Luapan dari 3 Sungai, Simak Fakta Terbaru Banjir Rendam 16 Desa di Cirebon

Banjir yang disebabkan oleh hujan deras dan luapan sungai telah melanda 16 desa di Kabupaten Cirebon.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Luapan dari 3 Sungai, Simak Fakta Terbaru  Banjir Rendam 16 Desa di Cirebon
Ilustrasi Banjir Credit: pexels.com/Jonathan (© 2025 Liputan6.com)

Banjir kembali melanda Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, setelah hujan deras yang mengguyur daerah tersebut sejak malam Kamis (23/1). Curah hujan yang sangat tinggi menyebabkan tiga sungai utama di wilayah tersebut, yaitu Sungai Ciputih, Singaraja, dan Ciberes, meluap.

Sebanyak 15 desa di tujuh kecamatan terendam air dengan ketinggian mencapai 60 sentimeter di beberapa lokasi. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya, menyatakan, “Yang terendam banjir ada 15 desa di tujuh kecamatan wilayah timur Cirebon pada Kamis. Bencana ini disebabkan curah hujan tinggi dan meluapnya beberapa sungai."

Hingga saat ini, situasi di Cirebon masih memprihatinkan dengan banyaknya desa yang terendam banjir. Berikut fakta terbaru sejumlah desa di Cirebon terendam banjir, Sabtu (25/1). 

1. Penyebab dan Dampak Banjir di Kabupaten Cirebon

Curah hujan yang sangat tinggi di Kabupaten Cirebon telah menjadi penyebab utama terjadinya banjir besar sejak malam Kamis. Luapan dari tiga sungai utama, yaitu Ciputih, Singaraja, dan Ciberes, memberikan dampak yang cukup signifikan bagi kehidupan masyarakat setempat. Beberapa desa, seperti Pangarengan dan Japura Lor, mengalami genangan air yang mencapai 70 sentimeter di beberapa titik, sehingga memaksa warga untuk menyelamatkan barang-barang berharga mereka.

Banjir ini datang secara tiba-tiba sekitar pukul 03.00 dini hari, saat banyak orang sedang tidur lelap. Kejadian ini tidak hanya berdampak pada rumah-rumah warga, tetapi juga pada sekolah-sekolah, seperti SMPN 2 Pangenan, yang terpaksa menghentikan kegiatan belajar mengajar untuk sementara waktu.

BPBD Kabupaten Cirebon mencatat, total ada 16 desa dari tujuh kecamatan yang terdampak banjir ini. Data dari media sosial BPBD bahkan menyebutkan bahwa angka tersebut bertambah menjadi 16 desa akibat banjir susulan.

Tidak Ada Korban Jiwa

Setelah terjadinya banjir, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan segera beraksi menuju lokasi yang terdampak. Mereka melakukan langkah awal berupa penyisiran untuk mengevakuasi warga yang membutuhkan bantuan. Selain itu, petugas juga memanfaatkan perahu karet untuk menjangkau area yang sulit diakses akibat tingginya genangan air. Tim gabungan tidak hanya membantu mobilitas warga, tetapi juga memastikan bahwa distribusi bantuan seperti makanan, pakaian hangat, dan selimut dapat berlangsung dengan baik.

“Hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa maupun pengungsi akibat banjir tersebut,” ucap Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon Deni Nurcahya dikutip dari ANTARA pada Jumat (24/1). 

Sejak banjir melanda, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan para relawan segera bergerak ke lokasi terdampak. Langkah awal yang dilakukan adalah penyisiran untuk evakuasi warga yang membutuhkan bantuan.

Petugas juga menggunakan perahu karet untuk menjangkau daerah yang sulit diakses akibat tingginya genangan air. Selain membantu mobilitas warga, tim gabungan juga memastikan pendistribusian bantuan seperti makanan, pakaian hangat, dan selimut berjalan lancar.

“Kami langsung melakukan penyisiran untuk evakuasi dan penanganan cepat. Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan keselamatan masyarakat dan penanganan yang efektif,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon Deni Nurcahya di Cirebon. 

Daftar Desa yang Terdampak Banjir

Banjir telah melanda tujuh kecamatan yang mencakup 16 desa, termasuk di antaranya Pangarengan, Japura Lor, dan Buntet. Di Kecamatan Astanajapura, desa-desa seperti Japurabakti dan Mertapada juga mengalami dampak, sementara Desa Gunungsari di Kecamatan Waled menjadi salah satu yang paling parah terdampak. Berikut adalah rincian desa yang terkena banjir:

  1. Di Kecamatan Astanajapura, terdapat lima desa yang terdampak, yaitu Desa Buntet dan Japurabakti dengan ketinggian air mencapai 60 cm, Desa Japura Kidul dan Mertapada dengan ketinggian 40 cm, serta Desa Astanajapura yang mengalami dampak paling parah dengan ketinggian air 70 cm.
  2. Kecamatan Lemahabang juga tidak luput dari banjir, dengan dua desa yang terdampak, yaitu Desa Cipeujeuh Wetan dengan ketinggian air 50 cm dan Desa Tuk Karangsuwung dengan ketinggian 40 cm. Sementara itu, di Kecamatan Waled, tiga desa mengalami banjir dengan ketinggian air yang sama, yaitu 60 cm, mencakup Desa Ciuyah, Mekarsari, dan Gunungsari.
  3. Di Kecamatan Pasaleman, dua desa terdampak banjir, yaitu Desa Cilengkrang Girang dengan ketinggian air 30 cm dan Desa Babakan Losari Lor dengan ketinggian 40 cm. Di Kecamatan Karangwareng, hanya satu desa yang terpengaruh, yaitu Desa Jatipiring dengan ketinggian air mencapai 30 cm.
  4. Di Kecamatan Pangenan, tiga desa juga mengalami banjir, yakni Desa Astanamukti dan Japura Lor dengan ketinggian air masing-masing 30 cm, serta Desa Pangarengan yang terdampak parah dengan ketinggian air mencapai 70 cm.

Menurut informasi dari BPBD, banyak rumah dan fasilitas umum di desa-desa tersebut terendam air, yang mengakibatkan warga harus menunda kegiatan sehari-hari. Jalan Pantura yang merupakan jalur utama juga terendam, sehingga menghambat mobilitas kendaraan di wilayah tersebut.

Langkah Antisipasi untuk Mengurangi Risiko Banjir di Masa Depan

BPBD Kabupaten Cirebon telah merumuskan rekomendasi strategis untuk menghindari terulangnya bencana serupa di masa yang akan datang. Salah satu langkah kunci yang diambil adalah melakukan normalisasi sungai serta rehabilitasi lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS).

Selain itu, meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat melalui pelatihan terkait kebencanaan juga menjadi fokus utama. Untuk itu, sosialisasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan pengelolaan drainase akan dilaksanakan secara bertahap.

Kejadian Serupa Sebelumnya di Awal 2025

Banjir pada Kamis malam bukanlah yang pertama melanda Kabupaten Cirebon pada Januari 2025. Sebelumnya, banjir bandang juga terjadi pada 17 Januari, yang berdampak pada lima kecamatan dan menyebabkan 2.430 warga terdampak. Penjabat Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya, menyatakan bahwa intensitas hujan yang tinggi membuat beberapa sungai di wilayah itu tidak mampu menahan debit air.

Q: Apa penyebab utama banjir di Cirebon pada Januari 2025?

Curah hujan yang sangat tinggi menyebabkan meluapnya tiga sungai utama, yaitu Ciputih, Singaraja, dan Ciberes.

Q: Berapa desa yang terdampak banjir di Cirebon?

A: Total ada 16 desa di tujuh kecamatan yang terendam air.

Q: Apa langkah penanganan yang dilakukan BPBD?

A: BPBD melakukan evakuasi warga, distribusi bantuan logistik, dan koordinasi dengan TNI serta Polri.

Q: Apa yang direkomendasikan untuk mencegah banjir di masa depan?

A: Normalisasi sungai, rehabilitasi lahan DAS, dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Rekomendasi