BNPB Siapkan Tenda Sekolah Peleton untuk Dukung Pembelajaran di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) siapkan tenda sekolah peleton standar untuk mendukung kelangsungan pembelajaran di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mulai 5 Januari 2026, memastikan pendidikan tetap berjalan pasca-bencana.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BNPB Siapkan Tenda Sekolah Peleton untuk Dukung Pembelajaran di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan tenda berkapasitas besar sebagai kelas darurat untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlanjut di wilayah Sumatra yang terdampak banjir parah. (AntaraNews)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah proaktif dalam memastikan kelangsungan pendidikan di wilayah terdampak bencana. Mereka menyiapkan tenda peleton sebagai fasilitas belajar sementara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dukungan ini akan mulai beroperasi pada 5 Januari 2026 mendatang.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa tenda-tenda ini merupakan tenda pengungsian standar yang mampu menampung 30 hingga 50 orang. Tenda tersebut akan dimodifikasi dengan membuka penutupnya hingga batas atap untuk menciptakan ruang belajar yang memadai. Penggunaan tenda serupa telah berhasil diterapkan di Sumatera Barat sejak minggu kedua Desember 2025 untuk ujian akhir semester.

Penyediaan tenda peleton ini menjadi solusi vital mengingat banyaknya sekolah yang terdampak bencana banjir dan longsor di ketiga provinsi tersebut. Sejumlah titik di Provinsi Aceh, yang mengalami dampak paling besar, menjadi prioritas utama. Tenda-tenda ini berfungsi sebagai dukungan cadangan bagi sekolah yang proses pembersihannya belum rampung sebelum dimulainya kegiatan belajar mengajar.

Dukungan BNPB dengan Tenda Peleton Standar

BNPB telah menyiagakan tenda peleton di berbagai lokasi strategis untuk mendukung pembelajaran pasca-bencana. Tenda-tenda ini dirancang sesuai standar tenda pengungsian, namun diadaptasi khusus untuk kebutuhan pendidikan. Dengan membuka sebagian penutupnya, tenda ini dapat berfungsi optimal sebagai ruang belajar sementara yang nyaman dan aman.

Abdul Muhari menegaskan bahwa pengalaman serupa telah dilakukan di Sumatera Barat pada Desember 2025, menunjukkan efektivitas solusi ini. Penempatan tenda peleton ini difokuskan pada daerah-daerah yang paling membutuhkan. Di Aceh, misalnya, lima tenda disiapkan di Pidie Jaya, lima di Bener Meriah, serta beberapa di Gayo Luwes dan Bireuen.

Dukungan tenda sekolah ini bersifat cadangan, ditujukan untuk titik-titik sekolah yang mungkin belum selesai dibersihkan. Tujuannya adalah memastikan tidak ada penundaan dalam proses belajar mengajar yang akan dimulai pada Senin depan, 5 Januari 2026. Dengan demikian, siswa dapat melanjutkan pendidikan mereka tanpa hambatan berarti akibat kerusakan infrastruktur sekolah.

Kondisi Sekolah Terdampak Bencana di Sumatra

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti sebelumnya menyampaikan bahwa sebagian besar sekolah yang terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh dan Sumatera sudah mulai beroperasi. Sebanyak 85 persen dari total sekolah terdampak telah kembali berfungsi normal.

Dari total 4.149 sekolah yang terdampak, 3.508 di antaranya sudah dapat digunakan kembali oleh siswa. Namun, masih ada 54 sekolah yang terpaksa melaksanakan pembelajaran menggunakan tenda. Hal ini disebabkan kondisi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan sangat serius, bahkan sebagian di antaranya rusak total dan tidak dapat digunakan.

Situasi ini menunjukkan tantangan besar dalam pemulihan sektor pendidikan pasca-bencana. Meskipun upaya pemulihan telah berjalan masif, kebutuhan akan fasilitas belajar sementara seperti tenda sekolah masih sangat tinggi. Fokus BNPB dan Mendikdasmen adalah memastikan setiap anak memiliki akses ke pendidikan, terlepas dari kondisi infrastruktur yang ada.

Distribusi Tenda Darurat dan Proses Pembersihan Sekolah

Distribusi tenda darurat untuk sekolah telah dilakukan secara merata di wilayah terdampak. Di Aceh, sebanyak 14 tenda sekolah darurat telah didirikan. Sementara itu, Sumatera Barat menerima 21 tenda, dan Sumatera Utara mendapatkan 19 tenda untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti merinci bahwa sekolah yang sudah beroperasi di Aceh mencapai 2.226 unit atau 81 persen, di Sumatera Barat 380 unit atau 86 persen, dan di Sumatera Utara 902 unit atau 95 persen. Angka-angka ini menunjukkan progres signifikan dalam upaya pemulihan pendidikan di daerah tersebut.

Meskipun demikian, masih terdapat sejumlah sekolah yang dalam proses pembersihan dan belum dapat digunakan. Sebanyak 516 sekolah di Aceh, 42 di Sumatera Barat, dan 29 di Sumatera Utara masih memerlukan penanganan. Total ada 587 sekolah yang masih dalam tahap pembersihan, menyoroti skala pekerjaan yang masih harus diselesaikan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi