Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan kasus kejahatan terhadap perempuan dan anak ibarat masih seperti fenomena gunung es. Menurut Sigit, kasus terungkap ke permukaan belum mencerminkan kondisi sebenarnya di masyarakat.
Sigit mengatakan, masih banyak korban memilih diam karena stigma, rasa takut hingga trauma berlapis saat hendak melapor. Dia menyebut persoalan utama selama ini bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi membangun kepercayaan korban agar berani bicara.
"Karena kita tahu bahwa tidak mudah, tidak mudah untuk membuat masyarakat yang menjadi korban ini kemudian mau melapor. Karena masalah stigma, apabila melapor itu ada keraguan apakah kasusnya dilayani dan diterima. Dan kadang kala melihat bahwa kasus tersebut masih menjadi aib apabila diinformasikan atau dilaporkan," kata Sigit saat memberi arahan kepada jajaran Direktorat Tindak Pidana Perempuan dan Anak serta Pidana Perdagangan Orang (PPA dan PPO), Rabu (21/1).
Advertisement
Penyebab Korban Tak Mau Bicara
Selain penegakan hukum dan membangun kepercayaan berani bicara, Sigit menuturkan, korban kadang kala merasa penanganannya tidak pas. Hal ini akan menimbulkan trauma baru karena menganggap bisa menjadi korban kedua kali.
Namun dengan kehadiran Direktorat PPA dan PPO, Sigit mengatakan, perlahan situasi mulai berubah. Korban dari kelompok rentan kini mulai memahami bahwa mereka memiliki hak untuk dilindungi dan dilayani negara. Kepercayaan itu tumbuh seiring pendekatan yang dilakukan secara masif ke masyarakat.
"Alhamdulillah, atas kerja keras dari tim Ibu dan seluruh jajaran Direktorat PPA dan PPO, masyarakat akhirnya mulai memahami, khususnya korban-korban dari kelompok rentan bahwa mereka memiliki hak untuk dilindungi pada saat mereka menjadi korban kekerasan yang selama ini selalu disembunyikan," ucap Sigit.
Advertisement
Upaya Polri Dorong Korban Melapor
Salah satu upaya yang disorot Sigit adalah kampanye Rise and Speak yang telah digelar di 11 kota dengan melibatkan sekitar 6.800 peserta. Program ini dinilai efektif mendorong korban untuk berani melapor dan memecah budaya diam yang selama ini mengakar.
"Akhirnya perlahan-lahan, tapi pasti, kemudian mulai percaya dan kemudian akhirnya mereka berani melapor," kata Sigit.
Sigit meminta program tersebut terus diperluas dan dikembangkan, mengingat persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak masih sangat besar. Dia menilai pekerjaan mengurai 'gunung es' ini membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pendekatan kemanusiaan.
"Dan ini saya kira bukan pekerjaan mudah, perlu meyakinkan agar kita bisa menyelesaikan permasalahan gunung es. Masalah yang sangat luar biasa yang sebenarnya terjadi dan ini menjadi fenomena yang luar biasa di masyarakat, namun di satu sisi korban tidak bisa berbuat apa-apa karena masalah-masalah traumatik yang mereka miliki," ujar dia.
Advertisement
Kasus Kejahatan Perempuan dan Anak Menonjol
Selain itu, Sigit juga menyoroti sejumlah pengungkapan kasus menonjol yang berhasil ditangani Direktorat PPA dan PPO, di antaranya kasus penyelundupan warga negara asing melalui Nusa Tenggara Timur yang hendak dikirim ke Australia, serta pengungkapan jaringan penculikan dan jual beli bayi di Makassar. Dia pun memberikan apresiasi.
"Saya juga mengucapkan selamat atas penegakan hukum kasus menonjol selama Ibu pimpin. Khususnya ada dua kasus yang terjadi beberapa waktu yang lalu yaitu penyelundupan WNA melalui NTT yang akan dikirim ke Australia, dan yang kedua masalah penculikan ataupun jual beli bayi beberapa waktu yang lalu yang diungkap di Makassar," tandas Sigit.