Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur, Stasiun Tanah Abang kini tampil dengan wajah baru. Setelah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto, stasiun legendaris yang menjadi denyut transportasi ibu kota itu kini berubah total lebih modern, lebih luas, dan tentu saja, jauh lebih manusiawi.
Bagi ribuan penumpang yang saban hari keluar masuk stasiun ini, perubahan terasa sejak langkah pertama menapaki peron. Dari eskalator yang berfungsi mulus hingga lift yang akhirnya benar-benar beroperasi, semua terasa seperti mimpi yang jadi nyata.
"Sekarang Stasiun Tanah Abang udah jauh lebih nyaman dan lebih teratur tempatnya, jadi tidak menumpuk lagi,” ujar Endang (40), seorang pekerja yang baru saja keluar dari area tap out, Kamis (6/11).
Advertisement
Tak Ada Lagi ‘Senggol Bahu’ di Pintu Masuk
Dulu, Tanah Abang punya satu kenangan klasik “perang bahu” di pintu masuk. Mereka yang ingin cepat keluar beradu arah dengan yang ingin buru-buru masuk. Tubuh-tubuh lelah saling bersenggolan, dan amarah kecil kerap muncul di antara deru napas tergesa.
Kini, pemandangan itu tinggal cerita lama. Hasil revitalisasi menghadirkan jalur terpisah antara penumpang yang masuk dan keluar. Arus manusia pun lebih teratur, langkah terasa lebih ringan, dan ketegangan di jam sibuk perlahan sirna.
Penumpang kini bisa berjalan santai tanpa takut tersenggol atau terjebak kerumunan. Sebuah revolusi kecil yang mengubah wajah mobilitas urban menjadi lebih ramah manusia.
Advertisement
Berkah untuk Pengemudi Ojol
Perubahan tak hanya dirasakan penumpang. Para pengemudi ojek online pun turut memetik manfaat. Area penjemputan kini tertata rapi, dengan tenda-tenda mitra Grab dan Gojek berdiri di seberang stasiun. Tak ada lagi kerumunan acak yang dulu membuat lalu lintas tersendat.
“Setelah peresmian (Selasa lalu), penghasilan jadi lumayan bertambah,” kata Khairul Anwar, pengemudi Grab yang saban hari mangkal di Tanah Abang.
Meski begitu, Khairul masih punya satu keluhan. “Satu aja kendalanya, kalau lagi ramai jam 7-9 pagi, itu macet karena jalanan sempit,” ujarnya sambil tersenyum pasrah.
Advertisement
Dari Kekacauan Menuju Ketertiban
ebelum wajah barunya menelan biaya revitalisasi sekitar Rp380 miliar, Stasiun Tanah Abang adalah ironi: pusat transit paling sibuk di Jakarta, namun justru paling semrawut.
Tangga sempit, peron padat, dan ruang tunggu yang nyaris tak bisa disebut “ruang tunggu” adalah pemandangan sehari-hari.
Setiap jam sibuk, ribuan tubuh saling berdesakan. Di luar, barisan ojek online, bajaj, dan angkot menambah padat jalanan. Tanah Abang kala itu bukan sekadar stasiun melainkan simbol betapa beratnya Jakarta menata diri di tengah laju urbanisasi.
Kini, semuanya berubah. Ruang publik itu bertransformasi menjadi simpul modern yang tak hanya memindahkan orang, tapi juga memberi rasa nyaman. Hanya satu hal yang sepertinya masih sulit disingkirkan: macet di sekitar Tanah Abang warisan lama yang belum sepenuhnya tuntas.
Advertisement
Modernisasi yang Menyentuh Wajah Kota
Revitalisasi Tanah Abang bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan wujud nyata modernisasi transportasi perkotaan. Di balik bangunan megah dan fasilitas mutakhirnya, ada semangat baru: menjadikan perjalanan harian warga lebih manusiawi, tertib, dan efisien.
Wajah baru Tanah Abang menjadi pengingat bahwa Jakarta terus bergerak beradaptasi di tengah tantangan urban yang tak pernah usai. Dan di antara semua perubahan besar itu, hanya satu yang tampaknya tetap setia: kemacetan yang enggan pergi.
Reporter Magang : Muhammad Naufal Syafrie