Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) secara proaktif telah menyiapkan empat pilar strategis. Langkah ini diambil untuk mencegah potensi bencana banjir dan tanah longsor yang kerap melanda wilayah tersebut. Kesiapsiagaan ini menjadi krusial mengingat prediksi puncak musim hujan.
Empat pilar tersebut meliputi penguatan regulasi kebencanaan, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), optimalisasi sarana dan prasarana, serta penguatan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Inisiatif ini disampaikan dalam Rapat Penyusunan Dokumen Rencana Kontinjensi (Renkon) Bencana Air Pasang Tinggi dan Gelombang Pasang (rob) Kalimantan Selatan 2025.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pelaksana BPBD Kalsel, Bambang Dedi Mulyadi, menjelaskan bahwa persiapan ini sangat penting. Menurut data dari BMKG Kalsel, puncak curah hujan tinggi di provinsi tersebut diperkirakan terjadi pada bulan November hingga Desember. Oleh karena itu, BPBD Kalsel berupaya maksimal untuk meminimalisir dampak yang mungkin timbul.
Advertisement
Advertisement
Penguatan Regulasi dan Kesiapsiagaan Bencana
Salah satu pilar utama yang menjadi fokus BPBD Kalsel adalah penguatan regulasi kebencanaan. Langkah ini bertujuan untuk memastikan kerangka hukum yang memadai dalam penanganan dan pencegahan bencana. Regulasi yang kuat akan mendukung pelaksanaan program mitigasi secara lebih efektif dan terstruktur di seluruh wilayah.
Dalam upaya konkret, BPBD Kalsel juga terus melakukan pengerukan sampah di aliran-aliran drainase yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan. Tindakan ini sangat penting untuk mencegah penyumbatan yang dapat memperparah kondisi banjir. Kesiapsiagaan menghadapi banjir menjadi prioritas utama bagi pemerintah daerah.
Bambang Dedi Mulyadi menegaskan bahwa 13 kabupaten/kota di Kalsel memang rawan banjir. Namun, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena BPBD Kalsel telah menyiapkan segala sesuatunya apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Persiapan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari evakuasi hingga penyaluran bantuan.
Advertisement
Optimisme muncul bahwa banjir besar seperti tahun-tahun sebelumnya tidak akan terjadi lagi. "Insya Allah tidak terjadi lagi banjir-banjir besar seperti tahun-tahun sebelumnya, karena potensi yang ada di BMKG itu hanya banjir rob dan untuk pembuangan airnya sudah dilakukan perbaikan tiap tahun jadi tidak ada lagi genangan-genangan air pasang di permukiman warga," ujar Bambang Dedi Mulyadi.
Advertisement
Peningkatan Sumber Daya Manusia dan Sarana Prasarana
Pilar kedua yang ditekankan oleh BPBD Provinsi Kalimantan Selatan adalah peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Saat ini, BPBD Kalsel telah memiliki kurang lebih 40 orang anggota yang sudah berlisensi sertifikasi nasional. Peningkatan kapasitas SDM ini memastikan bahwa personel yang bertugas memiliki keahlian dan pengetahuan yang mumpuni dalam penanggulangan bencana.
Selain itu, BPBD Kalsel juga telah melakukan peningkatan sarana dan prasarana penunjang. Ketersediaan peralatan yang memadai sangat vital untuk respons cepat dan efektif saat terjadi bencana. Investasi pada sarana dan prasarana ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan operasional di lapangan.
Advertisement
Peningkatan Kolaborasi dengan Stakeholder
Pilar keempat adalah peningkatan kolaborasi dengan para stakeholder terkait. Kerja sama yang erat dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, hingga komunitas, menjadi kunci sukses dalam mitigasi dan penanggulangan bencana. Kolaborasi ini memastikan koordinasi yang baik dan respons yang terintegrasi.
Melalui sinergi antarlembaga, diharapkan upaya pencegahan banjir dan tanah longsor dapat berjalan lebih optimal. Keterlibatan aktif dari semua pihak akan memperkuat sistem peringatan dini dan respons darurat. Dengan demikian, dampak bencana dapat diminimalisir secara signifikan.
Sumber: AntaraNews
Advertisement