Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah strategis untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal di kancah internasional. Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno, telah menginstruksikan Dinas Pendidikan Jakarta untuk segera menambahkan mata pelajaran bahasa asing ke dalam kurikulum sekolah.
Kebijakan ini secara khusus akan menyasar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sekolah keperawatan vokasi, dan sekolah kedokteran vokasi di seluruh Jakarta. Penambahan pelajaran bahasa asing ini diharapkan dapat membekali para siswa dengan keterampilan yang esensial sebelum mereka memasuki dunia kerja, terutama bagi mereka yang berencana mencari pekerjaan di luar negeri.
Langkah proaktif ini diambil setelah melihat kendala bahasa yang kerap menjadi penghalang utama bagi tenaga kerja Indonesia. Dengan adanya persiapan bahasa sejak dini, diharapkan para lulusan sekolah di Jakarta akan lebih siap dan kompeten untuk bersaing di pasar kerja global yang semakin terbuka.
Advertisement
Advertisement
Kendala Bahasa dan Peluang Kerja Internasional
Penambahan pelajaran bahasa asing di sekolah-sekolah Jakarta merupakan respons langsung terhadap tantangan yang dihadapi tenaga kerja Indonesia. Wakil Gubernur Rano Karno menyoroti bahwa meskipun banyak warga Indonesia memiliki kesiapan teknis, kendala bahasa asing seperti Jepang, Mandarin, atau Inggris seringkali menjadi batu sandungan utama.
"Saya sudah menginstruksikan Kepala Dinas Pendidikan untuk menambah mata pelajaran bahasa di sekolah kejuruan, sekolah keperawatan vokasi, dan sekolah kedokteran vokasi untuk mempersiapkan siswa bekerja di luar negeri," ujar Rano Karno di Jakarta pada Kamis.
Ia juga menambahkan, "Sebenarnya, masyarakat kita siap untuk bekerja, tetapi masalah utamanya adalah bahasa asing. Terus terang, dinas pendidikan kita belum menyiapkan kemampuan bahasa sejak awal." Pernyataan ini menegaskan urgensi kebijakan untuk membekali siswa dengan kemampuan bahasa sejak dini.
Advertisement
Mulai tahun depan, Dinas Pendidikan Jakarta akan mengimplementasikan penambahan mata pelajaran bahasa asing ini ke dalam kurikulum. Harapannya, inisiatif ini dapat menciptakan tenaga kerja yang tidak hanya terampil secara teknis tetapi juga fasih berkomunikasi dalam berbagai bahasa.
Advertisement
Dukungan Pemerintah dan Data Peluang Kerja
Langkah Pemprov DKI Jakarta ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KPMI). Direktur Jenderal Penempatan KPMI, Ahnas, mengungkapkan bahwa permintaan tenaga kerja Indonesia dari luar negeri sangat tinggi, namun belum dapat terpenuhi secara optimal.
Ahnas menjelaskan bahwa hambatan utama dalam memenuhi permintaan tersebut adalah kurangnya kesiapan keterampilan teknis dan bahasa pada calon pekerja. "Ada permintaan yang tinggi untuk tenaga kerja Indonesia dari luar negeri. Namun, memenuhi permintaan ini terhambat oleh kurangnya kesiapan keterampilan teknis dan bahasa di antara calon pekerja," katanya.
Oleh karena itu, KPMI mendorong Pemerintah Provinsi Jakarta untuk mempersiapkan tenaga kerja sedini mungkin, dimulai dengan pembelajaran bahasa asing di tingkat sekolah menengah atas. Data KPMI menunjukkan bahwa hingga November 2025, terdapat sekitar 359.000 lowongan pekerjaan di luar negeri yang dapat diisi oleh warga Indonesia.
Advertisement
Dari jumlah tersebut, baru sekitar 70.000 lowongan yang berhasil terisi. Angka ini mengindikasikan potensi besar yang belum termanfaatkan akibat kendala yang disebutkan. Dengan kebijakan penambahan pelajaran bahasa asing, diharapkan kesenjangan ini dapat diminimalisir dan lebih banyak warga Jakarta dapat meraih peluang kerja global.
Sumber: AntaraNews