Puluhan Siswa SMKN 11 Semarang Alami Mual Usai Konsumsi MBG, Pemprov Jateng Lakukan Evaluasi

Usai mengkonsumsi MBG tiba-tiba ada siswa mengalami gejala mual, pusing, muntah, dan sakit perut langsung dilakukan tindakan medis.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
Puluhan Siswa SMKN 11 Semarang Alami Mual Usai Konsumsi MBG, Pemprov Jateng Lakukan Evaluasi
Puluhan Siswa SMKN 11 Semarang Alami Mual Usai Konsumsi MBG, Pemprov Jateng Lakukan Evaluasi (Merdeka.com)

Puluhan siswa SMKN 11 Semarang mengalami kondisi mual-mual akibat dugaan keracunan akibat Makan Bergizi Gratis (MBG). Ada beberapa siswa dirawat di Rumah sakit.

"Total ada 75 siswa dari satu sekolah. Empat dirawat di rumah sakit, dan dua siswa sudah pulang," kata Plt Kepala Cabdin I Disdikbud Jateng, Haris Wahyudi, Jumat (9/1).

Peristiwa keracunan berawal ketika siswa menerima konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis 8 Januari 2025 pukul 16.00 WIB.

Usai mengkonsumsi MBG tiba-tiba ada siswa mengalami gejala mual, pusing, muntah, dan sakit perut langsung dilakukan tindakan medis.

"Oleh guru langsung dibawa rumah sakit jalani cek medis. Dari 75 siswa, semua sudah pulang. Tinggal dua siswamasih menjalani perawatan, karena memiliki penyakit bawaan dan masih dalam observasi medis," ungkapnya.

SMKN 11 Semarang sendiri memiliki sekitar 1.440 siswa, sehingga jumlah yang mengalami gejala hanya sebagian kecil dari total penerima MBG. Seluruh siswa diketahui mengonsumsi menu yang sama pada hari tersebut.

"Menu MBG yang dibagikan terdiri dari nasi, oseng labu siam, perkedel tahu, ayam suwir, dan buah semangka," ujarnya.

Menu yang Diduga Buat Keracunan

Berdasarkan keluhan siswa, dugaan sementara mengarah pada ayam suwir yang dirasa berbau dan berbeda rasanya.

"Ini masih dugaan awal. Penyebab pastinya akan diteliti lebih lanjut. Hari ini kami bersama tim dari BGN Pusat melakukan evaluasi langsung di sekolah,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, penyaluran MBG dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang menyuplai sekolah tersebut dihentikan sementara hingga proses evaluasi dan penelusuran penyebab selesai dilakukan.

"Yang utama adalah penanganan kesehatan siswa. Soal penyebabnya nanti setelah evaluasi bersama pihak terkait,” ujarnya.

Baru Pertama Kali Terjadi

Program MBG di SMKN 11 Semarang sudah berjalan sejak Agustus 2025 dan baru kali ini terjadi kejadian serupa.

Hingga saat ini, laporan gejala hanya berasal dari satu sekolah, meski SPPG yang sama diduga menyuplai lebih dari satu sekolah.

Sementara itu Sekretaris Disdikbud Jawa Tengah, Syamsudin, menyatakan pihaknya telah melakukan koordinasi awal terkait laporan dugaan keracunan yang melibatkan siswa penerima layanan SPPG.

"Sudah, saya sudah konfirmasi. Ini masih tahap mencari informasi, dan kami sudah melakukan koordinasi,” ujar Syamsudin.

Disdikbud Jateng juga telah menyiapkan mekanisme pelaporan dan pemantauan di masing-masing wilayah yang memiliki layanan SPPG.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak meluas dan dapat segera ditangani apabila ditemukan indikasi masalah.

Terkait kemungkinan adanya laporan dari orang tua siswa, Syamsudin menegaskan bahwa hal tersebut merupakan hak setiap wali murid.

Namun demikian, Disdikbud Jateng tetap mengedepankan langkah pengawalan dan koordinasi terlebih dahulu antara sekolah dan penyedia layanan SPPG.

"Itu hak masing-masing orang tua. Tapi tetap akan kami kawal terlebih dahulu, dan untuk sekolah serta SPPG-nya akan kami koordinasikan. Kami (Disdikbud Jateng) akan terus mengawal proses evaluasi dan memastikan keamanan serta kualitas makanan sebelum program MBG kembali dilanjutkan," pungkasnya.

Rekomendasi