PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP) melaporkan laba bersih sebesar Rp 46 miliar hingga kuartal III 2025. Kinerja ini mencerminkan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan profitabilitas meskipun menghadapi inflasi bahan baku dan peningkatan biaya distribusi yang mengancam sektor FMCG.
"Laba bersih tercatat Rp 46 miliar, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Tekanan margin yang terjadi seperti inflasi bahan baku, kenaikan biaya distribusi, dan penurunan harga jual rata-rata merupakan fenomena yang dirasakan secara luas di sektor FMCG," ungkap Sekretaris Perusahaan Campina Ice Cream Industry, Sagita Melati, dalam Paparan Publik Campina, Senin (15/12/2025).
Penurunan laba bersih ini terlihat dari perbandingan dengan periode sebelumnya. Selain itu, meningkatnya beban pokok penjualan, terutama disebabkan oleh kenaikan biaya material langsung yang proporsinya terhadap penjualan meningkat menjadi 31,33% hingga kuartal III 2025, turut berkontribusi pada penurunan tersebut.
"Dari struktur biaya, komponen direct material menjadi kontributor utama yang mengalami peningkatan proporsi terhadap penjualan. Dari 30,39% pada kuartal III tahun 2024 menjadi 31,33% pada kuartal III tahun 2025," jelasnya.
Meskipun demikian, Campina mampu menjaga biaya tenaga kerja dan overhead pabrik agar tetap terkendali. Stabilitas dalam struktur biaya non-bahan baku ini memberikan dukungan bagi perusahaan untuk terus mencetak laba di tengah tekanan biaya utama.
Advertisement
Pemulihan laba diharapkan melalui efisiensi operasional
Untuk memastikan kinerja laba yang berkelanjutan, Campina terus menerapkan berbagai inisiatif untuk efisiensi operasional. Inisiatif tersebut mencakup pengendalian biaya penjualan, optimalisasi distribusi, serta penyesuaian portofolio produk agar lebih sesuai dengan preferensi dan daya beli konsumen.
Di pasar modal, laba bersih yang tercatat sebesar Rp 46 miliar hingga kuartal III 2025 menjadi sinyal bahwa Campina masih mampu mempertahankan profitabilitas meskipun berada dalam kondisi yang menantang. Hal ini menjadikan saham Campina tetap menarik bagi para investor yang berfokus pada jangka menengah hingga panjang.
"Trend ini menunjukkan kemampuan perseroan dalam menjaga top line secara konsisten, meskipun dihadapkan pada periode tekanan konsumsi dan disrupsi eksternal," ujarnya. Dengan langkah-langkah strategis yang diambil, diharapkan Campina dapat terus beradaptasi dengan dinamika pasar dan mempertahankan posisinya di industri.
Advertisement
Pendapatan Campina menunjukkan kinerja yang baik dalam sektor bisnis es krim
Di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional dan kecenderungan konsumsi rumah tangga yang lebih selektif, perusahaan masih berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,14% secara tahunan, mencapai Rp 860 miliar hingga kuartal III 2025.
"Kinerja yang relatif resilient di tengah dinamika makroekonomi. Dalam konteks tersebut, Campina mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,14% year-on-year menjadi Rp 860 miliar, sejalan dengan laju pertumbuhan industri es krim nasional yang sedikit melambat," ujarnya.
Kinerja ini menunjukkan bahwa meskipun industri es krim nasional mengalami perlambatan, perusahaan tetap mampu menjaga volume penjualan dan momentum komersialnya.