Unik! Ratusan Lurah DIY Berpakaian Adat dan Telanjang Kaki Jaga Malioboro Saat Aksi Mahasiswa

Ratusan lurah dan pamong kalurahan se-DIY turut mengamankan kawasan Malioboro saat aksi mahasiswa. Kenapa para Lurah DIY ini rela telanjang kaki dan berpakaian adat?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Unik! Ratusan Lurah DIY Berpakaian Adat dan Telanjang Kaki Jaga Malioboro Saat Aksi Mahasiswa
Ratusan lurah dan pamong kalurahan se-DIY turut mengamankan kawasan Malioboro saat aksi mahasiswa. Kenapa para Lurah DIY ini rela telanjang kaki dan berpakaian adat? (Merdeka.com)

Sekitar 200 lurah dan pamong kalurahan se-DIY yang tergabung dalam Paguyuban Nayantaka turut berjaga di kawasan Malioboro pada Senin, 1 September. Mereka hadir untuk mengawal jalannya aksi mahasiswa agar tetap berlangsung damai dan tertib. Kehadiran para lurah ini bertujuan menciptakan suasana kondusif di pusat kota Yogyakarta.

Para lurah dan pamong kalurahan ini tampil dengan busana adat Jawa yang unik. Mereka mengenakan surjan lengkap dengan jarik dan blangkon. Tak hanya itu, mereka juga rela bertelanjang kaki selama bertugas di area tersebut.

Aksi pengamanan ini dilakukan di berbagai titik strategis Malioboro, termasuk di depan Gedung DPRD DIY. Ketua Nayantaka DIY, Gandang Harjanta, menjelaskan bahwa tujuan utama adalah memastikan penyampaian aspirasi mahasiswa berjalan lancar. Kehadiran mereka diharapkan membawa ketenangan di tengah keramaian aksi unjuk rasa.

Menjaga Kedamaian Aksi Mahasiswa

Kehadiran ratusan lurah dan pamong kalurahan se-DIY di Malioboro memiliki tujuan penting. Mereka berupaya memastikan setiap penyampaian aspirasi mahasiswa berjalan sesuai jalur. Hal ini dilakukan demi menjaga ketertiban dan kedamaian di Yogyakarta.

Gandang Harjanta, yang juga menjabat sebagai Lurah Tamanmartani, Kalasan, Sleman, menegaskan komitmen tersebut. "Kami mengawal supaya gerakan teman-teman mahasiswa tetap sesuai jalur," ujarnya. Ia menambahkan bahwa penyampaian aspirasi harus berlangsung damai.

Meskipun aparat TNI dan Polri telah berjaga, kehadiran Paguyuban Nayantaka memberikan nuansa berbeda. Mereka diharapkan dapat menciptakan suasana yang sejuk dan tenteram. Ini sejalan dengan pesan Gubernur DIY untuk menyampaikan pendapat dengan kesopanan dan unggah-ungguh.

Simbol Keistimewaan dan Pelayanan Masyarakat

Busana adat Jawa yang dikenakan para lurah dan pamong kalurahan bukan sekadar seragam. Pakaian surjan, jarik, dan blangkon tersebut merupakan simbol kuat. Ini menunjukkan peran mereka sebagai pemangku Keistimewaan DIY.

Gandang Harjanta menjelaskan bahwa lurah dan perangkatnya dikukuhkan oleh Gubernur DIY. Mereka memiliki peran ganda, tidak hanya melayani masyarakat. Para lurah ini juga bertanggung jawab dalam pengamanan keadaan. Tujuannya agar Yogyakarta tetap nyaman dan aman bagi semua.

Sekitar 200 anggota Nayantaka yang terlibat berasal dari empat kabupaten di DIY. Kesiapan mereka untuk bergantian tugas menunjukkan dedikasi. Hal ini juga menjadi bukti komitmen menjaga kondusivitas kota. Keberadaan mereka menjadi representasi nilai-nilai luhur Yogyakarta.

Silaturahmi dan Yogyakarta yang Aman

Kehadiran para pamong kalurahan di Malioboro juga dimaksudkan sebagai bentuk silaturahmi. Ketua Paguyuban Lurah, Pamong, dan Staf Pamong Kabupaten Bantul, Beja WTP, mengungkapkan hal ini. "Kita dalam rangka untuk silaturahmi dengan teman-teman yang mau menyampaikan aspirasinya," kata Beja.

Para lurah dan mahasiswa sepakat untuk menjaga Yogyakarta tetap damai dan aman. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi antara pemerintah daerah dan elemen masyarakat. Hasilnya, aksi unjuk rasa dapat berjalan dengan tertib dan lancar.

Sejak pagi hingga sore, halaman DPRD DIY menjadi lokasi dua gelombang unjuk rasa. Pertama adalah Front Aliansi Mahasiswa Yogyakarta, lalu dilanjutkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta. Seluruh rangkaian aksi berlangsung tertib dan damai, membuktikan efektivitas pengamanan yang dilakukan. Ini menunjukkan bahwa Yogyakarta mampu menjaga keamanan di tengah dinamika sosial.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi