Bupati Temanggung, Agus Setyawan, baru-baru ini memimpin aksi penghijauan dengan menanam bibit pohon di tengah prosesi tradisi sadranan. Kegiatan ini berlangsung di pemakaman Dusun Ngrimpak, Desa Lowungu, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, pada Jumat, 30 Januari 2026. Aksi ini bukan sekadar penanaman pohon biasa, melainkan sebuah simbolisasi mendalam tentang penghormatan terhadap alam dan para leluhur yang telah tiada.
Agus Setyawan menyatakan bahwa penanaman pohon ini merupakan bagian dari upaya merawat alam. Ia berharap bibit-bibit yang ditanam dapat tumbuh kuat dan terawat, seperti pohon beringin yang sudah ada di area makam tersebut. Kegiatan ini dilakukan setelah doa bersama dan kenduri makan bersama warga, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari ritual sadranan.
Inisiatif Aksi Penghijauan Bupati Temanggung ini mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat. Kepala Desa Lowungu, Slamet Riyanto, mengapresiasi kehadiran bupati yang dinilai menambah semangat warga untuk menjaga tradisi sekaligus melestarikan lingkungan desa mereka. Hal ini menunjukkan sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga kelestarian budaya serta lingkungan.
Advertisement
Advertisement
Makna Spiritual dan Lingkungan Aksi Penghijauan
Aksi penanaman pohon yang dilakukan Bupati Temanggung Agus Setyawan di tengah tradisi sadranan memiliki makna ganda yang mendalam, baik secara spiritual maupun lingkungan. Tradisi sadranan sendiri merupakan momentum penting bagi masyarakat untuk mempererat silaturahmi dan mendoakan para leluhur. Dengan menanam pohon di area makam, Bupati Setyawan ingin menyampaikan pesan bahwa merawat alam adalah bentuk penghormatan kepada mereka yang telah mendahului kita.
Menurut Agus Setyawan, keberadaan kita saat ini tidak lepas dari peran para leluhur. Oleh karena itu, merawat pohon sama dengan merawat warisan yang mereka tinggalkan. Pohon yang tumbuh kuat dan kokoh diharapkan menjadi simbol kekuatan dan keberlanjutan, mirip dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur. Simbolisme ini menciptakan jembatan antara spiritualitas tradisi lokal dan kesadaran lingkungan.
Penanaman pohon di lokasi sakral seperti pemakaman juga memperkuat ikatan emosional masyarakat dengan lingkungan mereka. Ini bukan hanya tentang menanam bibit, tetapi juga menanamkan nilai-nilai pelestarian alam kepada generasi mendatang. Dengan demikian, tradisi sadranan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga pengingat akan tanggung jawab kolektif terhadap bumi.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Berkelanjutan Bupati dalam Pelestarian Lingkungan
Aksi Penghijauan Bupati Temanggung ini bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh Agus Setyawan. Sebelumnya, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan di tengah acara spiritual lainnya. Contohnya, ia pernah membagikan bibit pohon pada acara Nyadran Perdamaian di Desa Getas, Kecamatan Kaloran.
Selain itu, Bupati Setyawan juga melakukan hal serupa saat pengajian khaul Ki Ageng Makukuhan di Kedu. Konsistensi ini menunjukkan komitmen Bupati Temanggung dalam mengintegrasikan upaya pelestarian lingkungan dengan kegiatan-kegiatan budaya dan keagamaan masyarakat. Pendekatan ini membantu menyebarkan kesadaran lingkungan secara lebih luas dan diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.
Keterlibatan aktif pemimpin daerah dalam Aksi Penghijauan Bupati Temanggung memperkuat pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Ini juga menjadi contoh nyata bagi masyarakat untuk turut serta dalam gerakan penghijauan. Dengan demikian, upaya pelestarian lingkungan tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan tradisi masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Dampak Positif Bagi Masyarakat dan Tradisi Lokal
Kehadiran Bupati Temanggung dalam ritual sadranan di Dusun Ngrimpak disambut baik oleh masyarakat, khususnya Kepala Desa Lowungu, Slamet Riyanto. Ia menyampaikan bahwa kehadiran orang nomor satu di Temanggung tersebut menambah semangat warga. Hal ini tidak hanya dalam menjaga tradisi sadranan, tetapi juga dalam melestarikan lingkungan desa.
Bagi warga Dusun Ngrimpak, sadranan bukan hanya ritual tahunan, melainkan momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga. Adanya Aksi Penghijauan Bupati Temanggung melalui penanaman pohon ini menjadi pengingat penting. Warga diingatkan bahwa menjaga makam tidak hanya soal membersihkan nisan, tetapi juga merawat alam di sekitarnya.
Integrasi antara tradisi budaya dan gerakan pelestarian lingkungan ini menciptakan dampak positif yang berkelanjutan. Masyarakat menjadi lebih sadar akan peran mereka sebagai penjaga lingkungan sekaligus pelestari budaya. Ini juga memperkuat rasa kebersamaan dan gotong royong dalam menjaga warisan alam dan leluhur.
Advertisement
Sumber: AntaraNews