Pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, kembali menjadi sorotan. Lembaga pendidikan ini menjadi perhatian seperti pada tahun 90-an.
Lembaga pendidikan Al-Zaytun kembali diperbincangkan setelah ramainya kegiatan salat Idulfitri yang mencampurkan perempuan dan laki-laki. Kemudian berlanjut pengakuan pemimpinnya, Panji Gumilang atau Abu Toto sebagai komunis, sampai menggunakan salam Yahudi.
Merdeka.com berkesempatan berbincang dengan salah satu alumni Al-Zaytun yang mengaku bernama Rizal. Untuk menjaga kerahasiaan dan keamanan narasumber, penulis tidak bisa mencantumkan angkatan atau tahun berapa belajar di Al-Zaytun.
Rizal mengaku sebagai alumni Al Zaytun yang dicap sebagai pembangkang, sehingga beberapa tahun sejak keluar dari lembaga pendidikan itu dia tidak bisa datang untuk bersilaturahmi dengan guru atau mengenang masa belajar dulu. Dengan cap tersebut, ia pun mengaku bukan bagian dari Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW-9).
Advertisement
Awal belajar di-Al Zaytun, Rizal tidak merasakan keanehan dari sistem pembelajaran. Prosesnya berjalan sebagaimana umumnya, seperti di sekolah atau pesantren pada umumnya.
Setelah lulus, ia pun kemudian sempat belajar di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Namun walau begitu, ia memang menemukan beberapa kejanggalan.
"Ada beberapa orang yang kalau bertemu suka bertanya, saya MK atau MD. Sampai kemudian MK dan MD itu adalah kode untuk Makkah atau orang non- NII dan MD adalah kode Madinah yang bermakna orang internal NII atau bisa dikatakan sebagai kader," kata Rizal.
Kode MK disebutnya diambil dari kaum Muhajirin atau orang yang berhijrah dari Makkah. Sedangkan MD adalah kaum Anshar atau penolong yang ada di Madinah.
Untuk santri yang memiliki kode MD, menurutnya memang selama ini kerap melaksanakan kegiatan terpisah dengan santri yang dicap MK. Kegiatan-kegiatan itu pun kemudian diketahui sebagai pengajian khusus kelompok NII.
Advertisement
Selama di Al-Zaytun, ia tidak terlalu ambil pusing dengan segala doktrin NII yang diberikan pihak pesantren. Proses doktrin itu pun menurutnya tidak terlepas dari orang yang memiliki panggilan Abu Tsabit.
"Selama mondok di sana, jujurnya saya lebih banyak fokus menikmati fasilitas yang ada di Al Zaytun, karena segalanya memang ada. Tapi dapat kabar terakhir sekarang fasilitas-fasilitas itu banyak yang tidak terawat karena minimnya dana," ungkapnya.
Isu minimnya dana Al Zaytun, menurut Rizal, sudah diketahui oleh banyak alumni. Hal tersebut pun yang olehnya, termasuk alumni menduga apa yang dilakukan Panji Gumilang adalah bagian dari upaya untuk mencari pendana baru.
Pengakuan Panji Gumilang sebagai komunis, pengakuan kaum Yahudi, dan lainnya diduga menjadi salah satu upaya dalam mencari dana. "Bahkan anaknya Abu Tsabit menikah dengan orang Yahudi, anaknya Panji Gumilang yang mau nyalon di DPR-RI juga di media sosialnya kerap membahas Yahudi. Itu ya biar bisa dapat dana dari Cina dan Israel," ucapnya.
Advertisement
Saat ini, kata Rizal, cukup banyak alumni Al-Zaytun yang sebelumnya bergabung dengan NII sudah kembali ke jalan yang benar. Walau begitu, ada juga yang masih bertahan dan kemudian memilih berlindung di kelompok Syiah.
"Ada juga alumni yang sekarang masih mengajar di Al-Zaytun namun sudah terjebak tidak bisa keluar. Terjebaknya sebetulnya bukan karena apa, karena kehidupan mereka selama ada di sana itu terjamin oleh pesantren, baik dari sisi kesehatan, pendidikan, bahkan juga makan," jelasnya.
Alumni Al-Zaytun yang masih berpegang dengan ke-NII-annya menurutnya saat ini masih cukup banyak. Di Garut saja, beberapa di antara ratusan alumni ada yang masih berpegang teguh dengan pemahaman NII-nya.