Perkuat Mitigasi, Pemprov Jabar Akan Beli Radar Pendeteksi Bencana di 2026

Ia bilang, Jawa Barat belum memiliki perlengkapan tersebut hingga November 2025 ini, sementara banyak terjadi bencana belakangan.

Robby Bouceu
Oleh Robby Bouceu - Reporter
Perkuat Mitigasi, Pemprov Jabar Akan Beli Radar Pendeteksi Bencana di 2026
Perkuat Mitigasi, Pemprov Jabar Akan Beli Radar Pendeteksi Bencana di 2026 (Robby bouceu garnia)

Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana membeli radar pendeteksi bencana pada 2026. Langkah tersebut sebagai salah satu upaya dalam melengkapi logistik yang diperlukan untuk bersiap menghadapi potensi bencana.

Hal itu diungkapkan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ia bilang, Jawa Barat belum memiliki perlengkapan tersebut hingga November 2025 ini, sementara banyak terjadi bencana belakangan.

"Di 2026 kita pemda Jabar itu memiliki radar. Karena selama ini nggak punya radar," ujar Dedi setelah apel siaga bencana di Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (5/11).

Perkuat Mitigasi, Pemprov Jabar Akan Beli Radar Pendeteksi Bencana di 2026
Perkuat Mitigasi, Pemprov Jabar Akan Beli Radar Pendeteksi Bencana di 2026 Robby bouceu garnia

Diungkapkan Dedi, pengadaan radar tersebut akan menggunakan biaya dari APBD pemerintah provinsi. Sedangkan teknisnya nanti akan digunakan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Nah kita akan memiliki radar dibiayai Pemda Jabar dan teknisnya dari BMKG. Sehingga Jabar memiliki kelengkapan dalam membaca seluruh fenomena situasi," ujar dia.

Ia pun mengeklaim dana buat radar pendeteksi ini telah dihitung dan dipertimbangkan secara baik.

"Dan semua ini berasal dari anggaran pemerintah Provinsi Jawa Barat yang kita melakukan realokasi dengan tepat, belanja dengan tepat, penghitungan dengan tepat. Walaupun ada pemotongannya juga tepat saya lihat," kata dia.

Dengan alat-alat yang diperlengkap, diharapkan upaya penanggulangan potensi bencana di wilayah Jawa Barat dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Namun, seiring hal ini, ia menyinggung soal adanya kebiasaan masyarakat yang abai peringatan berdasarkan informasi dari BMKG.

“Mudah-mudahan kita tidak selalu sibuk setelah bencana terjadi. Yang lebih penting adalah kesiapsiagaan sebelum bencana datang. Masalahnya, banyak orang Indonesia yang tidak percaya pada BMKG, tidak percaya pada peringatan dini. Tapi begitu sudah kena dampaknya, baru percaya. Ini yang harus diperbaiki,” ujar Dedi.

Ia pun meminta agar sikap tersebut dapat diubah. Sebab informasi BMKG penting dalam mengurangi resiko bencana.

Rekomendasi