Pakar Nilai Covid-19 Naik karena Arcturus, Minta Vaksinasi Digalakkan Lagi

Pakar ilmu kesehatan yang juga Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama mengatakan, kenaikan Covid-19 ini dipicu subvarian Omicron XBB.1.1 atau Arcturus.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Pakar Nilai Covid-19 Naik karena Arcturus, Minta Vaksinasi Digalakkan Lagi
Tes GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen. ©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Kasus Covid-19 di Indonesia kembali meningkat. Pakar ilmu kesehatan yang juga Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama mengatakan, kenaikan ini dipicu subvarian Omicron XBB.1.1 atau Arcturus.

"Saat ini terjadi peningkatan kasus Covid-19 yang dipengaruhi Subvarian Arcturus,” kata Tjandra dikutip Sabtu (29/4).

Dia mendorong pemerintah kembali menggalakkan pelaksanaan vaksinasi lengkap dan booster pertama sampai kedua. Vaksinasi dinilai bisa mengurangi risiko sakit berat bagi masyarakat yang terpapar Covid-19.

“Harus kembali menggalakkan vaksinasi booster kedua, yang sekarang sudah tidak banyak dibicarakan lagi," ujarnya.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini mengatakan, sebelum Lebaran Idulfitri 2023, beberapa kali kasus menyentuh angka 1.000. Sementara saat Lebaran, data kasus sempat menurun, diduga akibat pemeriksaan Covid-19 juga berkurang. Namun setelah itu, kasus kembali di atas 1.000.

Tetap Pakai Masker

Tjandra berbicara kondisi Covid-19 di sejumlah negara seperti India dan Singapura. Menurutnya, Covid-19 di negara tersebut juga meningkat karena subvarian Arcturus.

Dia mengatakan, pakar University of Tokyo menyebut Arcturus lebih menular 1,17 sampai 1,27 kali dari varian yang ada sebelumnya, Kraken. Untuk itu, dia mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia dan penderita komorbid untuk lebih hati-hati.

"Pakai masker di ruang tertutup dan kerumunan, melakukan vaksinasi booster," katanya.

Tjandra juga meminta jumlah pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) ditingkatkan sehingga bisa diketahui pola varian yang ada. Termasuk mendeteksi ada tidaknya varian baru.

Secara terpisah, Epidemiolog dari Universitas Airlangga Surabaya Windhu Purnomo pun meminta masyarakat tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan. Di tempat umum yang ramai, tempat ibadah, dan transportasi umum, tetap pakai masker.

"Kemudian lengkapi vaksinasi kita, terutama untuk usia 18 tahun ke atas dengan booster, paling tidak booster pertama. Kalau kita sudah booster pertama, dan sudah waktunya booster kedua, ya kita vaksinasi booster kedua," ujarnya.

Rekomendasi