Likuifaksi atau tanah bergerak mengancam sedikitnya 13 rumah di Desa Bekirig Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo terus memantau perkembangan likuifaksi tersebut.
"Kami terus amati dan nyatanya ada tambahan retakan sporadis di beberapa titik yang kami pantau," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ponorogo, Sapto Jatmiko, dikutip Sabtu (13/5).
Dia mengatakan, kondisi retakan tanah yang berdampak terhadap bangunan warga semakin parah usai turun hujan dengan intensitas sedang selama tiga hari terakhir.
"Tambahan retakan baik yang lebar maupun turun hingga lima centimeter," kata Sapto, dilansir dari Antara.
Dia menjelaskan, sebenarnya kondisi tanah retak sudah berlangsung sejak 2018. Sempat terhenti, retakan kembali terjadi pada 30 Maret 2023 dan terus bertambah seiring curah hujan yang tinggi 1-3 bulan terakhir.
"Dari situ kami lakukan pemantauan. Ada enam titik yang diberi patok untuk dipantau. Kami beri nama titik A, B, C, D, E dah F," paparnya.
Advertisement
Sapto merinci, dari hasil pengelompokan tersebut, titik A mengalami penurunan 0 cm melebar 2 centimeter, titik B penurunan 0 centimeter melebar 0 centimeter, titik C penurunan 1 centimeter melebar 2 centimeter.
Kemudian, titik D penurunan 2 centimeter melebar 1 centimeter, titik E penurunan 0 centimeter melebar 0 centimeter serta titik F penurunan 5 centimeter melebar 1 centimeter.
"Setiap titik berbeda tingkat pertambahannya, yang paling besar di titik F tambah 5 centimeter," paparnya.
Akibat peristiwa tersebut, sejumlah rumah warga mengalami retak. Sedangkan rumah yang terancam terdampak ada sebanyak 13 rumah. Kendati demikian, masyarakat masih belum melakukan pengungsian, tapi dirinya tetap mengimbau agar warga tetap siaga dan selalu waspada.
"Cuaca masih belum bisa diprediksi, saya himbau warga selalu waspada dan siaga terutama saat terjadi hujan," ujarnya.