Mengubah Sampah Jadi Berkah: Warga Binaan Lapas Geser Latih Hidroponik Limbah Plastik, Panen Kangkung Segar!

Lapas Geser melatih warga binaan hidroponik limbah plastik, mengubah botol bekas jadi media tanam kangkung. Inisiatif ini bukan hanya bekal keterampilan, tapi juga mendukung ketahanan pangan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mengubah Sampah Jadi Berkah: Warga Binaan Lapas Geser Latih Hidroponik Limbah Plastik, Panen Kangkung Segar!
Lapas Geser melatih warga binaan hidroponik limbah plastik, mengubah botol bekas jadi media tanam kangkung. Inisiatif ini bukan hanya bekal keterampilan, tapi juga mendukung ketahanan pangan. (Merdeka.com)

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Geser di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) meluncurkan program inovatif. Program ini melatih warga binaan pemasyarakatan (WBP) untuk memanfaatkan limbah botol plastik bekas dan bambu. Pemanfaatan ini sebagai pengganti netpot dalam penanaman kangkung cabut (Ipomoea aquatica) menggunakan metode hidroponik.

Inisiatif yang diumumkan pada Sabtu, 6 September ini, bertujuan ganda. Kegiatan tersebut tidak hanya mengembangkan kreativitas para WBP, tetapi juga memberikan bekal keterampilan. Selain itu, program ini secara langsung mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh Kementerian Hukum dan HAM.

Kepala Lapas Kelas III Geser, Mulyo Utomo, menyatakan komitmen lembaganya. Program ini menjadi bukti nyata upaya Lapas Geser dalam memberdayakan warga binaan. Mereka diajak mengubah barang yang dianggap limbah menjadi sesuatu yang bernilai guna melalui 13 program akselerasi.

Lapas Geser menunjukkan paradigma baru dalam pembinaan. Mereka mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai. Kali ini, bukan hanya bambu yang dimanfaatkan sebagai wadah instalasi. Netpotnya juga dimodifikasi menggunakan limbah botol plastik.

Mulyo Utomo menjelaskan bahwa tujuan utama adalah merangsang kreativitas warga binaan. Kegiatan ini juga memberikan bekal keterampilan yang relevan. Keterampilan ini dapat mereka gunakan selama masa pembinaan dan setelahnya.

“Kali ini bukan hanya bambu yang dimanfaatkan sebagai wadah instalasi, tetapi netpotnya kami modifikasi dengan memanfaatkan limbah botol plastik. Paradigma di Lapas Geser adalah mengubah barang yang biasanya dianggap limbah menjadi sesuatu yang bernilai guna. Tujuannya untuk merangsang kreativitas warga binaan dan memberikan bekal keterampilan selama masa pembinaan,” kata Mulyo Utomo.

Tahap kegiatan saat ini meliputi pemindahan benih kangkung. Proses ini juga melibatkan penambahan nutrisi pada instalasi bambu hidroponik. Benih kemudian dipindahkan ke instalasi yang terbuat dari botol plastik. Proses pemindahan tersebut bertujuan mempercepat imbibisi. Imbibisi adalah penyerapan air oleh benih yang mengaktifkan enzim dan metabolisme. Hal ini membuat benih lebih cepat berkecambah dan tumbuh.

Pemanfaatan hidroponik memberikan keuntungan lebih dari sekadar aspek lingkungan. Metode ini menjadi sarana pendidikan dan pelatihan pertanian modern bagi warga binaan. Mereka belajar cara bertani yang bersih, sehat, dan efisien di lahan terbatas.

Mulyo Utomo menambahkan bahwa kegiatan ini membuka peluang usaha agribisnis sederhana. Peluang tersebut dapat dikembangkan oleh warga binaan setelah mereka bebas. Harapannya, pembinaan kreatif ini berdampak positif. “Dengan hidroponik, warga binaan bisa belajar pertanian bersih, sehat, dan efisien di lahan terbatas. Selain itu, kegiatan ini juga membuka peluang usaha agribisnis sederhana yang dapat mereka kembangkan setelah bebas. Kami berharap pembinaan kreatif seperti ini berdampak positif menuju reintegrasi sosial yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dampak positif tersebut diharapkan mengarah pada reintegrasi sosial yang berkelanjutan. Warga binaan memiliki bekal untuk mandiri. Mereka dapat berkontribusi positif kepada masyarakat.

Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku, Ricky Dwi Biantoro, menyambut positif inisiatif ini. Beliau menegaskan pentingnya pemberdayaan warga binaan. Pemberdayaan ini dilakukan melalui pembinaan yang humanis. Ricky Dwi Biantoro menyatakan, “Kegiatan semacam ini adalah ruang berkolaborasi untuk menciptakan ide inovatif dalam menunjang proses pembimbingan dan pelayanan, sehingga sistem Pemasyarakatan dapat berjalan optimal.”

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi