Konservasi Wehea-Kelay: Kaltim dan YKAN Jaga Biodiversitas serta Mitigasi Iklim

Provinsi Kalimantan Timur bersama YKAN terus berkomitmen dalam Konservasi Wehea-Kelay, sebuah bentang alam vital yang melindungi biodiversitas dan berperan besar dalam mitigasi perubahan iklim. Simak dampaknya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Konservasi Wehea-Kelay: Kaltim dan YKAN Jaga Biodiversitas serta Mitigasi Iklim
Provinsi Kalimantan Timur bersama YKAN terus berkomitmen dalam Konservasi Wehea-Kelay, sebuah bentang alam vital yang melindungi biodiversitas dan berperan besar dalam mitigasi perubahan iklim. Simak dampaknya! (AntaraNews)

Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menunjukkan komitmen kuat dalam pengelolaan bentang alam Wehea-Kelay. Kawasan vital ini terletak di Kabupaten Kutai Timur hingga Berau, menjadi garda terdepan perlindungan biodiversitas hutan, baik flora maupun fauna endemik. Upaya ini tidak hanya menjaga kekayaan alam, tetapi juga berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim global.

Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen dari luas kawasan Wehea-Kelay masih berupa hutan. Potensi penyimpanan karbon di area ini mencapai 191 juta ton CO₂ ekuivalen, menjadikannya aset berharga dalam menekan laju pemanasan global. Konsistensi pengelolaan yang telah berjalan sejak tahun 2015 ini melibatkan berbagai pihak, menunjukkan sinergi multipihak yang efektif.

Keberhasilan pengelolaan kolaboratif di Wehea-Kelay telah membawa dampak positif yang signifikan. Studi terbaru pada tahun 2025 bahkan menunjukkan adanya penambahan temuan jenis flora dan fauna dari pendataan awal. Hal ini membuktikan bahwa kepentingan ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya dapat berjalan selaras, terutama dalam menjaga habitat orang utan yang berada di luar kawasan konservasi.

Bentang alam Wehea-Kelay memiliki peran ekologis yang sangat krusial, terutama sebagai habitat utama bagi orang utan Kalimantan. Kawasan ini ditentukan mengikuti sebaran populasi orang utan di sepanjang sungai-sungai besar seperti Sungai Kelay, Sungai Wehea, dan sebagian kecil hulu Sungai Telen. Keberadaan ekosistem hutan yang lestari sangat vital untuk kelangsungan hidup spesies terancam punah ini.

Lebih dari sekadar habitat satwa langka, Wehea-Kelay juga merupakan hulu penting bagi dua sungai besar, yaitu Sungai Mahakam dan Sungai Segah. Dengan lebih dari 5.000 kilometer daerah aliran sungai yang mengalir ke Kabupaten Berau dan Kutai Timur, kawasan ini menyediakan jasa lingkungan yang tak ternilai. Fungsi hidrologis dan penyediaan udara bersih adalah beberapa manfaat langsung yang dirasakan oleh masyarakat dan lingkungan sekitar.

Potensi Wehea-Kelay dalam mitigasi perubahan iklim juga sangat besar. Cadangan karbon sebesar 191 juta ton CO₂ ekuivalen yang tersimpan di hutan-hutannya menjadikannya paru-paru penting bagi bumi. Perlindungan kawasan ini secara langsung berkontribusi pada upaya global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Pengelolaan kawasan Wehea-Kelay merupakan contoh nyata kolaborasi multi pihak yang efektif. Sejak tahun 2015, Pemerintah Provinsi Kaltim dan YKAN telah aktif mengajak berbagai elemen masyarakat untuk berpartisipasi. Hingga saat ini, tercatat 23 pihak yang terlibat, meliputi pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat lokal, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan organisasi non-pemerintah seperti YKAN sendiri.

Sektor swasta, khususnya pemegang konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan-Hutan Alam (PBPH-HA), turut berperan aktif. Mayoritas dari mereka telah mengantongi sertifikat Pengelolaan Hutan Produksi Lestari serta Forest Stewardship Council (FSC), menunjukkan komitmen terhadap praktik kehutanan berkelanjutan. Keterlibatan ini memastikan bahwa kegiatan ekonomi selaras dengan prinsip konservasi.

Peran komunitas lokal juga sangat vital, sebagaimana ditunjukkan oleh pengelolaan Hutan Lindung Wehea oleh Masyarakat Adat Wehea. Ini menegaskan bahwa pengetahuan dan kearifan lokal memiliki kedudukan penting dalam upaya pelestarian. Pendekatan inklusif ini memungkinkan tercapainya keseimbangan antara kepentingan ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya.

Selain fokus pada perlindungan ekosistem, pengelolaan kawasan Wehea-Kelay juga merambah ke pemanfaatan hasil hutan bukan kayu melalui inovasi bioprospeksi. Pendekatan ini bertujuan untuk menemukan dan mengembangkan potensi ekonomi dari keanekaragaman hayati hutan.

Sebuah kajian mendalam telah dilakukan terhadap 60 jenis tumbuhan hutan, yang inspirasinya berasal dari pakan orang utan. Hasil penelitian ini sangat menjanjikan, di mana 11 jenis di antaranya teridentifikasi memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi. Potensi tersebut meliputi kandungan fitokimia untuk kesehatan, antidiabetes, antikanker, dan sitotoksisitas.

Jenis-jenis tumbuhan dengan potensi medisinal dan nutrisi ini tidak hanya menawarkan harapan baru bagi pengembangan kesehatan manusia. Lebih jauh, penemuan ini juga membuka peluang besar untuk mendukung pengembangan ekonomi masyarakat lokal. Dengan mengoptimalkan potensi bioprospeksi, hutan Wehea-Kelay dapat memberikan manfaat ganda, yaitu pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi