Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengerahkan mobil laboratorium keliling sebagai upaya memperkuat pengawasan, mitigasi risiko, dan percepatan penanganan di lapangan. Hal itu buntut lonjakan kasus siswa keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), membuat pengawasan keamanan pangan menjadi isu mendesak.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar mengatakan bahwa cakupan program makan bergizi gratis (MBG) sangat luas, dengan 82,6 juta penerima manfaat setiap hari yang dilayani melalui 30.000 SPPG di seluruh Indonesia. Skala sebesar ini, secara alami menciptakan tantangan besar di sisi pengawasan.
"Jadi, kita tahu bahwa pelaksanaan makan bergizi gratis itu pekerjaan yang sangat berat, tetapi mulia dan sangat penting bagi negeri kita," kata Taruna di sela peluncuran Mobil Laboratorium Keliling di Kantor BBPOM Semarang, Kamis (4/12).
Dia menyebut, jumlah penyedia pangan (SPPI) maupun penjamah pangan yang besar membuat potensi deviasi kualitas tidak dapat dihindari. Karena itu, pengawasan yang kuat menjadi mandat penting sebagaimana diatur dalam Perpres Nomor 115 Tahun 2025.
"Konteks ini maka tentu salah satu hal yang sangat penting yaitu proses pengawalannya, proses pengawasannya, dan proses mitigasinya. Lembaga yang ditunjuk Badan Pengawas Obat dan Makanan,” ungkapnya.
BPOM tidak dapat bekerja sendirian karena tidak semua wilayah memiliki unit pelaksana teknis. Dengan hadirnya mobil laboratorium keliling menjadi solusi agar daerah yang belum terlayani tetap mendapatkan pemeriksaan teknis.
"Maka kami sebut dengan laboratorium mobil, laboratorium keliling bisa terlayani secara teknis lewat laboratorium perjalanan tersebut,” jelasnya.
Advertisement
Percepat Identifikasi Penyebab Keracunan
Layanan mobil laboratorium ini berfungsi mempercepat identifikasi penyebab jika terjadi insiden keracunan. Dengan deteksi dini, pemerintah dapat melakukan mitigasi dan pencegahan pada rantai pasok MBG.
"Faktor yang lebih penting lagi tentu bagaimana proses mitigasinya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya terjadi keracunan, proses identifikasi penyebab terjadinya atau etiologinya kita bisa deteksi,” ujarnya.
BPOM juga menyiapkan laboratorium regional untuk memperkuat respons cepat di tiap wilayah. Sistem ini akan menjadi jaringan penunjang untuk pendeteksian, mitigasi, hingga edukasi publik.
"Edukasi tidak hanya menyasar penjamah pangan dan penyedia MBG, tetapi juga masyarakat luas, terutama siswa sebagai kelompok penerima manfaat terbesar," ujarnya.
Advertisement
Bergerak Sesuai Kebutuhan Daerah
Taruna memastikan mobil itu akan bergerak sesuai kebutuhan daerah, baik ke SPPG maupun ke sekolah-sekolah berisiko tinggi.
"Tentu ya kita akan sesuaikan dengan standar yang kita miliki termasuk ke sekolah-sekolah atau SPPG. Kita akan lakukan tergantung daerah mana yang membutuhkan dan tidak hanya satu tentu ada beberapa nanti," ujarnya.
BPOM sendiri telah memiliki puluhan mobil laboratorium di berbagai wilayah dan jumlahnya akan terus bertambah. Sedangkan teknisnya BPOM menerapkan metode surveilans berbasis risiko, sehingga daerah yang dianggap lebih rentan akan menjadi prioritas.
"Jadi kita akan hitung daerah-daerah tertentu yang mungkin resikonya tinggi itu akan lebih banyak tetap digunakan dibanding resiko-resiko yang kecil. Karena 30.000 (SPPG) tidak mungkin kita datangi semuanya,” pungkasnya.