Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, bergerak cepat dalam menanggulangi dampak gempa bumi yang melanda wilayahnya. Sebagai bentuk respons darurat, sebanyak 1.200 nasi bungkus disiapkan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan makan warga terdampak dan para relawan. Inisiatif kemanusiaan ini menjadi pilar utama dalam fase tanggap darurat bencana.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Situbondo, Timbul Harjanto, menjelaskan bahwa dapur umum tanggap darurat telah didirikan di Kecamatan Banyuputih. Operasional dapur umum ini dimulai sejak Jumat, 26 September, sehari setelah gempa mengguncang. Distribusi makanan dilakukan dua kali dalam sehari, pagi dan sore, untuk memastikan ketersediaan pangan yang merata.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,4 ini terjadi pada Kamis, 25 September, pukul 16.04 WIB, dengan pusat di 18 kilometer tenggara laut Desa Sumberwaru. Meskipun tidak berpotensi tsunami, guncangan Gempa Situbondo menyebabkan kerusakan pada ratusan rumah warga. Kecepatan respons pemerintah daerah menjadi krusial dalam situasi ini.
Advertisement
Advertisement
Dapur Umum Siaga: 1.200 Nasi Bungkus untuk Korban dan Relawan
Dinas Sosial Kabupaten Situbondo mengonfirmasi komitmennya dalam menyediakan bantuan pangan bagi masyarakat. Setiap harinya, dapur umum tanggap darurat memproduksi dan mendistribusikan 1.200 nasi bungkus. Bantuan ini ditujukan khusus bagi warga yang rumahnya terdampak Gempa Situbondo serta para relawan yang tak kenal lelah membantu proses evakuasi dan pemulihan.
Timbul Harjanto menegaskan bahwa operasional dapur umum ini akan terus berjalan hingga kondisi membaik. "Pendirian dapur umum bagi korban bencana gempa bumi ini sampai kondisi dan situasi membaik," ujarnya, mengutip pernyataan resmi. Harapannya, warga terdampak dapat segera pulih dan kembali beraktivitas normal tanpa terkendala kebutuhan dasar pangan.
Lokasi dapur umum yang strategis di Kecamatan Banyuputih dipilih berdasarkan tingkat kerusakan dan jumlah warga terdampak. Hal ini bertujuan untuk memastikan distribusi bantuan dapat menjangkau desa-desa yang paling membutuhkan secara efisien. Kolaborasi antara pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan upaya ini.
Advertisement
Advertisement
Data Kerusakan dan Penetapan Status Tanggap Darurat Gempa Situbondo
Berdasarkan laporan BMKG, Gempa Situbondo awalnya tercatat bermagnitudo 5,7 sebelum dimutakhirkan menjadi 5,4. Pusat gempa berada di 18 kilometer tenggara laut Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, dengan kedalaman 12 kilometer. Meskipun tidak memicu tsunami, intensitas guncangan cukup kuat dirasakan di beberapa wilayah.
Data terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo mencatat dampak yang signifikan. Hingga Sabtu, 27 September pagi, sebanyak 145 rumah warga mengalami kerusakan akibat Gempa Situbondo. Rumah-rumah tersebut tersebar di empat desa utama di Kecamatan Banyuputih, yaitu Desa Sumberwaru, Sumberanyar, Sumberejo, dan Wonorejo.
Menanggapi kondisi darurat ini, Pemerintah Kabupaten Situbondo telah menetapkan status tanggap darurat bencana. Status ini berlaku selama 14 hari, dimulai dari 26 September hingga 9 Oktober 2025. Penetapan status ini bertujuan untuk mempercepat layanan darurat, koordinasi bantuan, dan memastikan seluruh kebutuhan dasar warga terdampak dapat terpenuhi selama masa kritis.
Advertisement
Langkah penetapan status tanggap darurat ini juga memberikan landasan hukum bagi mobilisasi sumber daya. Dengan demikian, proses pemulihan pasca Gempa Situbondo dapat berjalan lebih efektif dan terkoordinasi. Pemerintah berkomitmen penuh untuk mendampingi masyarakat hingga kondisi kembali stabil.
Sumber: AntaraNews