Kemenag Pastikan 440 Madrasah Terdampak Bencana di Aceh Siap PBM 5 Januari

Kanwil Kemenag Aceh memastikan Kesiapan Madrasah Aceh, dengan 440 madrasah terdampak bencana siap memulai Pembelajaran Tatap Muka pada 5 Januari 2026.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenag Pastikan 440 Madrasah Terdampak Bencana di Aceh Siap PBM 5 Januari
Kanwil Kemenag Aceh menyatakan 440 madrasah terdampak bencana di Aceh siap PBM 5 Januari 2026, sementara 60 lainnya diupayakan dengan sistem darurat. (AntaraNews)

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh telah mengumumkan bahwa sebagian besar madrasah yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di wilayah tersebut siap menyambut Pembelajaran Tatap Muka (PBM) pada 5 Januari 2026. Dari total 500 madrasah semua tingkatan yang terkena dampak, sebanyak 440 di antaranya telah dinyatakan siap untuk memulai kegiatan belajar mengajar.

Kesiapan ini merupakan hasil koordinasi intensif dan upaya tanggap darurat yang dilakukan oleh Kemenag Aceh guna memastikan keberlangsungan pendidikan bagi para siswa. Meskipun dihadapkan pada tantangan besar akibat bencana, komitmen untuk memulihkan aktivitas belajar mengajar menjadi prioritas utama demi masa depan generasi muda Aceh.

Sementara itu, 60 madrasah lainnya yang belum sepenuhnya siap akan tetap diupayakan untuk dapat melaksanakan PBM melalui sistem kedaruratan. Kemenag Aceh terus mencari solusi adaptif agar tidak ada siswa yang tertinggal dalam proses belajar, bahkan di tengah kondisi yang serba terbatas.

Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka di Tengah Bencana

Ketua Satgas Tanggap Darurat Kanwil Kemenag Aceh, Khairul Azhar, mengonfirmasi bahwa berdasarkan data rekapan kesiapan dari kabupaten/kota terdampak, 440 madrasah telah siap untuk PBM pada 5 Januari 2026. Angka ini menunjukkan progres signifikan dalam upaya pemulihan pascabencana, memastikan Kesiapan Madrasah Aceh untuk kembali beraktivitas.

Untuk 60 madrasah yang masih memerlukan penyesuaian, proses PBM akan diimplementasikan secara bertahap. Khairul Azhar menjelaskan bahwa pembelajaran akan dimulai di kelas-kelas yang sudah siap, bahkan jika hanya sebagian kecil ruang kelas yang dapat digunakan. Ini adalah langkah proaktif untuk menjaga momentum pendidikan tetap berjalan.

Kemenag Aceh berkomitmen penuh untuk terus berkoordinasi dengan petugas di daerah. Tujuannya adalah untuk menyediakan fasilitas pembelajaran yang memadai, baik melalui tenda darurat maupun lokasi alternatif lainnya. Upaya ini menjadi bagian integral dari strategi Kesiapan Madrasah Aceh dalam menghadapi situasi darurat.

Solusi Adaptif untuk Madrasah Terdampak Parah

Bagi madrasah yang mengalami kerusakan parah, seperti hilang atau roboh total, Kemenag Aceh telah menyiapkan berbagai alternatif pembelajaran. Solusi ini mencakup penggunaan tenda-tenda darurat atau relokasi sementara ke tempat yang lebih aman dan layak untuk kegiatan belajar. Strategi ini menunjukkan fleksibilitas dalam memastikan Kesiapan Madrasah Aceh untuk beradaptasi.

Sebagai contoh, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 5 Pidie Jaya di Desa Seunong, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, yang hilang diterjang banjir, kini menampung anak-anak untuk belajar di balai pengajian desa setempat. Ini adalah wujud nyata dari adaptasi dan pemanfaatan fasilitas komunitas untuk mendukung pendidikan.

Khairul Azhar menambahkan bahwa situasi serupa juga diterapkan di daerah lain. Jika lokasi madrasah tidak memungkinkan untuk digunakan, para siswa akan ditampung di tempat-tempat pengungsian atau fasilitas umum lainnya yang dapat difungsikan sebagai ruang belajar sementara.

Madrasah Berperan Ganda sebagai Posko Pengungsian

Selain terdampak langsung oleh banjir dan tanah longsor, beberapa madrasah di Aceh juga memiliki peran ganda sebagai titik pengungsian. Madrasah-madrasah di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah dimanfaatkan untuk menampung warga yang dievakuasi akibat peningkatan aktivitas Gunung Burni Telong yang berstatus siaga.

Peningkatan status Gunung Burni Telong menjadi siaga sejak 30-31 Desember 2025 menyebabkan sejumlah warga harus mengungsi demi keselamatan mereka. Dalam kondisi ini, Kemenag Aceh memastikan bahwa meskipun madrasah digunakan sebagai tempat pengungsian, upaya untuk menyediakan fasilitas pembelajaran bagi siswa tetap menjadi prioritas.

Kemenag Aceh terus berkoordinasi dengan pihak terkait di daerah untuk memastikan ketersediaan sarana belajar. Baik di tenda darurat maupun lokasi lain yang memungkinkan, komitmen untuk menjaga Kesiapan Madrasah Aceh dalam menyelenggarakan pendidikan tidak akan surut.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi