Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pandangannya di forum BRICS Leaders Virtual Meeting pada Senin (8/9) malam. Dalam pertemuan daring tersebut, Prabowo menyoroti isu krusial mengenai kebijakan standar ganda. Hal ini terkait penerapan hukum internasional yang dinilai tidak konsisten oleh beberapa pihak.
Sorotan ini muncul di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian serta dinamika geopolitik. Prabowo menekankan pentingnya kerja sama erat antarnegara untuk menghadapi tantangan. Ia juga menyoroti bagaimana hukum internasional kerap diabaikan dalam praktik.
Pernyataan Prabowo ini menjadi perhatian dunia internasional. Ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam mendorong keadilan global. Indonesia juga ingin memastikan kesetaraan dalam hubungan antarnegara.
Advertisement
Advertisement
Sorotan Prabowo terhadap Inkonsistensi Hukum Internasional
Presiden Prabowo Subianto secara tegas menyatakan dukungannya terhadap konsep kerja sama erat yang sebelumnya disampaikan oleh Presiden China Xi Jinping. Ia menegaskan perlunya menjunjung tinggi keterbukaan di tengah kondisi global saat ini. Menurutnya, dunia sedang menghadapi ketidakpastian yang signifikan.
Prabowo menyoroti adanya "standar ganda, bahkan rangkap tiga" dalam penerapan hukum internasional. Ia melihat bahwa hukum tersebut seringkali diabaikan setiap hari oleh negara-negara tertentu. Pernyataan ini disampaikan dalam tayangan video BRICS Leaders Virtual Meeting.
"Saya sepenuhnya mendukung konsep-konsep yang disampaikan oleh Bapak Presiden Republik Rakyat China yang terhormat. Kita harus menjunjung tinggi keterbukaan, kita harus melanjutkan koordinasi dan kerja sama yang erat ini di dunia yang penuh ketidakpastian ini, dengan standar ganda, bahkan rangkap tiga, di mana hukum internasional diabaikan setiap hari," kata Presiden Prabowo. Pandangan ini menunjukkan keprihatinan mendalam.
Advertisement
Prabowo menekankan bahwa negara-negara anggota BRICS harus terus melanjutkan kerja sama. Ini penting untuk menjaga stabilitas di tengah gejolak global. Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi penyeimbang.
Advertisement
Dampak Standar Ganda: Intimidasi dan Pengabaian Hukum
Praktik standar ganda, menurut Prabowo, semakin sering muncul di panggung global dan berdampak serius. Ia menilai bahwa situasi dunia kini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan kekuatan. Negara-negara besar dan kuat seringkali memiliki hak dan kewenangan yang lebih dominan.
Sebaliknya, negara-negara kecil kerap kali menjadi korban intimidasi dan ancaman. Prabowo menggarisbawahi bahwa hukum internasional seolah tidak berlaku bagi semua pihak. Hal ini menciptakan lingkungan yang tidak adil bagi negara-negara berkembang.
"Hukum internasional diabaikan setiap hari, di mana (negara) yang kuat membuat kewenangan, di mana negara-negara kecil dengan kekuatan yang lebih kecil diintimidasi, diancam, dirundung. Di mana perdagangan dan keuangan menjadi senjata," ujar Prabowo. Pernyataan ini menggambarkan realitas pahit.
Advertisement
Kondisi ini, lanjutnya, juga menunjukkan bagaimana perdagangan dan keuangan seringkali dijadikan senjata politik. Hal ini tentu merugikan perekonomian negara-negara yang lebih lemah. Prabowo menyerukan agar praktik ini dihentikan.
Advertisement
Komitmen Indonesia dan Peran BRICS di Tengah Tantangan Global
Melihat kondisi tersebut, Prabowo menyatakan bahwa saatnya bagi BRICS untuk terus berkembang dan memperkuat perannya. Indonesia pun sepenuhnya mendukung inisiatif yang diambil oleh kelompok negara ini. Dukungan ini menunjukkan komitmen Indonesia terhadap multilateralisme.
"Kami mengapresiasi kepemimpinan Presiden (Brasil) Lula, dan Indonesia berkomitmen untuk bekerja sama lebih erat dengan semua negara BRICS," kata Prabowo. Pernyataan ini menegaskan posisi Indonesia. Hal ini juga menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menjalin kemitraan strategis.
Pertemuan BRICS Leaders Virtual Meeting ini dihadiri oleh sejumlah Kepala Negara dan perwakilan tingkat tinggi. Mereka termasuk Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. Hadir pula Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa.
Advertisement
Forum ini menjadi sarana penting bagi para pemimpin untuk bertukar pandangan terkait perkembangan ekonomi dunia. Mereka juga membahas kondisi sistem multilateral saat ini. Situasi geopolitik dan dinamika ekonomi global turut memberi pengaruh terhadap stabilitas perdagangan internasional serta prospek pertumbuhan ekonomi di berbagai kawasan.
Sumber: AntaraNews