Fakta Angka: 8 Kali Bencana Ponorogo Terjadi dalam Sepekan Akibat Cuaca Ekstrem

BPBD Ponorogo mencatat delapan kejadian Bencana Ponorogo, didominasi longsor, dalam sepekan terakhir akibat cuaca ekstrem. Warga diimbau waspada!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Angka: 8 Kali Bencana Ponorogo Terjadi dalam Sepekan Akibat Cuaca Ekstrem
BPBD mencatat 8 kejadian Bencana Ponorogo, termasuk longsor dan cuaca ekstrem, dalam sepekan terakhir. Apa penyebab dan bagaimana upaya pencegahannya agar masyarakat tetap aman? (AntaraNews)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mencatat delapan kejadian bencana dalam kurun waktu sepekan, mulai dari 21 hingga 27 Oktober 2025. Insiden ini didominasi oleh tanah longsor dan kejadian akibat cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah. Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, mengonfirmasi bahwa tidak ada korban jiwa dalam serangkaian peristiwa tersebut.

Dari total kejadian tersebut, enam di antaranya merupakan tanah longsor yang berdampak pada lima rumah warga dan satu talud jalan poros ambrol. Dua kejadian lainnya terkait cuaca ekstrem, menunjukkan kerentanan wilayah Ponorogo terhadap perubahan iklim. Cuaca ekstrem di awal musim penghujan menjadi pemicu utama serangkaian bencana yang terjadi.

Pihak BPBD Ponorogo terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi lainnya, seperti banjir dan angin kencang. Warga yang tinggal di daerah rawan, khususnya lereng perbukitan, diminta untuk lebih proaktif dalam menjaga lingkungan sekitar. Kesiapsiagaan dini menjadi kunci untuk mengurangi risiko dampak bencana di masa mendatang.

Rincian Delapan Kejadian Bencana di Ponorogo

Masun menjelaskan bahwa dari delapan kejadian bencana yang tercatat, enam di antaranya adalah tanah longsor yang menyebabkan kerusakan signifikan. Lima kejadian longsor tersebut secara langsung menimpa rumah-rumah warga, sementara satu kejadian lainnya mengakibatkan ambrolnya talud jalan poros di Kecamatan Sawoo. Beruntung, semua peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa.

Data dari BPBD Ponorogo merinci lokasi-lokasi yang terdampak longsor, meliputi Desa Tempuran dan Desa Sawoo di Kecamatan Sawoo. Selain itu, longsor juga terjadi di Desa Wagir Kidul, Kecamatan Pulung, serta Desa Wonodadi, Kecamatan Ngrayun. Desa Pupus di Kecamatan Ngebel turut menjadi lokasi kejadian tanah longsor yang dilaporkan.

Sementara itu, dua bencana akibat cuaca ekstrem tercatat melanda beberapa desa lainnya di Ponorogo. Kejadian ini terjadi di Desa Karangan dan Sambirejo, keduanya berada di Kecamatan Balong. Selanjutnya, Desa Sempu di Kecamatan Ngebel juga mengalami dampak dari cuaca ekstrem yang terjadi selama periode tersebut, menambah daftar wilayah terdampak.

Penyebab Utama dan Imbauan Kewaspadaan Bencana Ponorogo

Masun menegaskan bahwa cuaca ekstrem di awal musim penghujan merupakan pemicu utama serangkaian longsor yang terjadi di Ponorogo. Kombinasi antara angin kencang dan hujan lebat yang intensitasnya meningkat dapat dengan mudah memicu pergerakan tanah. Fenomena ini sangat berbahaya, terutama di wilayah lereng yang sebelumnya dalam kondisi kering dan labil.

Selain faktor alam, buruknya sistem drainase juga disebut memperparah risiko terjadinya longsor di berbagai lokasi. Air hujan yang tidak dapat mengalir dengan lancar cenderung membuat tanah menjadi gembur dan mudah bergerak, meningkatkan potensi bencana. "Sering kali longsor dipicu oleh saluran air yang tersumbat, meskipun kemiringan lahan juga berperan," ujar Masun.

Oleh karena itu, BPBD Ponorogo mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah lereng, untuk rutin mengecek dan membersihkan saluran air di sekitar rumah mereka. Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terhadap potensi bencana hidrometeorologi lainnya seperti banjir dan angin kencang. "Kami terus mengimbau masyarakat agar selalu waspada, terutama saat hujan deras disertai angin kencang," pungkasnya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi