navigator Khatulistiwa, mengemukakan tiga hal penting dalam merespons keterangan Rhenald.
Pertama, ia menekankan bahwa keputusan bisnis Pertamina untuk menyewa kapal OTM Patra Niaga, kapal milik PT JMN, atau kapal Olympic Luna harus dilihat dari perspektif bisnis yang relevan pada saat itu.
"Jadi tidak bisa kita menilai tanpa menggunakan kacamata bisnis, tidak menilai dari konteks waktu. Ini penting, kenapa? Biar nanti direksi BUMN ataupun pengusaha berani ambil keputusan, Pak. Kalau enggak ya, takut orang mengambil keputusan, enggak jalan," ungkap Patra.
Kedua, Patra menambahkan bahwa kesaksian Rhenald terkait OTM dan kapal tersebut seharusnya tidak menjadi masalah jika sudah dirumuskan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) serta Rencana Jangka Panjang (RJP).
"Kalau sudah diputuskan oleh direksi, menurut kelaziman bisnis sebenarnya tidak harus dimasalahkan di kemudian hari. Bahkan kami pihak swasta ya, tentu ada proses negosiasi. Itu lumrah, lazim," jelas Patra.
Terakhir, Patra menegaskan pentingnya keterangan Rhenald Kasali yang menyatakan bahwa investasi terminal BBM adalah hal yang mahal. Dalam konteks tahun 2014, Pertamina memutuskan untuk mengarahkan investasi ke sektor hilir.
"Apa maksudnya diarahkan ke hilir? Mencari sumber-sumber daya, mencari sumber-sumber minyak dan meningkatkan produksi dalam negeri. Jadi pada waktu itu memang prioritasnya itu, sehingga diputuskan lebih murah untuk melakukan penyewaan," tutup Patra.