Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta Tiru Aksi Ekstrem di Komunitas Online

Pelaku diketahui mengakses grup True Crime Community (TCC). Pola paparan yang terus-menerus membuat pelaku mencontoh aksinya tanpa memahami risiko.

Ady Anugrahadi
Oleh Ady Anugrahadi - Reporter
Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta Tiru Aksi Ekstrem di Komunitas Online
Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta Tiru Aksi Ekstrem di Komunitas Online (Merdeka.com)

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut, terduga pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara meniru aksi-aksi ekstrem yang ditemukan di komunitas daring.

Kepala BNPT Komjen Eddy Hartono mengatakan, rekrutmen radikal secara online kini menjadi tren baru. Para pelaku ini bukan direkrut lewat jalur ideologis klasik, melainkan lewat proses yang dalam kajian psikologis disebut memetic radicalization atau memetic violence.

"Bahwa rekrutmen secara online ini memang sedang tren ya. Bahwa di dalam kajian psikologis itu ada istilahnya namanya memetic radicalization atau memetic violence ya. Jadi dia lebih kepada meniru ide atau perilaku," kata Eddy dalam keterangannya dikutip, Rabu (19/11).

Dalam kasus SMAN 72, pelaku diketahui mengakses grup True Crime Community (TCC). Pola paparan yang terus-menerus membuat pelaku mencontoh aksinya tanpa memahami risiko.

"Nah itu tadi. Jadi dia bisa meniru ide perilaku apa yang terjadi, sehingga dia meniru supaya bisa dibilang hebat ya, supaya ada kebanggaan. Nah itu dari segi psikologis," ucap dia.

BNPT Libatkan Ahli Psikologis

Untuk menangani hal itu, BNPT menggandeng Kementerian PPPA, KPAI, Kemensos, hingga para ahli psikologi. Tim ini sedang memetakan kondisi psikologis para pelajar yang terpapar.

"Nah itulah yang kami sekarang dengan Kementerian PPA, dengan KPAI, kemudian Kemensos, melibatkan ahli-ahli psikologis untuk tadi itu, memetakan. Sehingga ketika diketahui secara psikologis apa yang terjadi, baru kita melakukan rehabilitasi," ucap dia.

Dia menekankan hasil kajian itu akan menentukan bentuk rehabilitasi yang dinilai paling tepat.

"Kira-kira rehab apa yang pas ketika orang atau anak-anak ini mengalami tekanan secara psikologis. Nah itu yang sekarang kita kembangkan," tandas dia.

Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Wardhana menambahkan, pelaku diketahui mengonsumsi jenis konten kekerasan dari dunia maya. Pola paparan inilah yang kemudian menjadi titik masuk radikalisasi.

"Kalau kejadian di SMA 72 kemarin, mereka sama-sama mengonsumsi website atau mungkin komunitas-komunitas kekerasan yang sama," ucap dia.

Fenomena ini menjadi perhatian serius Densus 88. Mayndra menegaskan perlunya pencegahan yang lebih ketat, mulai dari pengawasan aktivitas digital, edukasi literasi digital, hingga peran pengawasan dari orang tua.

"Ya ini menjadi perhatian untuk kita lebih serius lagi dalam melakukan pencegahan," tandas dia.

Rekomendasi