Peringatan Hari Pariwisata Sedunia: Momentum Indonesia Sahkan RUU Pariwisata, Apa Dampaknya?

Peringatan Hari Pariwisata Sedunia 2025 menjadi momentum krusial bagi kebangkitan sektor ini. DPR berencana mengesahkan RUU Pariwisata awal Oktober, akankah membawa perubahan besar?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Peringatan Hari Pariwisata Sedunia: Momentum Indonesia Sahkan RUU Pariwisata, Apa Dampaknya?
Geopark Kaldera Toba berhasil meraih status "kartu hijau" dari UNESCO Global Geopark. Gubernur Sumut Bobby Nasution mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga warisan dunia ini agar tetap lestari. (Merdeka.com)

Pada 27 September 2025, dunia memperingati Hari Pariwisata Sedunia, sebuah momen penting bagi sektor pariwisata global. Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi momentum krusial untuk kebangkitan pariwisata nasional. Hal ini sejalan dengan rencana Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pariwisata.

Wakil Ketua Komisi VII DPR, Lamhot Sinaga, menekankan bahwa pariwisata bukan sekadar rekreasi semata. Lebih dari itu, pariwisata adalah instrumen pembangunan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Sektor ini juga dapat menciptakan lapangan kerja serta memperkuat dialog antarbudaya.

RUU Pariwisata ini dijadwalkan akan disahkan pada sidang paripurna awal Oktober 2025. Regulasi baru ini diharapkan dapat menyediakan kerangka hukum yang modern. Kerangka tersebut akan adaptif terhadap era digital, tuntutan keberlanjutan, dan persaingan global yang semakin ketat.

RUU Pariwisata: Pilar Baru Pembangunan Nasional

DPR bersama pemerintah kini tengah memfinalisasi pembahasan RUU Pariwisata. Pengesahan RUU ini diharapkan dapat membawa dampak positif yang signifikan bagi sektor pariwisata Indonesia. Tujuan utamanya adalah menciptakan ekosistem pariwisata yang lebih kuat dan berkelanjutan di masa depan.

Lamhot Sinaga menegaskan bahwa tujuan RUU ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi. Namun, juga mencakup manfaat sosial, budaya, dan lingkungan yang lebih luas. Ini sejalan dengan semangat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO).

UNWTO telah menandai Hari Pariwisata Sedunia sejak tahun 1980 untuk menyoroti peran strategis pariwisata. RUU Pariwisata yang baru diharapkan mampu mengakomodasi berbagai aspek ini. Dengan demikian, sektor pariwisata dapat berkontribusi secara holistik terhadap pembangunan nasional.

Potensi Kekayaan Alam dan Budaya: Danau Toba sebagai Contoh

Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, menjadikannya pemain kunci dalam agenda pariwisata global. Lamhot Sinaga menyoroti Danau Toba sebagai salah satu contoh potensi besar ini. Danau Toba telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark.

Kawasan Danau Toba memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi kelas dunia. Namun, hal ini memerlukan pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan. Pengelolaan tersebut harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

Keberhasilan pariwisata, menurut Lamhot, tidak semata diukur dari jumlah pengunjung. Ukuran utamanya adalah seberapa besar masyarakat lokal mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan pariwisata. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata harus berbasis komunitas.

Dengan pendekatan berbasis komunitas, penduduk setempat dapat berperan ganda. Mereka menjadi tuan rumah sekaligus penerima manfaat langsung dari industri pariwisata. Ini akan menciptakan pariwisata yang inklusif dan berkeadilan.

Sejarah dan Makna Hari Pariwisata Sedunia

Hari Pariwisata Sedunia didirikan oleh UNWTO, badan PBB yang bertanggung jawab atas pariwisata internasional. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pariwisata. Serta, menyoroti kontribusinya terhadap ekonomi, sosial, dan budaya.

Tanggal 27 September dipilih untuk peringatan ini karena bertepatan dengan adopsi Statuta UNWTO pada tahun 1970. Peristiwa tersebut menandai berdirinya organisasi tersebut secara resmi. Sejak saat itu, setiap tahunnya negara-negara di seluruh dunia mengadopsi tema-tema khusus.

Tema-tema tersebut dirancang untuk merespons tantangan pariwisata global yang terus berkembang. Peringatan pertama Hari Pariwisata Sedunia diselenggarakan pada tahun 1980. Sejak itu, momentum ini terus digunakan untuk merefleksikan peran pariwisata dalam pembangunan berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi