Benarkah Tidurnya Orang Puasa berbuah Pahala?

Ketika berpuasa, banyak orang memilih membatasi aktivitasnya. Lantas, apakah membatasi aktivitas selama puasa digantikan dengan hanya tidur-tiduran?

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Benarkah Tidurnya Orang Puasa berbuah Pahala?
Benarkah Tidurnya Orang Puasa berbuah Pahala? (Merdeka.com)

Tidur saat berpuasa merupakan praktik yang umum dilakukan oleh banyak orang. Sebab, ketika berpuasa, kadang kala sebagian orang memilih membatasi aktivitasnya dan beristirahat di rumah.

Kerap muncul pernyataan bahwa tidur bisa menjadi pilihan dari pada bepergi atau melakukan hal-hal yang justru merusak ibadah puasa. Lantas apakah hanya tidur seharian selama puasa itu baik? Bahkan bisa mendatangkan pahala?

Dalam konteks ini, perlu dipahami bahwa tidur tidak membatalkan puasa, tetapi nilai pahala yang didapat dari tidur saat berpuasa sangat tergantung pada niat dan konteksnya.

Mazhab Syafi'i dan Nahdlatul Ulama (NU) berpendapat bahwa tidur seharian tidak membatalkan puasa, asalkan niat puasa sudah ada dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Meskipun demikian, mereka tetap mendorong umat muslim untuk menjalankan ibadah lain agar puasa lebih bermakna. Di sisi lain, Imam Ghazali dan Muhammadiyah menganjurkan agar menghindari tidur berlebihan di siang hari demi menjaga nilai ibadah puasa yang maksimal.

Pandangan Beragam Ulama

Beberapa ulama lainnya berpendapat bahwa tidur seharian dapat dianggap makruh, karena tidak sejalan dengan tujuan puasa yang seharusnya meningkatkan ketakwaan dengan memperbanyak ibadah. Oleh karena itu, meskipun tidur tidak membatalkan puasa, sebaiknya tidak dijadikan aktivitas utama selama berpuasa.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha dalam satu waktu pernah memberikan penjelasan menarik mengenai aktivitas tidur ketika seseorang berpuasa.

"Tidurnya umatnya Rasulullah itu luar biasa. Utamanya tidurnya orang puasa dan ulama, tidurnya tasbih," ujar Gus Baha dalam sebuah pengajian.

Menurut Gus Baha, saat seseorang tidur, ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Hal ini menjadi pengingat bahwa manusia harus mengimani kalimat La haula wa la quwwata illa billah, yang berarti tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Dikutip dari tayangan video di kanal YouTube @Ingsun_santri, Gus Baha menegaskan bahwa tidur adalah kondisi di mana manusia tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri. "Kamu lupa bahwa saat paling krusial dalam hidup adalah tidur," ujarnya.

Gus Baha kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Ar-Rum ayat 23:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاۤؤُكُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan." (QS. Ar-Rum: 23).

Tidur juga dapat menjadi cara untuk menghindari maksiat. Menurut Gus Baha, tidur dapat mencegah seseorang dari godaan dunia, terutama bagi mereka yang hidup di lingkungan yang penuh fitnah.

Dari sudut pandang ushul fiqih, Gus Baha menjelaskan bahwa dalam beberapa pendapat ulama, tidak ada yang benar-benar mubah. Setiap tindakan yang terlihat mubah sebenarnya adalah bentuk meninggalkan keharaman.

"Tidak ada kemubahan kecuali saat itu Anda meninggalkan keharaman. Anda tidur, berarti Anda tarkul ma’siyat (meninggalkan maksiat). Tidak mencuri, tidak dugem, tidak berzina, tidak menggunjing orang, dan lain-lain," lanjutnya.

Oleh karena itu, tidur bisa dihitung sebagai ibadah jika diniatkan untuk meninggalkan maksiat. "Ya Allah, saya mau tidur, meninggalkan maksiat. Jadi Malaikat Raqib dan ‘Atid diberi tahu, ini bukan sekadar tidur. Ini akan meninggalkan maksiat," ujar Gus Baha

Rekomendasi