ACF Eduhub Berkomitmen Tingkatkan Kualitas Pendidikan Nasional Lewat Kolaborasi dan Program Inovatif

ACF Eduhub berkomitmen tingkatan kualitas pendidikan di Indonesia melalui berbagai program dan kolaborasi, termasuk 'Education Outlook 2026' dan Guruverse.id, untuk menjawab tantangan pendidikan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
ACF Eduhub Berkomitmen Tingkatkan Kualitas Pendidikan Nasional Lewat Kolaborasi dan Program Inovatif
ACF Eduhub, lembaga pendidikan dan sosial, menegaskan komitmennya untuk tingkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui berbagai program inovatif dan kolaborasi erat dengan pemerintah, menjawab tantangan kompetensi guru. (AntaraNews)

Anak Ceria Foundation (ACF) Eduhub, sebuah lembaga pendidikan dan sosial, menunjukkan komitmen kuatnya dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Mereka secara aktif berkolaborasi dengan pemerintah untuk membangun ekosistem pendidikan yang mumpuni dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Direktur ACF Eduhub, Ivan Supangat, menegaskan bahwa lembaganya bertekad penuh untuk terus berkontribusi dalam memajukan pendidikan nasional. Komitmen ini diwujudkan melalui serangkaian program strategis yang menyasar berbagai aspek pendidikan, mulai dari formal hingga nonformal.

Upaya ini dilakukan untuk menjawab tantangan pendidikan Indonesia, termasuk kesenjangan kualitas guru, akses pengembangan yang belum merata, serta kebutuhan pembelajaran yang relevan dengan perubahan zaman yang serba cepat. ACF Eduhub berupaya menghadirkan solusi konkret dan berkelanjutan.

Komitmen ACF Eduhub dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan

ACF Eduhub menjalankan tiga program utama yang menjadi pilar dalam peningkatan kualitas pendidikan. Program-program tersebut meliputi pendidikan formal melalui 12 Sekolah Juara, pendidikan nonformal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ceria, serta program pelatihan guru yang inovatif.

Melalui program "Ceria Training Centre", ACF Eduhub telah berhasil memberdayakan sebanyak 1.312 guru, membekali mereka dengan kompetensi yang relevan. Keberhasilan ini menunjukkan dampak nyata dari inisiatif lembaga dalam mendukung peningkatan profesionalisme pendidik.

Baru-baru ini, ACF Eduhub juga sukses menggelar acara "Education Outlook 2026" yang dihadiri oleh 150 peserta luring dan lebih dari 500 peserta daring. Kegiatan ini melibatkan guru, mahasiswa kependidikan, pemangku kebijakan, serta pemerhati pendidikan, menjadikannya forum penting untuk diskusi dan kolaborasi.

Kegiatan "Education Outlook 2026" ini selaras dengan fokus pemerintah dalam meningkatkan kompetensi guru melalui Program Profesi Guru (PPG), pengembangan pelatihan berbasis digital dan AI, serta penguatan platform "Merdeka Mengajar". Inisiatif ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dan dampak nyata bagi transformasi pendidikan di Indonesia.

Urgensi Peningkatan Kompetensi Guru di Indonesia

Dalam diskusi "Education Outlook 2026", Founder Guruverse.ID, Dr. Muhammad Sobirin, menyoroti pentingnya kolaborasi dalam pendidikan. Ia menyatakan, "Kami pernah mendengar istilah butuh satu kampung untuk mendidik satu orang." Hal ini menekankan bahwa pendidik perlu saling terhubung untuk membentuk individu yang utuh.

Dari kesadaran kolektif tersebut, lahirlah kebutuhan akan ruang kolaboratif yang terstruktur dan berdampak, guna melahirkan guru yang kompeten dan mampu mentransformasi murid dari sekadar tahu menjadi benar-benar paham. Semangat ini kemudian diwujudkan melalui peluncuran Guruverse.id, sebuah inisiatif baru ACF Eduhub.

Guruverse.id bertujuan untuk memperkuat kompetensi guru melalui pelatihan, komunitas, mentoring, dan publikasi karya, menyediakan ekosistem yang mendukung pengembangan profesional berkelanjutan. Inisiatif ini sangat relevan mengingat kondisi kompetensi guru di Indonesia.

Perwakilan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat, Dr. Sugito Adi Warsito, menekankan urgensi peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Ia mengungkapkan bahwa hasil uji kompetensi guru tahun 2016 menunjukkan rata-rata nilai hanya 42,3 persen, yang berarti masih terdapat defisit kompetensi sebesar 56,7 persen.

Dr. Sugito mengibaratkan defisit kompetensi ini dengan seorang pilot yang memiliki kompetensi 95 persen, namun masih menyisakan keraguan. "Lalu bagaimana jika guru memiliki defisit lebih dari 50 persen?" tanyanya, menegaskan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas guru hari ini dan peningkatannya membutuhkan komitmen serta kolaborasi semua pihak.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi