Tim SAR Serahkan Body Part Korban Kecelakaan Pesawat ATR untuk Identifikasi Akurat

Tim SAR gabungan menyerahkan body part korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 kepada DVI untuk proses identifikasi, mengungkap detail pencarian dan penemuan di lokasi kejadian.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tim SAR Serahkan Body Part Korban Kecelakaan Pesawat ATR untuk Identifikasi Akurat
Tim SAR gabungan menyerahkan body part korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 kepada DVI untuk proses identifikasi, mengungkap detail pencarian dan penemuan di lokasi kejadian. (AntaraNews)

Tim SAR gabungan telah menyerahkan sejumlah body part atau potongan tubuh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 kepada tim forensik. Penyerahan ini dilakukan di Posko DVI Biddokes Polda Sulsel, Makassar, pada Rabu (22/1), untuk keperluan identifikasi.

Langkah ini diambil guna memastikan identitas korban secara akurat melalui proses identifikasi medis dan forensik yang komprehensif. Proses ini merupakan bagian krusial dari penanganan pasca-kecelakaan pesawat.

Muhammad Arif Anwar, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Makassar, menyatakan bahwa penyerahan ini merupakan hasil dari operasi SAR intensif. Operasi pencarian telah berlangsung selama lima hari di wilayah pegunungan Kabupaten Maros dan Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Proses Penyerahan dan Identifikasi Medis

Penyerahan body part korban kepada tim DVI Biddokes Polda Sulsel menjadi fokus utama dalam upaya identifikasi. Tim forensik akan melakukan serangkaian tes untuk mencocokkan DNA dan data antemortem, yang sangat penting untuk memberikan kepastian kepada keluarga korban.

Arif Anwar menjelaskan bahwa temuan body part ketiga ini, berupa tulang, langsung diamankan sesuai prosedur standar. Selanjutnya, potongan tubuh tersebut diserahkan ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk identifikasi lebih lanjut oleh tim forensik dan medis.

Selain itu, black box pesawat yang telah ditemukan juga akan segera diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Penyerahan ini bertujuan untuk analisis lebih lanjut guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan.

Tim DVI memiliki peran vital dalam mengidentifikasi korban kecelakaan massal, memastikan setiap temuan ditangani dengan profesionalisme tinggi. Akurasi data menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan identifikasi korban pesawat ATR.

Penemuan Barang Bukti dan Prosedur Penanganan

Selama operasi SAR hari kelima, tim gabungan tidak hanya menemukan body part korban, tetapi juga sejumlah barang pribadi. Barang-barang ini ditemukan di area pencarian, khususnya di sekitar lokasi badan dan ekor pesawat yang telah ditemukan sebelumnya.

Barang-barang milik korban yang berhasil ditemukan meliputi laptop, telepon genggam, paspor, flash disk, kacamata, pouch, dan dokumen pribadi. Penemuan ini memberikan petunjuk penting bagi proses identifikasi dan penyelidikan terkait kecelakaan pesawat ATR.

Koordinator SMC (SAR Mission Coordinator) menegaskan bahwa seluruh barang temuan korban telah didata dan diamankan. Barang-barang tersebut akan diserahkan kepada pihak berwenang sesuai mekanisme yang berlaku untuk dikembalikan kepada keluarga korban.

Penemuan barang bukti ini merupakan hasil penyisiran intensif yang dilakukan oleh beberapa Search and Rescue Unit (SRU) darat. Tim bekerja keras menyisir area pegunungan yang sulit dijangkau untuk menemukan setiap petunjuk dalam operasi pencarian ini.

Perkembangan Operasi SAR dan Identitas Korban

Operasi SAR masih terus berlanjut dengan melibatkan lebih dari seribu personel gabungan dari berbagai unsur. Personel ini terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, dan komunitas kemanusiaan, didukung peralatan darat dan udara.

Arif Anwar menekankan komitmen tim untuk melaksanakan operasi secara profesional dan humanis. Fokus utama adalah menuntaskan pencarian seluruh korban serta memastikan setiap proses berjalan sesuai standar keselamatan dan prosedur yang ditetapkan.

Sejauh ini, operasi SAR telah berhasil menemukan dan mengevakuasi dua orang korban yang telah teridentifikasi oleh tim DVI. Kedua korban tersebut adalah Florencia Lolita Wibisono, seorang pramugari, dan Deden Maulana, ASN dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Keluarga kedua korban telah mengambil jenazah mereka.

Pesawat nahas tersebut membawa 10 orang dengan rute Yogyakarta-Makassar. Pesawat hilang kontak saat hendak mendarat di Bandara Hasanuddin pada Sabtu (17/1) siang, sebelum akhirnya menabrak Gunung Bulusaraung di Pangkep. Potongan tubuh korban ketiga masih dalam proses identifikasi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi