Rumah Sakit Umum Pusat Prof IGNG Ngoerah Denpasar, Bali, mengambil langkah tegas pada Minggu (19/10) dengan mengembalikan sejumlah dokter peserta didik (koas). Mereka diduga terlibat dalam perundungan dan komentar tidak pantas terkait kematian mahasiswa FISIP Universitas Udayana berinisial TAS (22).
Keputusan ini diambil setelah beredarnya tangkapan layar percakapan di media sosial yang memicu kemarahan publik. Para dokter koas tersebut dinilai telah mencoreng nama baik institusi RSUP Prof Ngoerah serta Universitas Udayana.
Plt. Direktur Utama RS Ngoerah, dr. I Wayan Sudana, menyatakan bahwa tindakan ini merupakan respons terhadap dugaan pelanggaran etika. Pihak rumah sakit berkomitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan beretika bagi semua.
Advertisement
Advertisement
Tindakan Tegas RSUP Ngoerah Terhadap Dokter Koas
dr. I Wayan Sudana menjelaskan bahwa peserta didik yang dikembalikan ke Universitas Udayana tersebut dinilai mencoreng nama baik RSUP Prof Ngoerah. Mereka mengeluarkan komentar yang tidak pantas di media sosial terkait insiden tragis tersebut.
"Terkait adanya peserta didik (co ass) yang diduga terlibat dalam komentar tidak pantas di media sosial, sehingga menimbulkan citra buruk terhadap RS Ngoerah dan Universitas Udayana, RS Ngoerah mengambil tindakan tegas untuk mengembalikan peserta didik tersebut ke Universitas Udayana untuk dilakukan pendalaman dan investigasi," kata Sudana. Pernyataan ini menegaskan keseriusan pihak rumah sakit dalam menangani kasus ini.
Sudana menambahkan, jika nantinya terbukti melakukan perundungan, maka pihaknya akan memberikan sanksi tegas sesuai ketentuan yang berlaku. Pihak RSUP Ngoerah menegaskan komitmennya untuk menjaga etika dan profesionalisme.
Advertisement
RSUP Ngoerah juga menekankan bahwa para mahasiswa ini adalah peserta didik yang sedang belajar di RS Ngoerah, bukan karyawan rumah sakit. Oleh karena itu, komentar mereka tidak merepresentasikan institusi RSUP Prof Ngoerah secara keseluruhan.
Advertisement
Investigasi Universitas Udayana dan Komitmen Etika
Menanggapi insiden ini, Universitas Udayana juga telah bergerak cepat dengan mengadakan rapat di tingkat Fakultas FISIP. Rapat tersebut melibatkan Dewan Perwakilan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Program Studi, serta mahasiswa yang terlibat dalam percakapan media sosial.
Pihak kampus menyatakan bahwa percakapan di media sosial tersebut terjadi setelah almarhum TAS meninggal dunia. Ini berarti ucapan nir empati oleh oknum mahasiswa tersebut bukan penyebab langsung kematian TAS.
Untuk penanganan lebih lanjut, Universitas Udayana telah membentuk tim Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK). Tim ini bertugas untuk menemukan fakta yang terang benderang dan jelas terkait dugaan perundungan tersebut.
Advertisement
Komitmen RSUP Ngoerah dan Universitas Udayana adalah menciptakan lingkungan belajar dan kerja yang aman, beretika, serta saling menghargai. Kedua institusi mengajak semua pihak untuk bijak dalam menggunakan media sosial dan menjaga nama baik profesi kesehatan.
Advertisement
Kronologi Kematian Mahasiswa FISIP Universitas Udayana
Insiden yang memicu kontroversi ini bermula dari kematian seorang mahasiswa Universitas Udayana berinisial TAS (22). Ia meninggal dunia setelah jatuh dari lantai dua gedung kampus FISIP Universitas Udayana di Kampus Sudirman Denpasar.
Peristiwa tragis ini terjadi pada Rabu (15/10) pagi, menyebabkan TAS mengalami luka parah. Korban sempat dilarikan ke RSUP Prof. Ngoerah Denpasar untuk mendapatkan pertolongan medis.
Namun, pihak RS Sanglah (RSUP Prof Ngoerah) menyatakan nyawa korban tidak bisa tertolong. Kematian TAS kemudian menjadi sorotan publik, terutama setelah munculnya dugaan perundungan.
Advertisement
Hingga kini, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan mendalam terhadap kematian TAS. Penyelidikan ini bertujuan untuk memastikan apakah penyebabnya murni karena terjatuh atau terdapat sebab lain yang melatarbelakangi insiden tersebut.
Sumber: AntaraNews