Makna Nawala Kekancingan Pemberian PB XIV Purboyo untuk Takmir Masjid Agung

Purboyo didampingi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Panembahan Dipokusumo dan sejumlah kerabat.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Makna Nawala Kekancingan Pemberian PB XIV Purboyo untuk Takmir Masjid Agung
Makna Nawala Kekancingan Pemberian PB XIV Purboyo untuk Takmir Masjid Agung (Merdeka.com)

Paku Buwono (PB) XIV Purboyo melaksanakan ibadah salat Jumat di Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta, Jumat (2/1). Usai salat Jumat, Purboyo menemui Ketua Takmir Masjid Agung, KRT Muhammad Muhtarom di kantornya. Purboyo didampingi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Panembahan Dipokusumo dan sejumlah kerabat.

Kedatangan Purboyo untuk memberikan 'Nawala kekancingan' atau surat tugas yang baru kepada Muhtarom sebagai Penghulu Tafsir Anom atau takmir masjid. Putra bungsu PB XIII itu menganggap takmir masjid merupakan bagian tak terlepaskan dari keraton. Sehingga sudah sepantasnya menerima Nawala Kelancingan.

"Ya karena bagian dari Keraton Kasunanan ya tidak bisa terlepaskan, jadi ya pastinya semua niatnya baik ya tidak ada salahnya juga. Nawala itu kan, Kanjeng Muhtarom beliau kan yang di Masjid Agung," ujar Purboyo.

Nawala Kekancingan tersebut diberikan agar tugas-tugas Muhtarom sebagai takmir masjid lebih jelas.

Wakil Pengageng Sasono Wilopo, KRMT Pustokoningrat mengemukakan, apa yang dilakukan Purboyo tersebut untuk memperjelas apa yang juga dilakukan raja raja Kasunanan Surakarta sebelumnya.

"Seorang raja yang jumeneng sebagai 'Sayidin Panatagama wajib menetapkan kembali paugeran (aturan) yang harus dipegang teguh oleh takmir masjid Keraton Surakarta," katanya.

3 Hal Pokok Dipegang Teguh

Menurut Pustokoningrat, ada 3 hal pokok yang harus dipegang teguh oleh seorang syarat takmir masjid. Yakni setia kepada Keraton Kasunanan Surkarta Hadiningrat, Susuhunan PB XIV, serta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Yang kedua harus melayani umat dan melestarikan adat tatacara yang masih berlaku di Masjid Agung," ungkapnya.

Akidah Dipegang Teguh

Sedangkan yang paling pokok, yang harus dipegang teguh terkait akidah, lanjut dia, adalah Madzhab Ahlussunnah wal Jamaah. Selain meneladani para raja leluhur, seperti Demak, Kartasura dan Surakarta, juga para wali di tanah Jawa.

"Yang ketiga mengenai Mahdzab mengenai Fiqihnya ini yang sudah dianut ratusan tahun sejak Islam masuk ke Nusantara ialah harus mengikuti Mahdzab Imam Syafei," jelasnya.

Rekomendasi