Warga Pombatan, Sumatra Barat heboh. Ada temuan lubang raksasa misterius atau biasa disebut sinkhole.
Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara. Menjelaskan penyebab terjadinya sinkhole di kawasan pertanian Pombatan, Sumatera Barat, disebabkan oleh proses erosi buluh.
Proses ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses alamiah yang berlangsung secara berkelanjutan.
Plt. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi pada batuan berbutir halus dengan curah hujan yang cukup tinggi.
"Proses pembentukan sinkhole ini berbeda dengan proses pembentukan sinkhole pada batugamping," ucap Lana dalam keterangannya, Bandung, Selasa (6/1).
Lana juga menambahkan bahwa analisis yang dilakukan oleh Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi menunjukkan bahwa amblesan terjadi akibat adanya rekahan di permukaan lapukan batuan tuff. Di bawah lapisan tersebut terdapat batu gamping malihan yang bersifat kedap air (impermeable), yang memicu terjadinya proses ini. Rekahan tersebut berfungsi sebagai saluran untuk air masuk ke dalam tanah.
Air yang mengalir melalui rekahan ini menyebabkan terjadinya proses erosi buluh. Akibat dari proses erosi buluh, terbentuk rongga di bawah tanah yang kemudian diikuti oleh runtuhnya tanah permukaan, sehingga menciptakan sinkhole.
"Lubang yang terbentuk akibat sinkhole dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan air dengan membuat pagar pengaman di sekitar lubang," imbuh Lana.
Apabila mulai muncul retak dan rekahan yang semakin besar, masyarakat diharapkan untuk melakukan pemantauan dan melaporkan kepada aparat setempat agar dapat berkoordinasi dengan instansi yang berwenang.
Selain itu, masyarakat setempat juga diimbau untuk tetap tenang jika mendengar suara gemuruh dari permukaan tanah. "Peristiwa seperti ini berpotensi terjadi pada lokasi lain di lahan pertanian sekitarnya," jelas Lana.
Advertisement
Proses Pengikisan Buluh
Lana menjelaskan bahwa erosi buluh merupakan proses pengikisan tanah yang disebabkan oleh aliran air bawah permukaan yang membentuk saluran atau pipa. Ia mengutip pernyataan Boucher, S.C. (1990) mengenai hal ini. Menurut Bernatek-Jakiel, A. & Poesen, J. (2018), ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya erosi buluh, seperti jenis batuan yang terdiri dari mineral lempung, batuan bertekstur halus, serta tingginya intensitas curah hujan.
"Proses kejadian terbentuk rekahan secara perlahan yang menjadi jalur aliran air bawah tanah," katanya.
Selain itu, penggunaan lahan yang tidak tepat, seperti pertanian intensif dan sistem irigasi yang buruk, juga berkontribusi terhadap masalah ini. Ditambah lagi, adanya gradien hidraulik air tanah dapat memperburuk kondisi tersebut.
Data yang diperoleh di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat menunjukkan bahwa jenis batuan di lokasi tersebut adalah mineral lempung dan batuan bertekstur halus. Lana juga menjelaskan bahwa Formasi Tuff Batu Apung (Qpt) terdiri dari batu apung (pumice).
Di bagian bawah formasi ini, terdapat Anggota Batugamping Formasi Kuantan (PCkl) yang berupa batu gamping malihan, merujuk pada Peta Geologi Lembar Solok, Sumatera dengan skala 1:250.000 yang diterbitkan oleh Badan Geologi pada tahun 1995.
"Berdasarkan foto dari laporan masyarakat, tanah pelapukan batu apung memiliki ukuran butir lempung. Batu gamping malihan ini bersifat kedap air (impermeable)," ungkap Lana.
Sebelum terjadinya sinkhole, laporan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa kawasan tersebut sering mengalami hujan dengan intensitas tinggi, dengan rata-rata curah hujan mencapai 2000 hingga 2500 mm per tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa kondisi cuaca yang ekstrem dapat memperburuk proses erosi dan berkontribusi pada pembentukan fenomena geologi seperti sinkhole.
Advertisement
Misteri Lubang Raksasa Muncul di Limapuluh Kota
Sebelum terjadinya fenomena amblesan, Badan Geologi Kementerian ESDM menginformasikan adanya rekahan yang terbentuk. Sawah yang sebelumnya mengalami retakan akibat kemarau tiba-tiba runtuh dan membentuk lubang besar. Lubang tersebut terus melebar dan dari dalamnya terdengar suara dentuman yang berasal dari air.
Sebagian besar area di sekitar sinkhole ini merupakan lahan pertanian Pombatan yang dikelola oleh masyarakat setempat. Lana mengungkapkan bahwa genangan air dalam sinkhole disebabkan oleh aliran air tanah yang muncul. Fenomena amblesan ini terjadi pada tanggal 4 Januari 2026 di Kawasan Pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota.
Fenomena ini ditandai dengan terbentuknya lubang amblesan selebar 20 meter dan kedalaman 15 meter. Umumnya, amblesan terjadi pada batugamping, namun di Kawasan Pertanian Pombatan, fenomena ini terjadi pada endapan lapukan batuan vulkanik.
Dilansir dari Antara, fenomena sinkhole yang terjadi di kawasan tersebut semakin mengejutkan masyarakat pada Minggu, 4 Januari 2026, sekitar pukul 11.00 WIB. Sebab, 24 jam setelah munculnya "lubang misterius" tersebut, debit air dalam lubang semakin meluap dan menggenangi sawah yang sebelumnya retak-retak akibat kemarau.
"Iya. Air di dalam lubang, kini bertambah naik ke atas sawah. Airnya terlihat seperti air dalam telaga biru. Saya cemas, air yang naik membuat lubang tambah besar," ungkap Adrolmios alias Si Ad, 61, pemilik sawah, saat diwawancarai oleh wartawan pada Senin siang, 5 Januari.
Plt Wali Nagari Situjuah Batua, Emil Nofri Ihsan Dt Rajo Simarajo, serta Kepala Jorong Tepi, Salmi, mengonfirmasi bahwa air dalam lubang yang diduga sinkhole itu terus meningkat. Bahkan, air tersebut telah menggenangi seluruh area sawah. Untuk mengantisipasi dan menjaga keamanan ribuan warga yang datang silih berganti, Polsek Situjuah Limo Nagari tidak hanya memasang police line, tetapi juga menerjunkan personel untuk berjaga di lokasi. Anggota Komisi DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang berada di lokasi, meminta BPBD Limapuluh Kota sebagai mitra kerjanya di Komisi II Bidang Ekonomi Pembangunan, Kebencanaan, dan Lingkungan Hidup, untuk menyurati Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Langkah ini dianggap penting untuk antisipasi dan penanganan bencana.
"Koordinasi lisan yang sudah dilakukan BPBD Limapuluh Kota perlu diiringi dengan bersurat kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian ESDM, agar menurunkan ahli untuk meneliti fenomena alam ini. Dengan kajian ahli, pemerintah daerah dapat memberikan solusi dan mengambil langkah antisipatif, sehingga warga tidak cemas dan tidak muncul spekulasi liar," jelas Fajar Rillah Vesky.
Meskipun fenomena alam ini terjadi pada awal tahun anggaran pemerintah daerah, menurut Fajar Rillah Vesky, kajian cepat dan tindakan kedaruratan bencana harus tetap diambil oleh BPBD dan OPD pengampu SPM layanan sosial.
Termasuk memberikan bantuan tanggap darurat kepada para penggarap sawah yang tidak dapat beraktivitas ekonomi karena sawahnya terus didatangi oleh ribuan masyarakat yang penasaran dengan fenomena alam ini.