Angin puting beliung menerjang permukiman warga di Dusun Krajan Pesisir, Desa Selomukti, Kecamatan Mlandingan, Situbondo, Jawa Timur, pada Selasa sore. Bencana alam ini mengakibatkan kerusakan pada belasan rumah penduduk. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo segera melakukan asesmen.
Koordinator Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Situbondo, Puriyono, mengonfirmasi kejadian ini. Menurut warga, angin berbentuk pusaran merusak bagian atap rumah secara signifikan. Insiden ini berlangsung singkat bersamaan dengan gerimis.
Beruntungnya, tidak ada korban jiwa dalam insiden angin puting beliung Situbondo ini. Meskipun demikian, kerugian materiil cukup besar dialami warga terdampak. Pihak BPBD terus mendata skala kerusakan yang terjadi.
Advertisement
Advertisement
Dampak Kerusakan Akibat Angin Puting Beliung Situbondo
Hasil asesmen awal BPBD Kabupaten Situbondo menunjukkan, sedikitnya 16 unit rumah warga mengalami kerusakan. Kerusakan ini bervariasi dari kategori ringan, sedang, hingga rusak berat. Mayoritas kerusakan terfokus pada bagian atap rumah warga yang diterjang angin puting beliung.
"Setelah kami melakukan asesmen rumah terdampak angin puting beliung tersebut, 12 rumah rusak ringan, tiga rumah rusak sedang, dan satu rumah rusak berat," ujar Puriyono. Data ini menjadi dasar penting bagi BPBD untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Pihak berwenang terus berkoordinasi untuk memastikan bantuan dan penanganan darurat segera disalurkan. Prioritas utama adalah memastikan keamanan serta kenyamanan warga yang rumahnya mengalami kerusakan. Upaya pemulihan akan segera dilakukan.
Advertisement
Advertisement
Imbauan Waspada Cuaca Ekstrem di Situbondo dan Jawa Timur
Puriyono juga menyampaikan imbauan penting kepada masyarakat Situbondo dan sekitarnya. Ia meminta warga untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Hal ini mengingat cuaca ekstrem yang melanda wilayah Jawa Timur sejak awal Januari 2026.
Fenomena angin puting beliung ini menjadi salah satu indikator kondisi cuaca yang tidak menentu. Masyarakat, khususnya di daerah pesisir, diimbau lebih peka terhadap perubahan cuaca. Kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko dampak bencana.
BPBD akan terus memantau perkembangan cuaca dan menyebarkan informasi peringatan dini jika diperlukan. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat sangat dibutuhkan. Ini penting dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang mungkin terjadi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews