Amerika Serikat (AS) mengevaluasi bahwa Peran China dalam upaya gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja bersifat terbatas. Penilaian ini muncul setelah Beijing mengadakan pertemuan diplomatik pasca-kesepakatan damai tercapai antara kedua negara. Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik, Michael George DeSombre, menyampaikan pandangannya dalam pengarahan pers virtual dari Jakarta pada Jumat.
DeSombre secara spesifik menyatakan ketidaktahuannya mengenai kontribusi China sebelum gencatan senjata diberlakukan. Menurutnya, tindakan China berupa penyelenggaraan pertemuan trilateral terjadi setelah gencatan senjata terakhir telah berlaku. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas dan waktu intervensi Beijing dalam konflik perbatasan tersebut.
Di sisi lain, AS menyoroti keterlibatan langsungnya dalam memfasilitasi proses menuju gencatan senjata antara kedua negara. Washington, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, memainkan peran krusial dalam mendorong perdamaian. Upaya ini termasuk panggilan telepon langsung kepada para pemimpin Thailand dan Kamboja serta fasilitasi perundingan.
Advertisement
Advertisement
Keterlibatan AS dalam Upaya Perdamaian Regional
Amerika Serikat menegaskan peran aktifnya dalam menengahi konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja yang telah berlangsung puluhan tahun. Pada 26 Juli, Presiden Donald Trump secara tegas menelepon para pemimpin kedua negara, mendesak mereka untuk menempuh jalur damai. Trump juga memperingatkan bahwa sejumlah inisiatif akan dihentikan sementara sampai pertempuran berakhir.
Respons cepat terlihat dalam waktu 24 jam setelah panggilan telepon Presiden Trump. Kamboja dan Thailand sepakat mengirim delegasi ke Malaysia untuk mengikuti perundingan gencatan senjata. Malaysia berperan sebagai fasilitator bersama dalam proses negosiasi tersebut, mengingat posisinya sebagai Ketua ASEAN.
DeSombre menambahkan bahwa AS secara aktif mengirimkan perwakilan untuk mengawal proses perundingan yang berlangsung dalam beberapa putaran. Perundingan ini mencakup pertemuan pada Agustus, Oktober, dan November, hingga akhirnya kesepakatan gencatan senjata tercapai pada Desember. Keterlibatan Washington berlanjut bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan, dengan DeSombre sendiri yang melakukan kunjungan ke Bangkok dan Phnom Penh untuk mendukung stabilisasi pascagencatan senjata.
Advertisement
Presiden Trump memberikan perhatian besar untuk memastikan perdamaian di kawasan ini, sebagaimana juga di negara-negara lain. Menteri Luar Negeri Rubio, bersama seluruh jajaran di bawahnya, termasuk DeSombre, terlibat secara aktif untuk memastikan hal tersebut terwujud. Kunjungan DeSombre ke Thailand dan Kamboja merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan AS terhadap stabilitas regional.
Advertisement
Peran China Setelah Gencatan Senjata
Berbeda dengan pendekatan proaktif AS, Peran China dalam gencatan senjata Thailand-Kamboja dinilai terbatas karena intervensinya dilakukan setelah kesepakatan tercapai. Pada 29 Desember, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menjadi tuan rumah pertemuan trilateral. Pertemuan ini melibatkan China, Wakil Perdana Menteri Kamboja Prak Sokhonn, Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow, serta pejabat militer senior dari ketiga negara.
Sehari setelah gencatan senjata Thailand dan Kamboja tercapai pada 27 Desember, Wang Yi juga menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn. Dalam pertemuan tersebut, Wang Yi menyatakan bahwa China terus memantau secara saksama situasi di perbatasan Kamboja-Thailand. Ia mendorong kedua negara untuk mewujudkan gencatan senjata yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Beijing juga mendesak kedua negara untuk memulihkan hubungan bilateral, membangun kembali kepercayaan, serta mencegah eskalasi lebih lanjut. Meskipun demikian, DeSombre dari AS menekankan bahwa upaya China ini terjadi setelah gencatan senjata telah diberlakukan. Ini menunjukkan perbedaan signifikan dalam waktu dan sifat keterlibatan diplomatik kedua kekuatan besar tersebut.
Advertisement
Advertisement
Latar Belakang Konflik dan Kesepakatan Damai
Thailand dan Kamboja telah lama menghadapi sengketa perbatasan selama puluhan tahun. Konflik ini meningkat menjadi konfrontasi bersenjata pada Juli, ketika kedua negara saling menembakkan artileri dan melancarkan serangan udara. Ketegangan di perbatasan telah menjadi sumber ketidakstabilan regional yang berkepanjangan.
Untuk meredakan ketegangan, kedua negara akhirnya menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada 27 Desember 2025. Kesepakatan penting ini mulai berlaku pada hari yang sama pukul 12.00 waktu setempat. Penandatanganan gencatan senjata ini diharapkan dapat membuka jalan bagi dialog lebih lanjut dan penyelesaian damai atas sengketa yang ada.
Sumber: AntaraNews
Advertisement