BRIN Peringatkan Bahaya Mikroplastik Air Hujan, Efeknya Bisa Sampai ke Jantung

Ia menjelaskan, salah satu gejala umum yang dapat dirasakan akibat paparan mikroplastik adalah tubuh terasa lebih berat dari biasanya.

Muhammad Radityo Priyasmoro
BRIN Peringatkan Bahaya Mikroplastik Air Hujan, Efeknya Bisa Sampai ke Jantung
brin (wikipedia)

Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova, mengingatkan masyarakat akan bahaya kontaminasi mikroplastik yang terbawa melalui air hujan dan masuk ke dalam tubuh manusia.

Ia menjelaskan, salah satu gejala umum yang dapat dirasakan akibat paparan mikroplastik adalah tubuh terasa lebih berat dari biasanya.

"Jadi ada kemungkinan (mikroplastik), menjadi media ke dalam tubuh jadi memang dampaknya adalah agak sedikit berat nih," kata Reza saat media briefing terkaif isu mikroplastik dalam air hujan di Kantor Balai Kota Jakarta, Jumat (24/10).

Reza menambahkan, hal pertama dirasakan seorang yang terpapar mikroplastik adalah iritasi, ditandai dengan bersin-bersin kemudian bisa menjadi flu.

"Flu itu bisa jadi menempel pada partikel mikroplastik tersebut jadi memang kalau kita istilahnya kayak bus yang membawa berbagai macam polutan mikropatogen, virus, bisa jadi cepat masuk ke dalam tubuh mikroplastik bisa lepas pada saat bersin-bersin, mikroplastik bisa tertahan di bulu hidung misalnya atau misalnya katakanlah nanti akan tertahan di kerongkongan kita jadi batuk tapi polutan yang lain akan lebih cepat masuk ke dalam tubuh itu yang sebenarnya menjadi masalah concern kami," wanti Reza.

Reza menambahkan, kalau hal itu sudah terjadi maka efek selanjutnya adalah peradangan. Walau demikian, tingkat peradangan antar individu bisa berbeda. Bahkan semisal mikroplastik semakin lama semakin kecil, lebih kecil dari 50 mikron yang memang lebih kecil dari ukuran debu atau bahkan lebih kecil dari ukuran bakteri dan seukuran virus, bisa saja masuk ke dalam saluran darah.

"Kalau itu terjadi, yang terjadi adalah bisa masuk ke jantung dan akhirnya bisa mengganggu. Jadi memang indikasinya itu ke arah sana semua," jelas dia.

Reza menyatakan, peneliti tidak bisa sendiri dalam mengakomodir bahaya mikroplastik. Perlu kerja sama dengan semua pihak, khususnya dinas lingkungan hidup, pemerintah provinsi dan semua pihak yang memiliki concern yang sama.

"Kami kolaborasi dengan Pemprov DKI, dengan kementerian lingkungan hidup (KLH) karena setiap kami melakukan publikasi sebelum dibawa ke humas BRIN, kami selalu menginformasikan duluan ke stakeholder bahwa ini lho yang terjadi," katanya.

Rekomendasi