Sebanyak 16 orang ditangkap diduga terlibat penjarahan minimarket di Sibolga, Sumatera Utara. Aksi penjarahan merupakan buntut dari krisis pangan usai wilayah tersebut diterjang banjir bandang.
"Benar, ada 16 orang yang diamankan oleh Polres Sibolga terkait dugaan penjarahan," ujar Kasubbid Penmas Bidang Humas Polda Sumut, AKBP Siti Rohani Tampubolon, saat memberikan keterangan kepada wartawan pada hari Senin (1/12).
Para terduga pelaku penjarahan minimarket tersebut memiliki inisial (20), SS (24), AZ (27), ZR (24), OFH (18), ART (19), DH (20), ISS (18), A (18), MS (18), BA (18), ER (21), DAM (18), ABS (18), D (18), dan BNH (17).
"Beberapa minimarket menjadi sasaran massa yang melakukan penjarahan," jelasnya.
Ia mengungkap ada 7 gerai minimarket yang dijarah, termasuk Indomaret yang terletak di Jalan Singamaraja di depan SPBU Kebun Jambu, serta beberapa lokasi lainnya seperti di Jalan Suprapto dan Jalan Sibolga-Barus.
Penjarahan tersebut terjadi pada hari Sabtu (29/11). Siti menegaskan bahwa 16 orang yang diamankan tidak terlibat dalam penjarahan yang terjadi di Gudang Bulog Sarudik, Kota Sibolga. "Tidak, tidak terjadi di Bulog," tegasnya. Dalam situasi seperti ini, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak jelas.
"Pemerintah dan TNI/Polri sedang melakukan pendistribusian bantuan secara maksimal ke titik-titik pengungsian dan lokasi-lokasi yang terdampak bencana alam ini," imbuhnya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa kebutuhan dasar masyarakat yang terkena dampak dapat terpenuhi dengan baik.
Advertisement
Penyebab Aksi Penjarahan
Video yang menjadi viral menunjukkan ratusan warga melakukan penjarahan di sebuah minimarket di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara. Insiden ini diduga terjadi sebagai dampak dari ketidakmerataan distribusi bantuan logistik akibat bencana alam yang melanda daerah tersebut antara 24 hingga 29 November 2025.
Tapteng merupakan salah satu daerah yang paling parah terkena dampak, sehingga banyak warga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi. Salah satu warga Tapteng, Damai, mengonfirmasi bahwa kejadian penjarahan minimarket yang viral di media sosial tersebut memang benar adanya. Dia juga mengakui bahwa bantuan logistik yang diterima masyarakat tidak merata akibat bencana alam yang terjadi.
“Chaos (penjarahan) di depan mata sekarang ini,” ungkap Damai saat dihubungi oleh wartawan melalui WhatsApp pada Sabtu malam, (28/11).
Aksi penjarahan ini terjadi karena kurangnya informasi mengenai manajemen penyaluran logistik dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapteng, Pemprov Sumut, maupun Pemerintah Pusat. Dalam situasi bencana alam ini, masyarakat merasa terpaksa untuk berjuang sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka.
“Kami, terutama di komplek aku tinggal, berjuang sendiri cari pasokan makanan dan air bersih. Tidak ada informasi apapun soal bantuan logistik,” tambah Damai.
Menurut Damai, ada banyak faktor yang mendorong masyarakat yang terdampak bencana alam untuk melakukan penjarahan minimarket. Banyak warga yang nekat melakukan tindakan tersebut demi memenuhi kebutuhan pokok yang sangat terbatas.
“Itu tentu salah satu penyebabnya. Selain sebab-sebab lain. Kondisi keterisoliran ini akan juga memicu angka kriminalitas,” jelasnya.
Di samping masalah pasokan pangan yang terbatas, Damai juga menyoroti bahwa kesehatan masyarakat yang terkena dampak bencana alam mulai terganggu. Sudah banyak warga yang mengalami sakit dan memerlukan penanganan medis yang segera.
“Potensi buruk lain di kesehatan, ribuan rumah sedang bersih-bersih dan sampahnya banyak dibakar,” tutur Damai.