Fakta Unik: Mengapa Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Sejak Dini Penting untuk Kurangi Beban TPPAS Jabar?

Legislator Jabar Daddy Rohanady menekankan pentingnya **pengelolaan sampah rumah tangga** dari hulu untuk meringankan TPPAS, sementara Cirebon hadapi 1.324 ton sampah per hari.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Mengapa Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Sejak Dini Penting untuk Kurangi Beban TPPAS Jabar?
Legislator Jabar Daddy Rohanady menekankan pentingnya **pengelolaan sampah rumah tangga** dari hulu untuk meringankan TPPAS, sementara Cirebon hadapi 1.324 ton sampah per hari. (AntaraNews)

Anggota DPRD Jawa Barat, Daddy Rohanady, mendorong masyarakat untuk memulai pengelolaan sampah langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Langkah ini dinilai krusial guna mengurangi beban Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Sampah (TPPAS) tingkat regional, termasuk di wilayah Cirebon.

Menurut Daddy, penanganan sampah yang efektif seharusnya dimulai dengan mengurangi volume dan memilah sampah sejak awal di setiap rumah. Pendekatan ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R) yang sudah berada di tahap hilir.

Kebiasaan memilah sampah di rumah tangga akan sangat membantu proses pengelolaan selanjutnya serta menekan timbunan sampah yang menjadi masalah serius di berbagai daerah. Jika penanganan sudah baik dari hulu, TPPAS tidak akan kebanjiran sampah.

Pentingnya Pengelolaan Sampah dari Hulu

Daddy Rohanady menegaskan bahwa pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah tangga merupakan solusi paling mendasar. Ia menjelaskan, “Penanganan sampah sebaiknya dimulai dari rumah tangga. Setiap rumah sudah harus mengurangi volume dan memilah sampah sejak awal.” Inisiatif ini akan memudahkan proses di hilir dan mencegah penumpukan sampah di TPPAS.

Ia menambahkan bahwa upaya melalui TPS3R, meskipun penting, sebenarnya sudah merupakan tahap hilir. Oleh karena itu, langkah yang lebih efektif adalah pengurangan dan pemilahan sampah sejak di hulu. Ini akan sangat membantu proses pengelolaan di tahap selanjutnya, sekaligus menekan timbunan sampah yang selama ini menjadi persoalan di berbagai daerah.

Pola pengelolaan sampah dari hulu ini baru terlihat optimal di sebagian kecil wilayah Jawa Barat, seperti di Kabupaten Bandung. Namun, untuk daerah lain seperti Cirebon dan sekitarnya, penerapan pola tersebut masih belum berjalan optimal, membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah daerah dan masyarakat.

“Semua pihak harus sadar bahwa sampah tidak elok jika seluruhnya dikirim ke hilir. Tanpa pengelolaan dari sumbernya, TPPAS regional pasti akan kebanjiran sampah,” tegas Daddy, menekankan perlunya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.

Tantangan dan Upaya Penanganan Sampah di Cirebon

Bupati Cirebon, Imron, mengungkapkan bahwa potensi timbulan sampah di daerahnya mencapai angka yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2024, potensi timbulan sampah diperkirakan mencapai 1.324,38 ton per hari, namun jumlah yang berhasil dikelola baru sekitar 381 ton per hari.

Pemerintah daerah Cirebon telah mengidentifikasi sebanyak 40 titik pembuangan sampah liar yang tersebar di berbagai lokasi sebagai langkah awal penanganan masalah kebersihan lingkungan. “Beberapa lokasi sudah ditangani. Tak hanya pembersihan, pemerintah daerah telah memasang pagar bambu dan papan larangan supaya warga tidak membuang sampah sembarangan,” ujar Imron.

Sebagai upaya jangka panjang, Imron menyampaikan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Cirebon. PLTSa ini direncanakan memiliki kapasitas 10 megawatt (MW) dan diperkirakan mampu mengolah hingga 600 ton sampah per hari. Pembangunan fasilitas ini diharapkan menjadi solusi signifikan dalam mengatasi persoalan sampah di Cirebon.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi