Suplai daging sapi dan babi di Kalimantan Barat (Kalbar) berasal dari sejumlah daerah. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar Heronimus Hero mengungkapkan, sejumlah daerah penyuplai adalah Bali, Lampung dan Batam.
"Kalau sapi kita baru mencukupi 50 persen, termasuk juga babi kita mendatangkan dari luar karena demam babi afrika ini masih dan mungkin tahun depan kita baru bisa memulai. Pola kita yang sebelumnya sampai kita bisa mengekspor dari 160 ribu populasinya kemudian kebutuhan kita sekitar 80 ribu, kita ekspor. Sekarang kita habis, otomatis kita mendatangkan dari luar, dari Bali, Lampung, Batam juga ada," kata Hero di Pontianak, Rabu (8/3).
Dia mengungkapkan, ketersediaan stok pangan seperti daging ayam aman dan bahkan surplus. "Kita yang surplus hanya daging ayam, telur pas-pasan, yang lain kita masih mendatangkan dari luar," ucapnya.
Hero melanjutkan, untuk daging ternak potong ada yang didatangkan dari Bali, NTT, NTB, dan Lampung.
"Kalau yang beku dari impor juga banyak, tergantung kebutuhan dan pelaku usaha yang mendatangkannya," terangnya.
Sedangkan untuk minyak goreng (migor), Hero menyebut saat ini dalam keadaan surplus. Hanya saja memang ada perhitungan ekonominya yang akan menyebabkan kenaikan harga pada minyak goreng.
"Kalau harga CPO mahal, mereka harus olah migor lalu dimurahin kan harus disubsidi, ini kan keputusan pemerintah. Sejauh ini, subsidi untuk masyarakat kan ada lewat minyak kita yang sudah diproduksi dari perusahaan-perusahaan, dan itu sudah disubsidi pemerintah," sebut Hero.
Dia juga memastikan minyak goreng subsidi hanya ada di pasar tradisional, dan tidak masuk ke supermarket yang memang diperuntukkan untuk minyak premium.
"Subsidi ini di pasar-pasar tradisional. Tinggal pengawasannya saja supaya tidak merambah ke pasar ritel modern. Rakyat kurang mampu ingin beli migor yang harganya 14-15 ribu. Mudah-mudahan migor tetap ada di pasar tradisional dan tidak masuk ke supermarket, minimarket, dan lain-lain yang memang itu peruntukannya untuk premium," tukas Hero.