Fakta Unik: Ada 300 Aliran Pencak Silat Betawi, Ratusan Pesilat Perebutkan Piala Gubernur di Festival Pencak Silat Betawi

Ratusan pesilat Betawi unjuk kebolehan di Festival Pencak Silat Betawi untuk memperebutkan Piala Gubernur Jakarta. Acara ini bukan sekadar kompetisi, tapi juga upaya melestarikan budaya yang terancam punah.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Ada 300 Aliran Pencak Silat Betawi, Ratusan Pesilat Perebutkan Piala Gubernur di Festival Pencak Silat Betawi
Ratusan pesilat Betawi unjuk kebolehan di Festival Pencak Silat Betawi untuk memperebutkan Piala Gubernur Jakarta. Acara ini bukan sekadar kompetisi, tapi juga upaya melestarikan budaya yang terancam punah. (Merdeka.com)

Ratusan pesilat Betawi dari berbagai wilayah di Jakarta memamerkan kemampuan terbaik mereka dalam sebuah ajang bergengsi. Mereka berkumpul untuk memperebutkan Piala Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Festival Pencak Silat Betawi yang berlangsung di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Minggu, 28 September.

Sebanyak 150 jagoan silat dari Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat turut serta dalam festival ini. Kegiatan tahunan ini menjadi wadah bagi para pesilat untuk menunjukkan keahliannya di hadapan publik dan juri.

Festival Pencak Silat Betawi diselenggarakan oleh Bamus Suku Betawi 1982 selama dua hari, mencakup kategori pelajar dan dewasa. Acara ini bertujuan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan Betawi di Jakarta yang dinilai hampir mengalami kepunahan di tengah kemajuan zaman.

Melestarikan Warisan Budaya Betawi Melalui Festival

Menurut Ketua Majelis Adat Bamus Suku Betawi 1982, Nachrowi Ramli, festival ini bukan sekadar kompetisi semata. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan upaya konkret untuk melestarikan kebudayaan Betawi yang kaya dan beragam.

Selain pencak silat, Bamus Suku Betawi 1982 juga menyelenggarakan berbagai lomba budaya lain seperti lomba pantun, lomba tari, dan lomba kuliner. Inisiatif ini diharapkan dapat menjaring bibit-bibit muda yang berpotensi dalam mengembangkan dan meningkatkan prestasi di berbagai bidang kebudayaan Betawi.

Nachrowi Ramli, yang akrab disapa Bang Nara, menekankan pentingnya pelestarian budaya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. "Khususnya, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi," ujarnya.

Festival ini menjadi bukti komitmen Bamus Suku Betawi 1982 dalam menjaga identitas budaya lokal. Dengan menghadirkan berbagai kategori dan lomba, diharapkan semangat kebudayaan Betawi terus hidup dan berkembang di kalangan generasi muda.

Pengembangan SDM dan Pengakuan Dunia untuk Pencak Silat Betawi

Nachrowi Ramli juga menjabat sebagai Ketua Umum Perkumpulan Pencak Silat (PPS) Putra Betawi, yang menghimpun 127 perguruan silat aliran Betawi dan merupakan perguruan silat historis pendiri PB IPSI. Ia menyatakan bahwa Bamus Suku Betawi 1982 tidak hanya fokus pada kebudayaan, khususnya pencak silat, tetapi juga pada pembenahan dan pembentukan sumber daya manusia (SDM) kaum Betawi.

Di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Bamus Suku Betawi 1982 berencana mengumpulkan kembali para pesilat yang saat ini tersebar. "Sudah saatnya kaum Betawi memimpin di Jakarta," kata salah satu Penasihat di kepengurusan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) ini, yang telah menekuni pencak silat sejak kecil dan 40 tahun menjadi pengurus organisasi silat.

Bamus Suku Betawi 1982 berharap agar sumber daya manusia kaum Betawi terus ditingkatkan. "Apapun alatnya dan senjatanya kalau manusianya tidak pintar akan sia-sia. Karenanya, kita butuh SDM yang pintar menghadapi segala situasi dan kondisi," tambahnya, menyoroti pentingnya pendidikan dan keterampilan.

Bang Nara menambahkan bahwa pencak silat telah diakui oleh UNESCO, sehingga PPS Putra Betawi akan merajut persatuan semua aliran silat Betawi yang mencapai 300 aliran. Bamus Suku Betawi 1982 juga akan proaktif untuk memasukkan budaya pencak silat dalam kurikulum pendidikan, karena cikal bakal pemimpin akan dimulai dari bawah, yakni melalui unsur pendidikan. IPSI juga telah melakukan penjaringan terhadap 200 pesilat berprestasi yang akan ikut dalam pertunjukan pada tahun 2026, dan berharap Pemprov DKI turut hadir mendukung inisiatif ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi